Thursday, July 24, 2014

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih?



 
(sumber gambar: the-marketeers.com)
Terpilihlah sudah Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia masa bakti 2014-2019. Joko Widodo ialah orang yang ditunjuk mayoritas rakyat untuk menjadi pemimpin negara tercinta ini. Sebuah nama yang sederhana, nama orang kebanyakan, tanpa nuansa ningrat atau kebangsawanan.
Sebelum bermuara di keputusan resmi KPU tanggal 22 Juli 2014 tentang rekapitulasi final penghitungan suara pemilihan presiden, Bangsa Indonesia selama beberapa bulan ke belakang mengalami euforia politik. Segenap rakyat antusias menghadapi gelaran lima tahunan itu. Debat kusir, analisis, ramalan, puja-puji dan hujatan lalu lalang di beragam jenis media. Pengamat-pengamat politik betulan dan karbitan bermunculan membawa opini masing-masing dengan kadar kualitas kebenaran yang entah.
Pilpres 2014 adalah pilpres yang melelahkan secara emosional. Pendukung kedua kubu capres berperang di beragam lingkup. Tidak sedikit konflik terjadi karena merasa capres yang dibelanya adalah sosok terbaik yang harus dipilih. Pendukung kedua kubu sampai membabi buta membela capres jagoannya, yang faktanya, mereka bahkan belum pernah berjumpa apalagi mengenal sang capres secara personal. Banyak sekali harga yang harus dibayar untuk kegiatan dukung-mendukung itu. Antar saudara congkrah, sejawat sepergaulan dihapus dari daftar pertemanan, bahkan konon sampai terjadi perceraian suami istri. Sungguh suatu kesia-siaan yang nyata.
***
Jokowi adalah anomali. Ia merupakan produk anyar jaman ini yang menghentak peta perpolitikan dan kepemimpinan nasional. Jati dirinya bahkan sampai sekarang belum tuntas untuk diselami. Namun, ia secara meyakinkan tampil menjadi kapten kapal besar bernama Indonesia.
Jika kita tilik ke belakang, kiprah Jokowi dihitung dari nol tahun di 2005, maka sampai sekarang ia baru selama sekitar sembilan tahun duduk di dunia politik praktis pemerintahan. Sebagaimana diketahui, karir politik Jokowi diawali dari Surakarta, lalu sebentar dan belum purna di Jakarta, tiba-tiba naik ke puncak tertinggi RI 1. Lancar sekali jalannya dan relatif tanpa gangguan.
Menurut istilah saya, Jokowi telah mengobrak-abrik “pakem” yang harus ditempuh seseorang untuk menduduki tampuk kepemimpinan puncak nasional. Bandingkan dengan panjangnya perjalanan yang harus ditempuh presiden-presiden sebelumnya, maka kita akan sadar, betapa Jokowi seolah didukung semesta untuk dengan mudahnya meraih kursi presiden. Tak berlebihan rasanya jika Jokowi disebut sebagai fenomena.
Ijinkan saya melakukan komparasi antara Jokowi dan presiden yang sebentar lagi akan digantikannya, SBY. SBY sebelum menjadi presiden sudah sekian kali menduduki kursi menteri dan jabatan strategis di TNI. Bahkan ia pun seorang doktor ekonomi pertanian dari IPB. SBY juga seorang jenderal yang mengawali kiprah kemiliterannya dari lulusan terbaik Akademi Militer Magelang pada tahun 1973. SBY juga memiliki prejengan yang meyakinkan, tinggi besar, gagah dan tampan. Tutur bahasanya runut dan sistematis. Kemampuan English-nya tak perlu diragukan. Dengan latar belakang seperti itu, siapapun akan setuju-setuju saja jika SBY menjadi presiden.
Sedangkan, siapa Jokowi? Ia “hanya” seorang pengusaha meubelair di Surakarta. Ia “cuma” lulusan S1. Awal karirnya pun dari jabatan sekelas walikota kota kecil selama dua periode, itu pun tidak rampung. Disusul kemudian, sekejap mencicipi jabatan DKI 1 selama kurang lebih dua tahun. Walau secara jernih, Jokowi harus kita akui cukup berprestasi dalam memimpin dua daerah tersebut.
Secara figur dan penampilan, Jokowi juga bukan seorang pemimpin yang mempesona. Ia bertubuh ramping, jika tidak boleh disebut kerempeng. Menurut wanita-wanita di sekitar saya, ia juga bukan lelaki yang tampan, gagah, kharismatis dan perlente. Cara berpakaiannya biasa saja. Teknik berbicaranya perlahan dan tidak menggetarkan. Keterampilan Bahasa Inggris-nya pun sedang-sedang saja.
Begitulah hasil perbandingan Presiden SBY dan tokoh yang akan menggantikannya per Oktober nanti. Secara logika nalar rasional, tampak sekali bahwa tataran Jokowi jika dibandingkan head-to-head dengan SBY, akan tertampil gap yang cukup mencolok. Tapi, yang perlu ditekankan, perbandingan di atas adalah hal yang tampak oleh mata manusia biasa, yang samar kebenarannya dan subjektif penetapan standarnya. Jadi, komparasi dan pengukuran di atas terhadap diri Jokowi, tak bisa dijadikan acuan valid untuk digunakan sebagai pisau analisis dalam kasus copras-capres ini.
Karena manusia lemah dalam mengukur, berpihak dalam menilai dan jauh dari kebeningan hati dalam merasa, maka satu-satunya cara untuk menakar Jokowi adalah dengan “mengira-ngira” apa maunya Tuhan. Jokowi yang jenjang kariernya sangat singkat, yang secara gelar akademik hanya S1, yang secara penampilan biasa saja melesat menjadi presiden, maka mengapa itu bisa terjadi, jawabannya adalah: “Kalau Tuhan maunya begitu, kita mau apa?”
Lihat bagaimana jutaan orang yang sebelumnya bahkan mendengar nama Jokowi saja tidak pernah, tapi sekonyong-konyong mereka begitu mencintainya. Dimana-mana rakyat selalu menyambutnya dengan suka cita. Jokowi menjadi idola baru. Relawan muncul di seluruh pelosok Indonesia untuk memperjuangkan pencapresannya. People power sungguh terasa di masa pencapresannya. Berjuta orang menyebut-nyebut nama Jokowi, segala harapan disampirkan di pundaknya. Mana mungkin itu terjadi jika Tuhan tidak berkenan menyisipkan rasa cinta kasih di hati jutaan rakyat untuk Jokowi?
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, “Ada maksud apa dibalik keputusan Tuhan memilih Jokowi untuk memimpin negeri ini?” Karena keterbatasan kita sebagai manusia yang apa-apa hanya bisa menduga, berprasangka dan mengucap semoga, akhirnya kita hanya bisa memohon dan berprasangka baik bahwa Jokowi adalah hadiahNya untuk Indonesia. Semoga di bawah kepemimpinan Jokowi, Indonesia menjelma menjadi negara yang semakin hebat dan bisa mewujudkan Indonesia sesuai cita-cita bangsa yang tercantum alinea II Pembukaan UUD 1945 yaitu menjadi negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur; dan tujuan bangsa yang tercantum di alinea IV Pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
***
Di luar segala kemungkinan yang akan terjadi di Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi, Jokowi adalah simbol yang patut kita banggakan. Karena ia adalah presiden pertama yang dianggap sebagai representasi wong cilik. Di samping penampilannya yang apa adanya dan identik dengan penampilan wong ndeso, Jokowi juga presiden yang datang bukan dari klan keluarga bernama besar seperti presiden-presiden pendahulunya. Jokowi datang dari keluarga sederhana seperti sebagian besar dari kita. Jokowi menjadi tonggak bahwa di masa depan, siapapun dari kalangan apapun, memiliki probabilitas untuk menjadi presiden.
***
Dengan metode pikir yang selalu menyertakan pertimbangan logika sekaligus spiritual, maka permusuhan yang diakibatkan urusan jago-menjago capres menjadi hal yang sepatutnya tidak terjadi. Karena kita sebetulnya tidak pernah bisa mengetahui kejadian apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Lebih bijak kita berkarya sebaik mungkin di bidang kita masing-masing, yang pada gilirannya hasil cipta, rasa dan karsa kita akan berimbas pada kejayaan bangsa.
Sekarang yang harus kita lakukan adalah menciptakan kedamaian dan kondusivitas demi terciptanya iklim kebangsaan yang baik. Jokowi sebagai manusia yang demikian dicintai oleh banyak orang, jelas memiliki kekurangan dan kelebihan. Maka tugas kita sekarang adalah bukan membenci atau mencintainya mati-matian, tetapi mari kita dukung Bapak H. Ir. Joko Widodo untuk memimpin NKRI, sambil selalu mengawasi kinerjanya sesuai kapasitas kemampuan dan kewenangan kita masing-masing sebagai rakyat Indonesia.
Selamat kepada Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Selamat bertugas. Jayalah Indonesia!



No comments:

Post a Comment