Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2020

Aku Olahraga Maka Aku Ada

 

(sumber gambar: resaja.com)

Tahu, semua orang pasti tahu betapa pentingnya olahraga. Namun, tak banyak yang rutin melakukannya. Alasannya macam-macam. Mulai dari tidak sempat, sampai alasan paling tidak bisa digugat: malas.

Angeeeel. Wis angeeeel..

Berdasar data Badan Pusat Statistik tahun 2018, hanya 35,7% penduduk Indonesia yang aktif berolahraga. Tak sampai separuh!

Persentase itu sudah bertambah dibanding data tiga tahun sebelumnya. Cuma 27,6% penduduk Indonesia yang aktif olahraga pada tahun 2015. Semoga data tahun 2019 dan setelahnya menampilkan angka yang menggembirakan.

***

Sejak kecil, saya disuguhi pemandangan yang tak pernah jauh dari nuansa sporty. Orang-orang terdekat menampilkan lingkungan yang positif dan sehat. Siapa lagi kalau bukan kedua orang tua saya.

Mereka sosok yang sadar pentingnya olahraga. Karena sadar saja tidak cukup, mereka juga mempraktikkannya. Bapak sejak muda sudah menekuni bermacam olahraga. Tapi saya hanya menangi saat beliau menekuni sepeda, lari, dan sempat diselingi angkat beban. Sejak saya lahir sampai sekarang, beliau tidak berhenti. Sampai tadi pagi.

Selain aktif dalam PKK dan Dasa Wisma, ibu saya pegiat senam aerobik. Beliau terdaftar sebagai member sebuah sanggar senam milik seorang juragan emas. Sekarang, berdua bersama bapak, beliau rutin jalan pagi.

***

Era 90-an sampai awal 2000-an adalah era yang menguntungkan untuk selalu bergerak. Handphone belum umum, sepeda motor masih cukup mahal untuk dimiliki. Internet bahkan belum sedikit pun menyentil panca indera. Semua menuntut gerak fisik untuk mobilitas harian.

Sebagai produk era itu, saya masih merasakan bersekolah jalan kaki dan bersepeda. Jam rehat diisi sepak bola atau petak umpet. Sorenya begitu lagi bersama teman-teman ngaji.

Saking sukanya sepak bola, saat SD saya memohon didaftarkan sekolah sepak bola (SSB). Ketika itu pasca Piala Dunia 1998. Dunia terkena demam bola, tidak terkecuali saya.

SSB menjawab impian para bocah untuk meniru gocekan para idola. Saya ingin bisa seenergik Michael Owen, segarang Gabriel Omar Batistuta, dan setampan David Beckham.

Sampai SMP saya masih sepak bola, tapi tidak serutin saat SD. Berangkat dan pulang sekolah jalan kaki atau nyepeda. Saat libur, lari bersama bapak atau bersepeda bersama teman selalu awali hari.

Nah, saat SMA, saya mulai jarang olah raga. Jarak sekolah sekitar 22km membuat waktu dan tenaga tersita. Belum lagi ditambah jadwal ekstra kurikuler dan bimbingan belajar. Rasanya, saat itu yang rutin bergerak hanya jari tangan untuk mencatat pelajaran.

Seingat saya, frekuensi olahraga saya jauh berkurang semasa SMA. Sesekali bersepeda, sesekali sepak bola, dan jarang lari pagi.

Sementara, bapak dan ibu terus saja. Tak pernah berhenti. Padahal, khususnya bapak, bekerja sangat sibuk. Tapi tetap saja, tak banyak alasan. Lari terus, sepeda terus.

***

Data berbicara hanya 35,7% penduduk Indonesia yang aktif olahraga. Itu berarti hanya sekitar sepertiga seluruh penduduk. Itu sungguh sedikit, tapi saya percaya data itu.

Bukti empiris yang saya miliki, bapak bersama kelompoknya yang tak sampai belasan orang itulah sedikit dari penduduk di tempat tinggal saya yang aktif olahraga. Mereka sangat istiqomah.

Jika dikerucutkan kembali dari sekian orang itu, yang betul-betul tak kenal lelah hanya sekitar separuhnya. Salah satunya, bapak.

Jadi, memang betul, tidak banyak orang yang konsisten dan persisten berolahraga. Saya beruntung memiliki teladan langsung dan dekat.

Dikira berusia lebih muda dari usia sebenarnya, menjadi kebiasaan bapak. Saat pensiun sekitar tujuh-delapan tahun lalu, semua temannya berkata beliau belum pantas. Itulah sedikit dari banyak efek positif perjuangan olahraga berpuluh tahun.

***

Saat kuliah, praktis saya sama sekali tidak berolahraga. Kuliah di IPB sangat jauh dari stereotype kuliah yang tampak di FTV. Nihil santai-santai, apalagi mbolas-mbolos.

IPB membuat makalah dan tugas menjadi nama tengah kami. Hidup berada dalam tempo yang sangat kencang. Bagi saya, yang dikirim jauh-jauh ke sana khusus untuk berkuliah, olahraga hanya membuang waktu.

Hasilnya, dipikir-pikir, saat itu saya tidak bugar. Semua tampak dari foto-foto masa itu yang tampak lusuh dan kuyu.

Saat bekerja dan kemudian menikah, kenaikan berat badan menjadi isu terbesar. Ada masanya celana mulai sesak. Memang, selain sedikit berbakat musik, saya berbakat gemuk.

Gemuk identik dengan tidak sehat dan kurang eloknya penampilan. Ditambah, adanya penelitian yang menyatakan, semakin besar lingkar pinggang semakin tinggi risiko mengidap penyakit berbahaya.

Memang, pria yang sudah menikah hidupnya ayem tentrem. Yang masakin ada, uang tersedia, beli makanan yang diinginkan bisa. Saat itulah, jika tidak dikontrol, perut semakin tak terkendali. Kancing baju pun meronta-ronta.

Mulai, saya berusaha merutinkan lari pagi. Di kantor dibangun lapangan futsal. Membuat kami bermain seminggu dua kali. Di akhir minggu, ditambah jalan atau jogging.

Hampir dua tahun kelompok futsal kami meredup. Sosok yang mengomandani dan membimbing sudah purna. Vakum.

Saya memilih menggantinya dengan perpaduan High Intensity Interval Training (HIIT) dan angkat beban seminggu tiga kali. Ditambah sekali bersepeda.

***

Dengan rutin olahraga, flu jarang menyerang. Berat badan stabil terjaga.

Olahraga tak hanya sebabkan jarang sakit. Ia membuat bugar. Bugar setingkat di atas sehat. Jika sehat sekadar tidak berpenyakit, bugar itu tubuh terasa segar. Fit.

Olahraga menjadikan tidur dan makan mencapai standar baru. Tidur lebih pulas, makan makin enak. Percayalah.

Olahraga juga bertanggung jawab atas meningkatnya hormon endorfin, dopamin, dan serotonin. Endorfin membuat kita bahagia dan menurunkan stres. Dopamin pun sama, mengatur agar hati jadi happy. 

Serotonin berperan mengatur emosi, daya ingat, dan menurunkan kadar stres pada tubuh akibat kelelahan fisik. Pada gilirannya, dopamin dan serotonin bekerja sama mengatur mood, melahirkan perasaan senang, dan menciptakan pikiran positif.

Satu lagi, jika selama ini kalimat “demi bangsa dan negara” terdengar ndhakik-ndhakik dan mengawang-awang, olahraga membuatnya membumi. Dengan olahraga, setidaknya kita tidak menambah beban jaminan kesehatan yang negara berikan.

Bayangkan jika semakin banyak penduduk berolahraga. Lalu menjadi gerakan yang masif. Semakin banyak penduduk yang bugar dan berpikiran positif, Indonesia akan menjadi bangsa yang senantiasa produktif dan berdaya saing.

***

Gerak itu tanda hidup. Gerak itu olahraga. Hidup harus olahraga. Aku olahraga, maka aku ada.

Kamis, 09 Juli 2020

Sepeda-sepedaku dan Cerita yang Mengitarinya

[sumber: clipartkey.com]

Bersepeda akhir-akhir ini menjadi gaya hidup semua lapisan masyarakat. Tua muda, besar kecil, pria wanita ramai-ramai gowes. Entah dengan sepeda baru atau perbaiki barang lama yang terbengkalai.
Berdasar pengamatan saya, sepeda kembali menjadi tren menjelang akhir 2019. Ada yang bilang, tren bertonggak pada Jambore Sepeda Lipat Nasional (Jamselinas) ke-9 di Palembang, September 2019. Lalu pada Desember, diperbesar dengan kasus penyelundupan Brompton oleh petinggi Garuda Indonesia.
Mulai dari sana, sepeda makin dilirik. Ditambah embel-embel harga selangit sepeda handmade Inggris itu, orang semakin penasaran dan antusias.
Sepeda kian mendapat tempat saat pandemi Corona menyebabkan aktivitas tidak berjalan sebagaimana biasa. Waktu kosong semakin banyak tersedia. Sepeda dianggap sebagai pelarian positif.
***
Saya bisa kendarai sepeda saat masih TK. Sepeda pertama yang saya punya berjenama Triumph. Gagah dan bercat oranye menyilaukan.
Guru bersepeda saya tentu Bapak. Saat sudah bisa, tengah hari bolong yang terik tak saya pedulikan. Ibu berteriak mencegah tak saya hiraukan. Rute saya sebenarnya tak jauh. Hanya di gang sebelah rumah sampai gang sebelah sananya. Euforia dan sensasinya masih terasa.
Sepeda kedua dibelikan Bapak saat kelas dua SD. Berukuran lebih besar daripada sebelumnya. Merk Mustang. Berwarna ungu tua. Sangat elegan dan menggetarkan.
Seingat saya, Mustang saya pakai tak sampai dua tahun. Saat kelas tiga, Bapak menggantinya dengan sepeda yang saat itu sangat hype. Sebuah merk yang lekat dengan karakter domba heeebooh~
Ya betul, sepeda saya berikutnya Wim Cycle BMX dengan sadel melayang. Lagi-lagi berwarna ungu tua. Kali ini lebih glossy dan mevvah.
Wim Cycle seri itu menjadi standar kekerenan bocah SD di masanya. Saya dan kakak sepupu beruntung bisa memiliki. Sadelnya dipasang di atas sebuah besi diagonal dan benar-benar diposisikan melayang. Untuk menjaga kenyamanan, di bawahnya dipasang karet kerucut sebagai tumpuan. Mirip bentuk suspensi Brompton.
Saat dinaiki, pasti membuat bocah-bocah lain menoleh. Saya jadi merasa piye begitu. Tapi, sepeda itu tak lama saya miliki.
Entah karena saya merengek, atau Bapak berkomitmen menjaga kekerenan anaknya, saya lupa. Setelah setahun, ia dilego dan ditukar dengan sepeda nge-hits berikutnya.
Generasi 90-an selain mengenal Wim Cycle seri ungu, pasti akan mengingat sepeda Tiger. Itulah sepeda saya selanjutnya. Bergenre BMX (Bicycle Motor Cross), bercat hijau berpadu ungu terang. Sangat eye-catching.
Tapi, daya tarik Tiger bukanlah warna. Selling-point-nya berada di peredam kejut (shock-breaker) yang dipasang mendatar, persis di bawah rangka utama. Setahu saya, saat itu, Tiger sepeda pertama yang memiliki ide untuk mengawinkan model BMX dengan shock-breaker.
Dengan Tiger, kekerenan berhasil dipertahankan, bahkan naik setingkat di atas Wim Cycle. Tapi, masa bulan madu bersama Tiger hanya sekejap.
Rupanya, ia miliki kelemahan di bagian pengelasan. Sambungan antara rangka belakang dan rangka yang menopang sadel retak. Terpampang nyata dan meresahkan. Membuat galau bukan kepalang.
Sepeda, bagi bocah laki-laki, merupakan benda kesayangan. Pikiran belum terpecah dalam bermacam kebutuhan dan keinginan. Walhasil, sepeda mendapat porsi perhatian teratas. Saya langsung over-thinking.
Bayangkan, sepeda terkeren di jamannya, yang punya pun hanya dua anak sesekolahan. Tiba-tiba, dipaksa keadaan harus rusak. Kecewa tiada tara.
Karena rumah terletak tak jauh dari Pak Wawan, maestro las karbit, tak ambil tempo panjang, Tiger yang retak tulang dibedah. Tak sampai hitungan hari, sepeda berhasil kembali ke pelukan.
Sebagaimana layaknya luka, pasti timbulkan bekas. Demikian juga bagi Tiger, bekas las merenggut ketampanannya. Tiger yang mempesona dengan warna cemerlangnya, harus tampil muram dan beraura kelam.
Karena pernah retak, rasa mengendarainya tak lagi sama. Kecemasan selalu menyertai. Tiap usai menaikinya, mata langsung terarah ke bekas pengelasan. Saya ngeri tiba-tiba patah, pun khawatir retakan muncul lagi. 
Secara tampilan dan rasa, Tiger sudah berbeda. Ia menjelma seekor macan tua. Mengembalikan seperti sebelumnya tentu tak bisa. Pilihan jatuh pada mengubah menjadi wujud anyar. Tiger dicat ulang dengan warna berbeda.
***
Sepeda sama sekali bukan barang baru bagi saya. Saya dibesarkan oleh Bapak yang pecinta olahraga. Mulai karate, silat, lari, badminton, dan tentu saja sepeda semua pernah ditekuni beliau. Saat saya usia balita, Bapak sedang gandrung bersepeda.
Di penghujung akhir 80-an, harga minyak naik. Pemerintah merespon dengan galakkan bersepeda. Dengan bersepeda, konsumsi bahan bakar minimal dapat sedikit dihemat. Acara fun bike banyak dihelat.
Bapak menjadi satu dari sekian ribu peserta fun bike. Beliau memilih sepeda buatan merk ban tenar asal Jepang, Bridgestone. Berkelir hitam dengan variasi tulisan hijau tosca.
Tak tahu mengapa beliau memilihnya. Yang saya ingat, sahabatnya, seorang pengusaha beretnis Tionghoa, juga memiliki sepeda bermerk sama. Hanya saja berbeda seri dan warna.
Di akhir 2010, sepeda itu dijual ke saudara dengan harga yang terhitung masih tinggi. Beliau menggantinya dengan merk Merida. Sepeda asal Taiwan perpaduan hitam dan hijau stabilo. Segar sekali. Sampai sekarang masih dipertahankan.
***
Indonesia pernah berbangga melalui sepeda merk Federal. Astra yang dikenal sebagai produsen motor dan pemegang banyak merk mobil, pada 1983 tergoda memproduksi sepeda. Sempat sangat berjaya, bahkan diekspor ke beberapa negara.
Federal, pada awal masa edarnya sempat alami kesulitan pemasaran. Lalu, sampai menumpang jual pada agen motor Honda, dan dibantu trik marketing dengan adakan acara-acara bersepeda. Kontan, penjualan Federal meledak.
Bukti ketenaran dan kekuatannya, di awal 90-an orang menyebut sepeda gunung merk apapun dengan sepeda Federal. Macam orang menyebut pompa air dengan Sanyo, mengucap air mineral dengan Aqua. Bukti kemasyhuran merk yang melekat kuat di kepala.
Federal harus meregang nyawa di 1996. Mereka menyerah dan tak berproduksi lagi. Dikabarkan, produsen sepeda Indonesia mendapat sanksi dari Eropa karena lakukan praktik dumping. Sejak itu, Federal tamat riwayat, sebelum akhirnya bangkit tahun ini lewat proses restorasi para pecinta dan pewarisnya.
Sejatinya, Indonesia bukan negara sembarangan dalam memproduksi sepeda. Indonesia patut berbangga karena memiliki merk dalam negeri yang bisa diandalkan. Sebut saja Wijaya Indonesia Makmur (Wim) Cycle, Polygon, United (PT. Terang Dunia Internusa), Element, Thrill, dan Pacific.
Selain berhasil menjual dengan jumlah angka yang tinggi di dalam negeri, mereka telah sanggup mengekspor ke banyak negara. Bahkan, Polygon sempat menjuarai beberapa event kelas dunia.
Cerita termutakhir (setidaknya sampai akhir 2019), Wim Cycle alami kesulitan keuangan dan berhenti produksi. Mereka tak mampu bersaing dengan merk lain dan sepeda impor asal China. Polygon, melalui PT. Insera Sena, disebut-sebut ingin tampil menyelamatkan.
Menurut sebuah sumber, jika memang Wim Cycle benar-benar mati, sebenarnya kita tak betul-betul kehilangan. Karena merk yang lahir dari rahimnya sampai sekarang masih eksis yaitu Thrill, Tabibitho, dan Adrenaline. Hanya, ketiga merk tersebut saat ini sudah diproduksi PT. Indonesia Bike Works, sebuah perusahaan yang berdiri terpisah dari PT. Wijaya Indonesia Makmur Bicycle Industries, pabrik Wim Cycle.
Sekadar info, merk-merk yang sering terlihat lalu lalang baru-baru ini sebenarnya anak dari merk yang sudah mapan. Sebut saja Exotic, Turanza, dan Aviator diinduki oleh Pacific (PT. Roda Pasifik Mandiri). Police, Alton, FoldX, dan RMB, anak dari Element (PT. Roda Maju Bahagia) dengan pabrik di Kaliwungu, Kendal.
Selain menelurkan berbagai merk, Element juga menjalin kerja sama dengan merk kelas dunia seperti Dahon dan Camp. Dahon, pemimpin pasar sepeda lipat dunia asal Amerika, memberi lisensi pada Element untuk memproduksi merk Dahon Ion, dengan seri Madison, Denver, Eugene, dan Chicago.
Element juga memiliki lisensi merk yang bermarkas di California, Camp. Camp sedang laris menjual seri Hazy.
***
Tiger yang bercat hijau-ungu berubah menjadi merah-silver. Ganteng betul. Saya jatuh cinta lagi. Hasil karya Mr. Maridun sungguh ciamik!
Sepeda saya jadi Tiger satu-satunya di dunia yang berwarna itu. Ia menjadi rare dan collector item. Jika saja YouTube sudah ada, pasti berpuluh content creator berebut me-review dan langsung trending.
Tiger saya rawat sampai SMP kelas 2. Merasa sudah remaja, perlahan merasa malu memakainya. Saya minta dibelikan sepeda yang saat itu banyak dipakai bapak bapak, Phoenix hijau buatan Tiongkok yang kerap disebut Phoenix RRT. Sepeda klasik yang modelnya tak lekang ditelan waktu.
Sepeda itu saya pakai sampai pertengahan SMP kelas 3. Setelahnya, motor menjadi benda yang lebih menggoda. Walaupun belum dibolehkan bermotor, saya kerap curi-curi kesempatan.
SMA sampai kuliah, sepeda tak lagi mendapat tempat. Meski sesekali masih meminjam Bridgestone Bapak, sepeda terhitung sangat jarang tersentuh. Teman bersepeda sudah tak ada, motor lebih didamba.
Sepeda hadir lagi saat tren fixie melanda Indonesia antara 2010 s.d. pertengahan 2011. Saya yang mulai bermukim di Yogya, ikut tersetrum tren. Karena sudah berpenghasilan, saya gatal ingin punya.
Merasa fixie hanya tren sekejap, saya lebih memilih MTB. Pilihan jatuh pada Polygon --yang serinya sekarang sudah discontinue. Desainnya cakep. Berwarna hitam doff. Sangat macho.
Celakanya, usai terbeli, tren fixie meredup dan lenyap. Teman saya bersepeda satu-satu berguguran. Fixie kakak sepupu pun entah dimana. Sepeda saya pun mangkrak di garasi. Bersepeda hanya sesekali, pernah dengan teman kantor, tapi lebih sering berkawan sepi.
November tanggal 12 tahun 2014, saya ketiban rejeki. Ikut jalan santai dan dapat hadiah utama sepeda MTB. Meski hanya sebuah seri entry-level, tetap saja yang namanya hadiah ‘kan, aduh senang bukan buatan.
Sepeda kami jadi dua. Lumayan, jadi bisa bersepeda bersama bu ryan. Tapi tetap saja keduanya jarang terpakai. Bu ryan memilih olah raga lain, saya giat berfutsal. Sepeda hanya sibuk dipajang. Kabar terakhir, sepeda hadiah kami hibahkan ke keponakan.
Tren akik, tanaman hias, dan ikan hias, sedikit pun saya tak melirik. Blas ngga pengen. Tapi, tren sepeda ini berbeda. Saya menyerah dan terbawa arus. Mungkin karena sepeda pernah menjadi romantisme masa lalu.
Polygon kembali saya rawat. Beberapa komponen saya ganti. Sekarang lebih nyaman lagi loncer daripada saat baru keluar dari toko. Teman bersepeda pun mulai banyak lagi.
Video tentang sepeda menjadi penyedot terbesar kuota internet saya. Apa-apa semua tentang sepeda.
Jika dulu sepeda lipat tidak menarik minat, saya sekarang kok kesengsem. Apalagi ada alasan sepeda tinggal satu, jadi bu ryan harus punya. Padahal yang pingin saya.
***
Saat servis sepeda beberapa hari lalu, tukang servis akui sekarang ini adalah tren sepeda teramai sepanjang ia buka usaha. Saat fixie merebak, bengkelnya tak sepadat sekarang.
Saat saya mengantre hingga sepeda saya ditangani, banyak calon konsumen bermotor-bermobil hilir mudik bertanya kapan sepedanya bisa didandani. Nyatanya, semua ditolak. Tukang servis janjikan paling tidak seminggu ke depan.
Sepeda saya langsung disentuh karena datang langsung bersepeda dan saya tunggui. Itu pun tukang servis menolak servis total. Ia hanya sanggup servis keluhan part tertentu saja.
Bengkel langganan Bapak di luar kota pun heran. Sebelum tren, tak jarang ia duduk berpangku tangan seharian. Sekarang, istirahat menjadi momen asing. Rejeki sedang diguyurkan deras-deras.
Keadaan seperti itu terjadi menyeluruh di segenap daerah. Semua toko-toko sepeda alami hal sama. Sepeda yang seakan hampir ditinggalkan, tiba-tiba dikejar lagi penuh nafsu.
Beberapa toko terpantau sampai meliburkan karyawan dan menutup toko. Toh dibuka pun mau jualan apa. Semua barang ludes. Gila.

Sabtu, 23 November 2019

Anomali Honda Win 100

Foto koleksi pribadi. Win kinclong tunggangan Pak Joko.

Mendengar Honda Win 100, yang langsung terlintas ialah sebuah sepeda motor ramping, tak modis, dan identik dengan kendaraan dinas aparat negara. Honda Win 100 --selanjutnya Win-- sejatinya bukan motor yang asing bagi saya.
Awal 90-an, Win pernah menghuni rumah kami. Ia jadi kendaraan tempur bapak saya, dimana di sebuah perusahaan plat merah nama beliau tercantum di dosir kepegawaian. Saya yang masih berwujud balita berambut poni pernah menungganginya dan terabadikan di album foto yang masih lestari hingga sekarang.
Belasan tahun kemudian, saya tidak hanya menunggangi di parkiran, saya betul-betul menjadi joki motor yang ngga ada sporty-sporty-nya babar blas itu. Dalam kesempatan itu, untuk pertama kali saya dengan lancar mampu tuntaskan perjalanan berpuluh kilometer dengan motor berkopling.
Win tidak cuma lewat begitu saja. Ia pernah mengisi episode lakon hidup saya.
***
Sekitar sebulanan ini, Win yang sudah menjadi masa lalu, bahkan tidak pernah teringat apalagi terucap, tiba-tiba mampir dalam bahasan dengan seorang teman. Kebetulan ia praktisi otomotif yang sehari-hari mengelola bengkel, sekaligus penggiat jual beli motor bekas di Bantul sana.
Pada suatu siang yang terik, saya berkunjung ke tempat usahanya. Kita berbincang ke sana ke mari dan sampailah pada tema tren motor bekas yang sedang digandrungi. Ia bertutur, sebenarnya tren saat ini masih belum beranjak dari RX King, Honda C70, Astrea Prima, dan Honda Grand Bulus. Namun akhir-akhir ini, Win menyodok ke klasemen atas motor lawas yang diburu pembeli dan pedagang yang enggan kehilangan momen.
Lebih uniknya lagi, Win yang paling memiliki nilai jual paling tinggi justru yang beberapa tahun lalu orang malu memakainya. Win bekas instansi pemerintah dengan warna asli khas, menjadi spesies yang paling diburu dan otomatis melonjakkan harga. Misal, birunya BKKBN, hijau-putihnya Pegadaian, oranyenya PT. Pos, dan biru mudanya Telkom.
Selain Win asli instansi, yang dihargai tinggi tentu yang masih terjaga orisinalitasnya. Semakin persis dengan pas dulu keluar dari toko, maka itulah yang paling bernilai tinggi.
Tak terlalu jauh temponya dari pertemuan dengan teman soal Win, saya bersua kakak saya yang juga tinggal di Yogya. Setelah ngobrol macam-macam, sampailah tentang Win yang ternyata ia baru saja membelinya.
Posisi saat itu, ia baru saja ingin segarkan Win-nya dengan onderdil yang lebih baru. Ia memburu langsung ke dealer resmi Honda di luar kota, karena di Yogya sudah habis tandas. Celakanya, tak tersisa satu jua pun barang. Bukti Win tak lagi jadi waktu silam yang usang.
***
Win dicari lagi dan laku dengan harga tinggi menurut saya sebuah anomali. Jika RX King misalnya, masih bisa saya terima. Ia motor yang lekat dengan maskulinitas.  Kecepatannya yang mantap enteng mengasapi para rival di jalan, sampai-sampai ia dijuluki motor jambret.
Suara khas 2-tak-nya sungguh nyaring dan mampu mengintimidasi siapa pun yang mendengarnya. Dengan prejengan seperti itu, RX King tangguh dipakai touring, mancing, dan kampanye partai.
Honda C70 saya suka modelnya. Ia mewakili citra klasik yang abadi. Bahkan, Honda senang hati merilisnya lagi dengan model yang sama persis. Bukti desain lintas zaman yang evergreen.
Astrea Prima dan Grand Bulus, saya juga setuju-setuju saja menjadi collector item, karena memang unik dan cekli. Dua motor itu keren dengan caranya sendiri. Mereka ditakdirkan ganteng sejak lahir.
Lha kok tiba-tiba Win menyeruak dan menjadi most wanted ini bagaimana ceritanya. Modelnya cungkring dan jauh dari gagah. Jok juga sempit dan tak nyaman. Sungguh sebuah tipe motor yang sangat berisiko mendapat penolakan dari cewek yang akan dibonceng.
Tangkinya tak menggembung khas motor lakik. Desainnya bukan format motor sport, bukan pula motor trail. Memang, Win ini motor yang bukan-bukan. Lampu remnya pun hasil perselingkuhan Honda C-700 dan GL-100. Fixed, tak penuhi syarat disebut elok untuk dipakai jengjeng.
Jika harus disebut kelebihannya, model Win yang ndlujur, lencir, dan kurus itu sebenarnya mendukung teori-teori aerodinamika. Tak dimungkiri, Win memiliki desain yang streamline. Ia siap dipakai meliuk di antara rapatnya persaingan hidup. Ia sangat bersemangat diajak mencari celah peluang di ujung sana. Ia pandai berkawan dengan angin.
Win tak genap berkapasitas 100 cc, ia hanya 97,2 cc. Namun dengan mesin yang jauh dari gemuk itu, ia lincah dan tahan banting. Seliter bensin konon sanggup melahap 51 kilometer. Kokoh dan tidak mendekatkan diri pada garis kemiskinan.
Motor Si Doel saat ngelamar kerja selepas lulus dari tukang insinyur itu, cocok melibas jalan beraspal hot mix sampai makadam berbatu terjal tanpa mengeluh. Usia edarnya yang dimulai 1984 sampai dengan 2005 sahih menjadi bukti durability. Selama 21 tahun, Win tak mendapat pembaruan yang berarti, kecuali warna dan detil kecil lain.
***
Era ini membutuhkan sesuatu yang memiliki pembeda. Apapun harus memiliki autentisitas. Untuk mendapat perhatian, sesuatu harus unik dan bernilai tambah.
Di saat RX King merajalela, tatkala C70, Prima, dan Grand di setiap tikungan ada, ketika NMax PCX terlalu membudaya, maka perlu diidentifikasi figur motor yang selama ini tak dilirik sehingga jarang pemakainya. Win dirasa memenuhi kriteria.
Win dianggap merepresentasikan spirit of uniqueness. Penampakan sebenarnya jauh dari pakem untuk diidolai. Tapi karena berbeda, ayo sikat saja.
Win yang dulu berharga tak lebih dari kisaran 3 sampai 5 juta, sekarang mencapai nilai dua digit. Riset saya di situs jual beli dan tanya sana-sini, rata-rata Win dijual di angka 8 sampai belasan juta.
Tapi ditemukan Win yang terjaga kemulusan dan keasliannya dihargai sampai 28 juta. Gila betul!

Sabtu, 29 Juni 2019

Kualitas Netizen dan Minat Baca Kita

(sumber gambar: edutopia.org)

Selain bekerja, beribadah, dan beristirahat, rasanya sebagian besar waktu yang dimiliki manusia era ini banyak dihabiskan di depan layar gawai. Gawai lebih sering kita pegang dan usap daripada kitab suci, handle pintu rumah ibadah, dan tangan pasangan.
Salah satu penyebab gawai menjadi genggaman wajib karena adanya entitas virtual bernama media sosial (medsos). Berbagai macam platform medsos dapat kita pilih sesuai minat dan kebutuhan. Bahkan, niat awal medsos yang muncul karena kebutuhan interaksi sosial, sekarang sudah bergeser dan melebar sampai lingkup bisnis dengan nilai yang tidak main-main.
Karena masifnya konten beragam jenis medsos, pengguna menjadi semakin gandrung untuk menekurinya. Hingga, mayoritas pengguna ialah pengguna multi platform, sebab dirasa satu jenis medsos tidak cukup untuk memuaskan keinginan.
***
Saya rasa kita harus sepakat, medsos sekadar alat yang berposisi netral. Tergantung bagaimana pengguna dapat memaksimalkan potensi yang ada. Yang kemudian menjadi masalah, beberapa pengguna justru menggunakan medsos dengan tidak sebagaimana mestinya.
Seringkali terlihat, pengguna medsos bukannya mengajak berdiskusi namun mencaci, bukan menyapa tapi mencela. Lalu tampaklah tulisan yang dibuat tanpa cita rasa keilmuan yang mencerahkan. Alih-alih menyejukkan, yang ada cuma kata-kata kasar nan menyesakkan.
Sebuah tema dilempar dan sekonyong disambut berpuluh-beratus netizen menyerang dengan kata-kata tak beradab. Jangankan melayani tema, yang diserang justru si pelontar. Lalu muncul logical fallacy berjenis ad hominem. Jelas, yang terjadi bukan diskusi, tapi perundungan. Tak mampu melayani rembukan, maka orangnya yang dihantam.
Padahal, tema yang dilontarkan acapkali tema yang menggairahkan untuk ditanggapi dengan intelektualitas jernih dan nalar yang sehat. Tentu, masih banyak yang mampu mengedepankan logika rasional yang waras. Namun, tidak sedikit yang menangkap tema sepakbola dengan MotoGP, tema pecel ditanggapi sebagai bulgogi, atau tema sandal jepit dengan dasi kupu-kupu. Jangankan nyambung, bersentuhan saja tidak.
Meminjam istilah Sujiwo Tejo, “twit tentang A, ditangkap jadi B, dan diajak debat soal C”. Bukan tanpa alasan Mbah Tejo men-twit seperti itu. Karena ia sendiri seringkali menjadi korban keganasan netizen yang entah ikut kursus medsos dimana.
Jika pikiran dan hati sedang cerah ceria, saya mampu menjadikan twit-twit seperti itu sebagai lelucon yang menggembirakan. Tapi jika sedang bunek, sambil menahan hati, saya hanya bisa bergumam: “oh, mengapa mereka begitu Yaa Rabb..”
***
Sesuatu hal pasti memiliki musabab. Untuk kasus kualitas netizen yang seperti itu, saya menduga rendahnya minat baca menjadi akar penyebabnya. Membaca, walau terdengar sederhana, memiliki efek yang besar terhadap orang yang menjadikannya kebiasaan. Dua orang yang berasal dari lingkungan yang sama, tetapi berbeda dalam frekuensi dan intensitas membaca, niscaya akan membuatnya menjadi dua orang yang sama sekali berbeda.
Membaca membuat seseorang mampu mengalirkan alur berpikir yang runut. Urutan berpikirnya akan rapi dan terstruktur. Akal terbangun sejalan dengan koherensi antar kalimat yang tertulis.
Karena terbiasa dengan tulisan-tulisan yang terbangun utuh, maka pembaca kuat daya nalarnya. Ia akan terbentuk menjadi sosok yang skeptis sekaligus analitis. Ia akan haus argumentasi-argumentasi logis. Taklid bakal jauh dari kamus hidup.
Pembaca kuat dalam memegang prinsip-prinsip ilmiah. Ia sulit percaya pada narasi-narasi murahan yang dibuat tanpa rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Netizen yang bermain medsos tanpa dibekali sangu dari kebiasaan membaca bacaan yang proper lebih gemar berdebat kusir daripada berdiskusi secara produktif. Mereka sedang mengalami gegar budaya. Belum mengalami peradaban buku, tiba-tiba harus dihadapkan pada jaman internet yang mengagungkan kecepatan dan keringkasan.
Belum kenal tulisan yang menghidupkan nalar, mereka dipaksa bertemu konten-konten pendek yang bombastis dan beraroma clickbait. Maka yang dilahirkan kemudian ialah netizen sumbu pendek yang reaktif dan jauh dari kreatif.
***
Soal rendahnya minat baca, terdapat dua survei kelas dunia yang telah mengkonfirmasi. Pertama,  Program for International Student Assessment (PISA), sebuah program yang dilahirkan oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) pada tahun 2015 yang menyatakan minat baca Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei.
Kemudian, dalam World's Most Literate Nations yang diumumkan pada Maret 2016, sebuah rilisan dari Central Connecticut State University (CCSU), peringkat literasi Indonesia berada di nomor 60 dari 61 negara yang disurvei. Kita hanya menang dari Botswana, sebuah negara di Afrika bagian selatan sana.
Menurut Prof. Bambang Sugiharto, Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung, budaya baca tulis kita sangatlah jauh tertinggal dari Jepang, apalagi negara-negara Barat. Apabila Barat sudah berbudaya baca tulis sejak 500 tahun silam dan Jepang pada abad 19, Indonesia –menurut istilah Prof. Bambang—baru “bangun” setelah reformasi 1998.
Ketika budaya baca tulis kita, lanjut Prof. Bambang, masih di tahap icip-icip, budaya visual dan gadget menerjang dengan deras. Kita belum kenyang mengenyam budaya baca tulis, lalu budaya yang benar-benar baru datang. Maka tidak heran, kita terhenyak sambil gelagapan.