Selasa, 20 Juni 2017

Kabar Bahagia dari Hengkangnya Donnarumma

sumber gambar: gilabola.com
AC Milan beberapa tahun ke belakang tidak memiliki pemain fenomenal yang mampu membuat Milanisti sangat posesif, sampai kemudian muncullah sesosok anak muda bernama Gianluigi Donnarumma. Donnarumma berposisi sebagai kiper yang cepat melesat menjadi idola Milanisti. Harapan tinggi disampirkan di telapak tangannya demi menuju AC Milan yang gilang-gemilang di masa yang akan datang.
Donnarumma secara usia masih sangatlah muda. Ia lahir tahun 1999 yang artinya lahir saat saya sudah duduk dengan elegan di kelas 5 SD Negeri favorit di desa sana. Ia ditemukan oleh pelatih yang semasa menjadi pemain dikenal memiliki tendangan melengkung sekencang geledek, Sinisa Mihajlovic. Donnarumma boleh muda, namun jangan ditanya soal kinerja. Ia sering membikin penyerang lawan keki karena refleks dan ketangkasannya. Pendek cerita, ia menjadi perhatian publik sepakbola dunia. Bahkan seorang Milanisti menamakan anak perempuannya dengan namanya.
***
Semua baik-baik saja sampai Donnarumma jatuh ke pelukan agen kontroversial, Mino Raiola. Sejak dipegang Raiola, sebenarnya Milanisti harus sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi dengan Donnarumma. Reputasi Raiola –yang juga mengageni Ibrahimovic dan Pogba— sudah menjadi rahasia umum. Ia dikenal sebagai agen yang “culas” lagi materialistis.
Benar saja, akhir minggu kemarin Donnarumma menolak perpanjangan kontrak dengan AC Milan. Belakangan, ia dihubung-hubungkan dengan dua klub kaya raya, Real Madrid dan Paris Saint Germain. Sontak saja, Milanisti misuh-misuh tak keruan. Ia diidentikkan dengan ular dan dijuluki Dollarumma. Lalu, ia pun dikutuk-kutuk akan mendapat kegagalan di klub barunya.
Milanisti merasa dikhianati habis-habisan, karena selama ini Donnarumma sering menciumi badge logo AC Milan di jersey-nya sebagai tanda kesetiaan yang ternyata lamis belaka. Yang tak gemar sepak bola memang tidak mengerti bagaimana rasanya jika terjadi sesuatu dengan tim yang didukung. Memang absurd, tapi bukankah memang demikian hakikat cinta?
***
Berikutnya, petinggi AC Milan sampai urun suara. Ia menyamakan Donnarumma dengan dua sosok mega bintang AC Milan di masa lalu yaitu Andriy Shevchenko dan Ricardo Kaka. Diketahui, Sheva dan Kaka enyah dari AC Milan karena bayaran yang lebih menggiurkan daripada saat mereka masih berseragam Il Diavolo Rosso. Sang petinggi menyatakan, Donnarumma akan kehilangan kebintangannya seperti Sheva dan Kaka.
Respons Milanisti paling epic terjadi kemarin saat Donnarumma membela timnas Italia U-21 melawan Denmark dalam perhelatan Piala Eropa U-21 di Polandia. Dalam pertandingan tersebut, sekelompok Milanisti regional Polandia khusus datang ke stadion untuk melempari Donnarumma dengan uang palsu. Perwakilan pelempar uang menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan Donnarumma merupakan sebuah pelanggaran berat.
***
Kekecewaan Milanisti terhadap Donnarumma terutama yang dikaitkan dengan alasan uang yang lebih besar di klub baru, sebenarnya merupakan fenomena yang menarik untuk dicermati. Dalam kasus ini, rupanya Milanisti menilai langkah hengkangnya Donnarumma sebagai suatu langkah yang tidak elok, bahkan memalukan.
Hal yang mengherankan, tempat terjadinya peristiwa tersebut ialah di Eropa, sebuah kawasan suci turunnya wahyu materialisme, dimana segala sesuatu dinilai dengan uang dan hal kebendaan. Kasus ini menyadarkan kita bahwa ternyata nilai-nilai luhur kemanusiaan universal masih nyata eksistensinya dan belum luntur digerus zaman.
Bukti nyata lain, pemain seperti Franco Baresi, Paolo Maldini, Giuseppe Bergomi, Javier Zannetti, John Terry, Steven Gerrard, Ryan Giggs, Paul Scholes, dan Gigi Buffon sampai sekarang masih menjadi kesayangan fans karena kesetiaannya. Bahkan beberapa di antara mereka, nomor punggungnya dipensiunkan demi menghargai kesetiaan dan pengabdian. Dapat disimpulkan, kesetiaan dan pengabdian masih menjadi mata uang yang masih berlaku, sekalipun di titik episentrum materialisme.


Rabu, 07 Juni 2017

Bahwa Pecel adalah Indonesia

sumber gambar: sojo.net
Di hatiku, pecel mendapatkan ruang tersendiri, menempati sebuah sudut special, dan hanya ada ia di sana. Pecel adalah my comfort food. Saat bingung mau makan apa, dan jika di warung ada menu atau di rumah ada bahan-bahannya, maka secepat reflek tangan De Gea, saya akan berteriak: “Pecel wae!!!
Melalui tangan seorang maestro tiada dua bernama Bu Martono, pecel pertama kali menjumpaiku. Ia pengusaha kuliner yang benar-benar hidup dari warung kecil yang menjual pecel dan kawan-kawannya. Warung itu terletak di tepi jalan raya Purwodadi – Blora, dan berjarak hanya sepelemparan batu dari rumah kami.
Bukan hanya pecel yang dijual oleh Bu Martono. Di warungnya juga ada tahu campur, ayam masak bumbu rujak, soto ayam, dan beberapa macam gorengan. Namun dari semua menu itu, headliner-nya adalah pecel dan mendoan yang masih panas mongah-mongah. Pecel dan mendoan adalah dynamic duo yang tak terpisahkan. Mereka harus disajikan dalam asas dwitunggal. Jika hanya ada salah satunya, maka lebih baik tidak sama sekali.
Di masa-masa awal perjumpaan, pecel Bu Martono berharga murah tiada tara. Sekitar tahun 1993-94, ia menjual pecel yang dibungkus dengan daun pisang dan daun jati seharga Rp. 100,00. Memang saat itu apa-apa masih sangat murah, tapi harga seratus rupiah untuk sebungkus nasi pecel sangatlah jauh dari akal sehat. Walhasil, Bapakku sampai berniat mengirimkan secarik surat kaleng demi agar harga nasi pecel dinaikkan. Namun belum sampai surat itu tertulis, Bu Martono sudah sadar lebih dulu.
Bu Martono menekuni warungnya seharian penuh. Pecel, soto, dan mendoan dijual sejak pagi sampai tengah hari. Tak sampai usai jam makan siang, semua habis tandas. Sore hari, ia bersiap untuk berjualan di malam hari. Menu malamnya, ada ayam masak bumbu rujak, tahu campur, dan gorengan. Usai sholat magrib, warungnya sudah penuh dengan ibu-ibu yang berjejer menantikan liukan tangan Bu Martono membungkus pesanan. Di sela ibu-ibu, pasti ada satu dua bapak-bapak yang bosan dengan masakan istri lalu memilih jajan di situ, dan hampir pasti tersempil Si Ary, tetangga belakang rumah, seorang pecinta radikal masakan Bu Martono.    
Dalam perkembangannya, Bu Martono –yang berperan sebagai orang tua tunggal-- mengalami perbaikan ekonomi. Putra-putrinya mentas mampu menghidupi diri sekaligus sang ibu. Bahkan rumahnya sekarang cukup megah dan mobil MPV Toyota terparkir di garasi. Sepertinya terdengar membahagiakan ya, tetapi ternyata ada konsekuensi yang menyedihkan, dan kami-kami pelanggan ini menjadi korban. Bu Martono kehilangan integritas dan komitmen, ia tak serajin dulu dalam berjualan. Buka tutupnya warung sungguh sesuka-suka hatinya. Kami jadi tidak bisa menggantungkan diri lagi pada menu sajiannya. Bu Martono tak seperti dulu lagi.. :(
***
Dalam jarak sekitar 100 meter arah barat warung Bu Martono, berdiri pula warung pecel  Mbak Bun. Mbak Bun berjualan di teras rumahnya yang gagah bercat hijau teduh. Cita rasa pecel Mbak Bun berbeda dengan pecel Bu Martono. Sambal pecel Bu Martono bercita rasa pedas gurih, sedang Mbak Bun memilih rasa dominan manis.
Mbak Bun menjajakan pecel, kolak pisang, bihun, dan gorengan. Pecel, kolak pisang, dan bihun dengan rasa seperti buatan Mbak Bun dapat dengan mudah saya temukan di tempat lain. Namun, mendoan Mbak Bun sampai saat huruf ini terketik, belum satu pun bisa menggantikan. Mendoan Mbak Bun adalah sebuah masterpiece. Nampaknya UNESCO harus segera menahbiskan mendoan Mbak Bun sebagai warisan budaya dunia bidang gorengan. Saya tidak main-main dalam soal ini.
Mendoan Mbak Bun, baik menggunakan tempe biasa atau gembus, Yaa Allah enaknya melampaui batas logika. Secara penampilan, mendoan itu berwarna kuning keemasan bersih menggairahkan. Rasanya gurih, dengan kadar asin yang pas, seperti dibuat dengan takaran ilmu ukur hingga hitungan nanogram. Tepungnya saya curigai dipesan dari sebuah kartel yang menjalankan bisnisnya khusus untuk Mbak Bun. Minyak gorengnya sulit untuk tidak diprasangkai sebagai minyak goreng yang biasa dibuat untuk menggoreng makanan raja-raja Skandinavia. Bumbu rempahnya saya yakini sebagai rempah yang selama beratus tahun dicari rombongan Cornelis de Houtman. Beribu jarak perpindahan kehidupan, tetap saja tak mampu mengantarkan untuk menemukan standar rasa mendoan seperti karya Mbak Bun.
Hal yang membahagiakan kemudian adalah, Mbak Narti yang pecel sayurnya mulai SD sampai SMA mencukupi kebutuhan gizi sarapan kami, memilih untuk mensubkontrakkan persediaan mendoan kepada Mbak Bun. Gusti Allah sungguh Maha Baik. Tiap pagi, rutin saya menikmati mendoan yang lebih dekat kepada karya seni berselera tinggi daripada hanya sekadar tempe dilumuri tepung.
Semua ada giliran masing-masing. Termasuk Mbak Bun yang akhirnya pada 2004 mendapat giliran untuk tidak berjualan lagi karena sakit dan sepuh. Kemudian rumahnya dijual dan sekarang telah menjadi bangunan baru koperasi simpan pinjam. Musnah sudah eksistensi mendoan, namun tidak untuk kenangan yang ditinggalkannya.
***
Pecel-pecel berikutnya menjumpaiku silih berganti. Mulai pecel Mbak Guder, pecel Magetan Bu Ramelan, Pecel Dhe Sampir, pecel Bu Waji di kantin SMA, sampai pecel depan Telkom Dramaga Bogor saat saya berkuliah.
Sebelum beranjak lebih jauh, perlu dijelaskan bahwa pecel dalam konteks ini memiliki definisi operasional sebagai sebuah sajian makanan yang di dalamnya terdiri dari kombinasi berbagai macam sayuran yang direbus dan kemudian dalam penyajiannya disiram dengan sambal kacang. Perlu dijelaskan karena ada pecel lele dan pecel ayam yang sempat mengecohku habis-habisan. Dulu, saat kecil dan melihat spanduk warung tertulis pecel lele, yang kukira adalah pecel di atas tadi dan diberi lauk lele goreng, tapi ternyata hanya lele yang diberi sambal tomat dan lalapan. PECEL APAAN HIH!
Pecel tidak berdiri sebagai suatu entitas tunggal dan suci dari modifikasi. Di dalam pecel terkandung bid’ah, bahkan pecel adalah bid’ah itu sendiri. Langgam pecel cukup beraneka. Mulai dari pecel Madiun yang disajikan dengan serundeng, kemangi, dan rempeyek sampai pical Padang yang di dalamnya ada rebung, jantung pisang, dan kol. Ada pula yang menggunakan ale, bayam, kangkung, kenikir, cikra-cikri, dan kembang turi. Teman makannya pun macam-macam, mulai dari mendoan, rempelo ati, telur ceplok, telur dadar, sampai pacar. Tidak hanya langgam dan pendampingnya, unsur printhilan-nya pun sangat plural.

Kangkung, bayam, atau dhong telo, kecambah, ale, kacang panjang adalah suku-suku bangsa. Mendoan, bakwan, kerupuk, dan telur dadar ialah bahasa. Pecel Madiun, pecel Magetan, pecel Yogya, dan pical Padang merupakan ragam keyakinan. Kemudian, sambal kacang adalah Pancasila yang menyatukannya. Pecel sangat menjunjung kebhinnekaan, maka pecel adalah Indonesia!

Senin, 29 Mei 2017

Gelembung Cak Nun untuk Indonesia

(sumber gambar: danielmiessler.com)
Maafkan saya harus menyinggung soal pilkada DKI dan isu kebhinnekaan yang belakangan mengiringi. Permintaan maaf dalam konteks ini sangat relevan, tidak mengada-ada, dan bukan diarahkan untuk mencari simpati pembaca, agar timbul persepsi bahwa saya adalah orang yang berperasaan lembut lagi soleh. Maaf harus tertulis karena saya lancang mengangkat tema itu lagi, padahal di media mainstream dan media sosial, tema itu sudah mengakuisisi semua kolom dan celah. Kelancangan ini saya sadari akan semakin memunculkan kejengahan yang bahkan saat ini sudah menyentuh ranah kemuakan massal.
Tetapi, kejengahan yang berkembang menjadi kemuakan tidak elok jika harus digiring menjadi pembenaran bahwa kita menjadi tak acuh terhadap bahasan berbulan-bulan belakangan ini. Bukan apa-apa, karena hal itu bersinggungan dengan NKRI, tanah tumpah darah, pun lahan melestarikan kehidupan mulai buaian ayunan sampai liang kematian. Pilkada DKI dan kebhinnekaan bukanlah masalah remeh yang dengan mudah kita kesampingkan, karena pada kenyataannya bermuara pada gentingnya persatuan dan kesatuan di antara kita.
Pilkada DKI sebenarnya event berskala provinsi, namun menjadi perhatian nasional karena kedudukan Jakarta sebagai ibu kota negara. Yang harusnya hanya menjadi gunjingan di warkop Cililitan, tetapi dari warteg di Dlingo mBantul terdengar juga nama Ahok dan Anies disebut. Sungguh suatu fenomena politik yang menimbulkan gonjang-ganjing sekaligus polarisasi masyarakat.
***
Saya termasuk orang yang tergiring atau terkadang sengaja menenggelamkan diri dalam perbincangan tentang pilkada DKI dan pernik di dalamnya. Sering juga ikut-ikutan bicara padahal tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Namun, jauh di dalam hati muncul kecemasan, bahwa apabila gontok-gontokkan yang dilatarbelakangi hasrat menang kalah ini diterus-teruskan, maka akan sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa. Sebab, pilkada DKI dalam perkembangannya menyentuh ke isu sensitif SARA.
Nah, karena masih dalam rangka ulang tahun Emha Ainun Nadjib --jamak disapa Cak Nun— yang ke 64 tahun pada Sabtu 27 Mei kemarin, kiranya solusi yang ditawarkan Cak Nun dalam menghadapi isu-isu terkait pilkada DKI dapat saya haturkan kepada forum pembaca sekalian.
Sebagai orang yang mendaku sebagai bocahe Cak Nun (CN), saya merasa memiliki kewajiban moral untuk menghantarkan konsep berpikir beliau yang saya jamin sungguh ciamik. Begini, CN memiliki konsep berpikir yang dilambangkan dengan gelembung. Gelembung sebenarnya merupakan simbolisasi wilayah berpikir yang lingkupnya terbagi dengan kelas-kelas.
CN menjelaskan, gelembung berpikir dimulai dari kelas terendah yaitu gelembung kalah menang antara kami dan mereka. Kemudian berlanjut dengan gelembung kalah menang dalam diri kita masing-masing, gelembung kalah menang bersama sebagai bangsa, lalu berkembang ke gelembung dunia dan alam semesta.
Saat pilkada DKI tempo hari, kita terjebak dalam gelembung paling rendah, kalah menang antara kami dan mereka. Yang ada dalam ceruk ini hanya kengototan masing-masing pihak, dan jauh dari rasa kebersamaan sebagai warga sebangsa. Dalam wilayah ini, kemenangan kami segala-galanya dan kekalahan mereka adalah suatu keharusan. Tak ada kedewasaan apalagi kebijaksanaan.
Pihak kami merasa sebagai malaikat yang berhak memvonis mereka sebagai iblis terlaknat. Demikian juga sebaliknya, mereka menunjuk dirinya sebagai sosok paling benar dan kami berada di pihak yang paling hina. Jadi, antara kami dan mereka sama saja terjebak dalam egoisme. Suatu keadaan menyedihkan yang sulit diluruskan.
CN menyarankan, agar semua pihak mengubah cara berpikir. Karena apabila masih mempertahankan cara berpikir yang demikian, kita tidak akan pernah mereguk kemenangan bersama-sama.
CN meneruskan, apabila menggapai gelembung kalah menang bersama sebagai suatu bangsa masih terlalu jauh, mbok ya diusahakan agar kita berada di gelembung kalah menang dalam diri kita pribadi. Karena sejatinya, mengalahkan hawa nafsu angkara murka di dalam diri adalah pekerjaan tersulit nomor satu yang sesungguhnya, --dan bukan menurut On the Spot Trans7.
CN mengaku, saat ini beliau berada pada gelembung kalah menang dalam diri sendiri. CN tidak mau ikut dalam kontestasi apapun yang akan bermuara pada kalah menang secara pribadi, karena sampai sepuh sekarang saja pertarungan di dalam diri belum juga usai. Berarti para pendukung cagub DKI yang waktu itu memanfaatkan potongan rekaman CN untuk menggiring pemilih sangat kurang teliti. CN merupakan pandita yang menempuh jalan sunyi, sehingga tidak akan tergoda pada pertarungan politik yang kotor dan menegasikan nilai-nilai luhur moralitas.
CN menyarankan, agar kita tidak mencari siapa yang benar. Mari semua bergandengan untuk mencari apa yang benar. Karena jika kita pusatkan seluruh energi demi mencari siapa yang benar untuk kita anut, niscaya yang kemudian terjadi hanyalah saling klaim. Sedangkan yang ada di dunia dan dikerjakan manusia cuma tafsir yang kebenarannya relatif. Kebenaran hakiki mutlak hak milik Yang Maha Benar.
***
Setelah terkutub, sehabis bercerai, sekarang momentum bangsa Indonesia secara bersama-sama meluruhkan ambisi pribadi dan golongan. Terlalu lama kita ribut sendiri tak ada habis-habisnya. Energi bangsa terlalu banyak diarahkan pada pertarungan yang tidak produktif dan tidak membawa apa-apa kecuali nuansa perpecahan.
CN sudah memberikan wisdom-nya, tergantung kita akan memakainya atau tidak. Yang pasti dan harus ditafakuri, sekarang ini bangsa lain sudah mengurus IMB di Mars, sedangkan kita masih eker-ekeran rebutan camilan yang belum tentu bergizi.