Thursday, October 4, 2018

Sutopo Purwo Nugroho Teladan Kita Semua

(sumber: breakingnews.co.id)

Hari-hari dimana semua pemberitaan sedang ditujukan untuk keprihatinan pada gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, terdapat seorang tokoh yang mencuri perhatian publik. Ia adalah Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Pak Sutopo semakin dikenal publik lantaran beberapa hari ini sosoknya sering tampil di televisi saat konferensi pers terkait gempa di Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong. Pria yang lahir di Boyolali 49 tahun lalu ini juga rajin memperbarui informasi perkembangan bencana di akun Twitter pribadinya yang telah dicentang biru.
Saya pribadi sudah cukup lama mengikuti akun Twitter Pak Sutopo, semata karena dari akun itu saya mendapat jaminan informasi kebencanaan yang selalu terbarukan. Jika kita jeli, Pak Sutopo dalam setiap menginformasikan suatu bencana, tak jarang me-mention akun beberapa artis dan yang paling sering adalah akun penyanyi Raisa.
Tentang me-mention akun Raisa, saya awalnya hanya menduga agar akun yang memiliki 8,4 juta pengikut itu me-retweet informasi yang disampaikan Pak Sutopo. Dengan begitu, publik yang terdedah akan semakin jamak. Rupanya, Raisa tidak hanya sekadar dijadikan saluran untuk memperluas jangkauan informasi. Kelak, terkuaklah selarik cerita khusus soal ini.
***
Pak Sutopo semakin mendapatkan perhatian tatkala mengumumkan dirinya divonis menderita kanker paru stadium 4B. Pertama kali, ia mengumumkan melalui cuitan. Sebagaimana orang yang mendapatkan kabar buruk, Pak Sutopo mengabarkan dengan tegar tapi tak bisa sembunyikan kesedihan. Nuansa tweet-nya terbaca sangat menyakitkan.
Di kemudian hari, di sela-sela aktivitasnya sebagai penyampai pesan BNPB, ia mengabarkan proses pengobatan yang sedang berjalan. Pernah ia melampirkan foto rontgen yang menampilkan rusuknya telah hilang ditelan kanker. Di waktu yang lain, Pak Sutopo bercerita tentang pengalamannya saat menjalani kemoterapi. Pria alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu berkata betapa sakit rasa yang ditimbulkan proses pengobatan tersebut. Ia lalu memohon untuk senantiasa didoakan.
Di tengah kondisi sakit, kita saksikan Pak Sutopo dengan dedikasi tinggi terus menyampaikan perkembangan kabar gempa Sulteng. Setiap hari pukul 13.00 ia sudah stand by di ruang jumpa wartawan. Pak Sutopo terlihat selalu bersemangat walau nampak tidak segar dan lebih kurus daripada sebelum sakit. Ia pernah nyeletuk: “Saya kok sekarang kurus ya, dulu padahal ganteng.
Di kalangan wartawan, Pak Sutopo dikenal sebagai pejabat publik yang tidak pelit informasi. Apapun informasi yang diminta, dengan senang hati ia bagikan. Dilihat pula dari rekam jejaknya selama ini, ia sosok berprestasi.
Pak Sutopo adalah wisudawan terbaik dan cum laude di Fakultas Geografi UGM saat lulus tahun 1994. Ia pun mendapatkan predikat mahasiswa teladan UGM setahun sebelumnya. Usai lulus, ia berkarya sebagai PNS di BPPT dan BNPB. Di dua lembaga inilah ia semakin tak terbendung.
Saat tengah berkiprah di instansi pemerintah, Pak Sutopo memperdalam keilmuannya di pascasarjana IPB (S2 dan S3). Untuk diketahui, pada tahun 2008 s.d. 2010, saya dan beliau berbarengan menempuh pendidikan di IPB. Bedanya saya di S1, beliau S3 wqwq.
Daftar tulisannya di media massa, karya ilmiah, makalah, buku, dan jurnal internasional akan sangat melelahkan untuk dihitung karena saking banyaknya. Ia juga mengajar di pascasarjana UI, IPB, Universitas Pertahanan, dan Sesko TNI.  Sebagai PNS, ia memanen banyak sekali penghargaan, baik sebagai pemimpin di suatu unit kerja atau sebagai individu.
Sebut saja, ia pernah mendapat award tiga kali berturut-turut pada 2012 – 2014 dari Elshinta sebagai Humas Terbaik, Humas Terbaik Lembaga Publik Pilihan SPS 2013 dalam The Second Indonesia Public Relations Awards and Summit dari Serikat Pekerja Pers (SPS) pada 2013, dan  Public Campaigner Award dari Kantor Berita Politik RMOL.co pada tahun 2014.
Terakhir, tahun 2017 Pak Sutopo mendapatkan Outstanding Spokeperson (Humas Terbaik) dari Asosiasi Media Asing di Indonesia. Bukti empiris Pak Sutopo terbaik di bidangnya.
***
Soal Raisa, ternyata bagi Pak Sutopo bukanlah sekadar artis yang dimanfaatkan agar memperluas jangkauan pesan yang ia sampaikan. Lebih dari itu, ternyata secara personal Pak Sutopo mengidolakan penyanyi cantik istri Hamish Daud dan mantan dari Keenan Pearce itu.
Karena diketahui ngefans Raisa, muncul inisiatif dari beberapa penggiat Twitter untuk menggalakkan tagar #RaisaMeetSutopo. Sebuah gerakan yang dimaksudkan sebagai ungkapan sayang warganet kepada Pak Sutopo, seorang pejabat yang sungguh love-able. Tagar itu selama beberapa hari terlihat cukup mendominasi linimasa Twitter.
Belakangan, mantan bos Rolling Stone Indonesia, Adib Hidayat bertemu manajer Raisa. Dalam sebuah pertemuan di Yogya dua hari lalu, Adib menyampaikan kemungkinan bertemunya Raisa dengan Pak Sutopo. Entah ada kaitan dengan pertemuan itu atau tidak, kemarin sore (4/10) saat Pak Sutopo sedang jumpa pers, tiba-tiba seorang wanita, menyampaikan ada seseorang yang ingin video call dengan Pak Sutopo.
Ternyata, seseorang tersebut tiada lain adalah Raisa. Tahu di seberang sana Raisa bersiap berbicara, Pak Sutopo tak bisa menyembunyikan raut terkejut, bahagia, sekaligus nervous-nya, khas ekspresi fans yang akan bertemu idola. Pak Sutopo akhirnya berbincang melalui video dengan Raisa selama tak lebih dari lima menit.
Dalam perbincangan singkat itu, Pak Sutopo menanyakan kesehatan Raisa dan mengatakan agar Raisa selalu semangat. Raisa pun terlihat sumringah menanggapi pertemuan virtual itu. Setelah panggilan video, Pak Sutopo memiliki ide untuk mengangkat Raisa sebagai duta bencana. Sebuah usul yang brilian, mengingat Raisa seorang figur publik bercitra positif yang akan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat pada bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Semoga gayung bersambut.
Pak Sutopo ternyata bukan kelas fans yang latah dan karbitan. Ia kenal lagu LDR, Terjebak Nostalgia, Kali Kedua, dan Mantan Terindah (lagu Kahitna yang di-recycle Raisa). Beredar pula video saat Pak Sutopo menyanyikann sepotong lirik lagu Mantan Terindah. Ia mengaku pernah menyanyikan lagu yang sama di sebuah acara BNPB. Pak Sutopo meneruskan: “yang lain, pejabat nyanyinya Broery Pesolima, Koes Plus, yang jaman baheula, saya nyanyi Mantan Terindah, anak muda staf BNPB wuiiih histeris ikut nyanyi semua..”
***
Pak Sutopo bukanlah seorang biasa. Ia sosok aparatur negara yang jauh dari stereotype yang beredar. Ia bukan aparatur sipil negara (ASN) yang lekat dengan citra kerja seenaknya, tidak disiplin, dan melanggar jam kerja. Pak Sutopo ASN yang lebih dari sekadar abdi negara. Ia role model.
Ia sosok yang lengkap. Sebagai ASN, ia sangat berprestasi. Dalam kariernya sebagai akademisi, ia tak hanya sekadar pengajar. Ia tekun menulis, meneliti, hingga menuangkannya dalam jurnal ilmiah kaliber internasional. Sungguh panutan.
Sebagai manusia yang sedang diuji dengan sakit yang berbahaya, Pak Sutopo tak lantas kehilangan gairah bekerja. Ia tetap berdedikasi menjalankan tugasnya sekalipun membuat yang menyaksikannya menjadi tak tega. Ia sebenarnya sah-sah saja beristirahat dan mendelegasikannya kepada bawahan, namun itu tak dilakukannya.
Pak Sutopo adalah teladan kita semua.  

Monday, September 24, 2018

Mengukur Sisa Usia Kepelatihan Jose Mourinho di Manchester United

(sumber: hr.un.org)

Dalam beberapa minggu ini, selentingan kabar yang menyebutkan Jose Mourinho (Mou) akan digantikan Zinedine Zidane berembus cukup kencang. Kabar itu muncul menyusul kurang moncernya performa Manchester United (MU) di bawah kepelatihannya.
Sebenarnya, secara keseluruhan, MU tidak buruk-buruk amat selama dilatih Mou. Ia telah persembahkan gelar Community Shield, Piala Liga Inggris, dan Europa League. Namun, mengingat ini adalah MU dengan segudang prestasi di masa Sir Alex Ferguson, maka standar sundul langit terlanjur membelenggu Mou.
Gelar yang telah didapat belum cukup memuaskan fans dan manajemen. Kelas gelar yang seharusnya didapat MU ialah juara Liga Primer Inggris dan Liga Champions. Di bawah itu, hanya dianggap gelar selingan dan kurang mantap untuk dijadikan ukuran keberhasilan.
***
Saya pribadi setuju-tidak setuju soal Mou akan diganti. Tidak setuju karena Mou sampai sekarang masih pantas dinilai sebagai pelatih terbaik di dunia. Ia, bagaimanapun, sudah terlihat bekerja dan memberikan lebih dari satu gelar. MU di bawah pelatih kelahiran Setubal Portugal itu juga lebih baik dibanding jaman Moyes dan Louis van Gaal (LvG).
Tapi, saya tidak akan bersedih jika Mou misal benar-benar diganti, karena menurut saya permainan MU jauh dari kata menarik. Jika bukan karena saya telah menggemari sejak kelas 5 SD, maka saya enggan untuk sediakan waktu sembilan puluh menit untuk njinggluk di depan tivi saksikan MU bertanding. Saya tak ragu menyatakan lebih asyik saksikan timnas Indonesia U-16 dan U-19. Sungguh.
Dalam melatih, Mou menuhankan kemenangan, dan tidak peduli dengan bagaimana cara mencapainya. Ia tak acuh pada indah atau tidaknya permainan tim. Yang penting menang, titik!
Jika menilik ke belakang, maka ia tidak berbeda dengan Luis Felipe Scolari, pelatih yang membawa Brazil juara Piala Dunia 2002. Menurut pengamat, Scolari tipe pelatih pragmatis yang lebih mementingkan kemenangan daripada indahnya proses menuju ke sana. Menjadi masalah dan sorotan karena Brazil lekat dengan jogo bonito-nya.
***
Sampai sebelum melawan Wolverhampton Wanderers (Wolves), wacana penggantian Mou belum terdengar lagi. Karena memang MU baru saja menikmati kemenangan tiga kali beruntun melawan Burnley, Watford, dan BSC Young Boys.
Sampai pertengahan babak pertama melawan Wolves, MU masih baik-baik saja. Duet Fred dan Pogba di lini tengah membuat MU mendominasi permainan. Operan berjalan lancar dan beberapa kali sukar ditebak, lalu terciptalah gol debut Fred yang didahului umpan brilian Pogba.
Hingga awal babak kedua, MU tetap mendominasi. Namun semua berubah pasca gol Moutinho di menit 53. Gol itu secara telanjang menampilkan koordinasi bek yang buruk. Gol berasal dari solo run pemain sayap Wolves yang gagal ditutup Shaw. Ia sukses mengirim umpan tarik dan disambut Moutinho melalui tendangan kaki kiri keras ke sudut kanan gawang De Gea. Lindelof dan Smalling ternganga tidak berdaya.
Selepas itu, MU mati-matian keluar dari tekanan. Wolves mulai tuman semenjak berhasil membalas. Beberapa kali serangannya berhasil membuat saya maktratap. Mou mulai bersikap dengan menarik keluar Fred dan Alexis untuk digantikan Mata dan Martial.
Masuknya Mata dan Martial ternyata tidak diikuti pergantian taktik. MU tetap saja membawa gaya permainan seperti sebelumnya. Mata tampil lebih buruk daripada Fred. Martial sulit menembus sisi kanan pertahanan lawan sekalipun telah menampilkan kemampuan dribbling-nya. Sedikit yang tampak berubah adalah didorongnya Fellaini ke depan untuk meningkatkan kemungkinan gol dari umpan silang.
Karena tidak juga berhasil menembus gawang Wolves, saya menduga Lingard akan diganti dan benar saja Perreira masuk. Tapi tetap, MU seperti bermain tanpa visi. Mou kerepotan mencari cara ceploskan bola untuk mengubah kedudukan. Sistem permainan seperti sebelum kebobolan terus dipertahankan.
Mou seolah tak mempunyai ajian pamungkas untuk mengubah keadaan. Nampaknya, ia hanya instruksikan untuk mengirim bola jauh ke depan dan layangkan umpan silang, siapa tahu bek lengah dan Fellaini bisa menyundul. Sampai akhir pertandingan, MU gagal menangkan partai kandang itu.
Pasca pertandingan, media massa tak tampak membahas bagaimana MU menjalani pertandingan. Mereka lebih tertarik memberitakan kembali tampilnya Sir Alex di depan publik setelah sembuh dari pendarahan otak. 
***
Mou pernah berbicara, ia sulit untuk maksimal di MU bukanlah tanpa alasan. Pelatih yang sukses di Chelsea, Madrid, dan Internazionale itu berkata, Ed Woodward (CEO MU) tidak menuruti kemauannya untuk membeli beberapa pemain. Jadi, bukan kesalahannya semata jika MU tidak seperti yang diharapkan banyak orang.
Jika saya menjadi Woodward, berdasar pertandingan melawan Wolves, saya akan sangat mempertimbangkan untuk mengganti Mou, tapi tidak untuk di tengah musim kompetisi ini. Yang paling logis, saya akan menuruti kemauan Mou membeli beberapa pemain incarannya dulu --toh uang kami tidak terbatas, dan lalu menunggunya bekerja sampai akhir musim. Jika memberi gelar, maka ia bisa habiskan kontrak sampai akhir musim depan, kalau tidak, jelas akan saya kick.
Melihat bagaimana MU kesulitan mencetak gol di sisa pertandingan melawan Wolves membuat saya pesimistis tentang masa depan MU di tangan Mou. Mou nampak kesulitan menampilkan kejeniusannya. Mungkin pula strateginya telah tuntas dihafali lawan. Mou harus terus dinamis dan adaptif demi agar jasanya terus digunakan di MU.
Di sisi lain, tak dapat dimungkiri, tugas Mou lebih sulit daripada Sir Alex dulu. Sir Alex waktu itu telah memiliki tim matang hasil rintisannya sendiri. Di samping itu, persaingan praktis hanya dari Arsenal di bawah asuhan Wenger. Liverpool, Chelsea, dan Tottenham hanya tim medioker di masa itu. Manchester City? Ah mereka hanya sesekali terdengar karena personel band Oasis menggemarinya. The Citizen masih terseok di kompetisi Championship, kasta setingkat di bawah Liga Primer.
Saat ini, Mou di samping masih dalam tahap membangun timnya sendiri, juga menghadapi persaingan Liga Inggris yang demikian ketat. Liverpool, Chelsea, City, dan Tottenham menjelma menjadi kekuatan yang sulit ditaklukan. Ditambah tentu saja Arsenal yang berharap nuansa baru dari kedatangan Unay Emery.
Perjalanan Mou di MU sedang berada di masa kritis. Kelanjutan kariernya di MU saya rasa akan ditentukan musim ini. Mari kita tunggu, apakah tuah The Special One masih ada atau justru tak tersisa..

Monday, August 6, 2018

Hikayat Masuk Angin dan Malam Terburuk dalam Hidupku

(sumber: symmetrymagazine.org)

Jumat minggu lalu, semua berjalan baik, lancar, dan sesuai rencana. Pekerjaan berlangsung sebagaimana biasa. Sore hari, kami lalui dengan futsal sampai menjelang matahari pulang.
Hingga usai Isya’ hari seperti akan berakhir dengan sempurna, sebelum esok akan semakin indah karena disambut akhir pekan. Sekitar pukul 21.00, Bu Ryan menyajikan bakso yang ia racik dengan menambahkan mie sendiri. Mulai dari sana, Jumat membawa kisahnya..
***
Karena beberapa hari angin dingin Australi berembus sampai sini, bakso menjadi jodoh yang membuat malam dan hangat menjadi semakin sakinah. Sambil bersantai usai berbakso, saya tiduran karena lelah hasil futsal masih bersisa. Tak berapa lama, kenyang menjelma mual.
Sendawa pun tak kunjung terbit. Yang ada hanya mual dan ilham bahwa ini akan berakhir dengan keluarnya isi perut. Benar saja, tak lama setelahnya isi perut menyundul-nyundul minta dimuntahkan. Kecepatan yang tersisa dari futsal masih ada dan membuat saya sampai kamar mandi tepat waktu.
Karena saya tidak akrab dengan muntah, bahkan lupa kapan terakhir mengalaminya, saya baru tersadar betapa tidak enaknya muntah. Peristiwa yang diawali dengan mual itu disusul dengan rasa seperti ditinju di dada, dan berakhir dengan mengucurnya makanan yang berubah wujud menjadi nggilani.
Siksaan belum berhenti. Usai muntah yang pertama, muntah kedua meminta giliran. Iri mungkin. Asem tenan pakai ngiri segala.
Mual memang hilang. Tapi keluar dari kamar mandi, tulang-belulang terasa tak lagi di tempatnya. Sebab butuh upaya dan tenaga untuh muntah, keringat pun bercucuran. Tak berapa lama, sumuk berubah dingin. Badan lunglai sekaligus disemati fitur semi-menggigil. Sungguh, saat itu aku merasa ketampananku telah terenggut.
Perlahan badan mulai nyaman, walau masih jauh dari bugar. Kantuk mulai datang dan usaha merem dilakukan. Sedikit demi sedikit semua hilang bersama tidur~
***
Memang betul kata orang, tidur mampu menepikan masalah walau sejenak. Muntah dengan segala masalah yang dibawanya luruh bersama lelap. Tapi ingat, itu hanya sejenak.
Tak berapa lama setelah merem, serangan datang mewujud beda. Mual hilang, kruwes-kruwes datang.
Usus rasanya seperti dipuntir. Jika pernah mencuci piring dengan spons dan untuk melepas buih dari spons harus dengan meremasnya, maka begitulah mungkin wujud usus saya di dalam sana.
Kruwes-kruwes itu datang dan pergi. Setelah mak-kruwes, masih bisa merem sebentar. Nanti kruwes lagi. Begitu berulang kali. Iseng betul.
Rasa itu hilang setelah ada inisiatif Bu Ryan untuk meminumkan air putih hangat. Kantuk muncul dan baru terbangun setelah pagi.
***
Saat pagi tiba, mual dan kruwes-kruwes betul-betul hilang. Tetapi mereka tak mau pergi begitu saja. Mereka meninggalkan pesan melalui evolusinya menjadi diare.
Hasilnya, jika setiap Sabtu Minggu saya selalu merindukan sarapan di luar untuk menikmati hari, pagi itu tak ada yang namanya selera makan. Blas!
Menjelang Dzuhur, saya paksakan makan dan berhasil tandaskan satu piring. Tapi tetap belum ada keinginan untuk makan apa. Padahal, akhir pekan adalah hari jajan nasional bagi kami.
***
Yang terjadi setelahnya hanyalah usaha menganalisis mengapa semua keadaan menyedihkan itu menimpa. Keadaan itu seingat saya belum pernah sekalipun saya alami.
Hipotesis pertama, jangan-jangan saya keracunan kerang. Sore itu, Bu Ryan memasak kerang. Enak. Enak sekali. Kerang segar, tak ada bau khas menjelang busuk. Diputuskan, kerang bukan penyebab.
Kedua, masuk angin. Dan, dengan yakin inilah penyebabnya. Penyebab sistematisnya pun sudah kami susun alurnya secara manis.
Begini, saya bersama teman-teman rutin futsal seminggu dua kali di kantor. Oh ya, kantor kami memiliki fasilitas lapangan futsal. Mohon maklum kantor keren.
Jumat biasanya, kami sudah selesai tak lama setelah Asar. Jumat kemarin pengecualian. Futsal masih berlangsung sampai satu jam lebih lama dari biasanya.
Usai futsal, kami selalu mengobrol sekitar setengah jam sambil menunggu keringnya keringat. Jumat kemarin, karena sudah terlalu sore, saya tak sempat keringkan keringat, langsung ganti baju tapi terlupa melepas singlet, dan kembali ke ruang kerja berpendingin udara.
Pori-pori yang terbuka usai olahraga, singlet basah tak dilepas, dan ruang ber-AC adalah tiga kata kunci. Mereka bersenyawa bersekutu menjadi penyebab ilmiah malam terburuk dalam hidupku.