Thursday, March 14, 2019

Metamorfosis atau Senja Kala Mal?

(theatlantic.com)

Dua tahun silam, tirto.id menurunkan laporan mendalam yang terdiri dari tujuh artikel. Artikel-artikel itu bertema mal dan perkembangan jaman yang melingkupinya. Meski sudah dalam hitungan tahun, ternyata berita itu berhasil tersimpan baik dalam benak saya. Berita itu menarik untuk diingat karena menyentuh beragam aspek yang aktual dan dekat dengan keseharian.
Satu artikel yang paling menyita perhatian membahas perihal matinya mal-mal di Amerika Serikat (AS). Di dalamnya, terpampang data-data mencengangkan tentang tutupnya mal-mal itu. Tentu, ada musabab yang membuat mereka pamit dari industri yang pernah berjaya sekian dasawarsa lamanya.
Beberapa hari lalu, CNN Indonesia melaporkan lima mal di Jakarta yang dari hari ke hari semakin menurun tingkat hunian pengunjungnya. Spontan, ingatan mengarah pada artikel dua tahun lalu di atas. Pertanyaannya, apakah wabah muramnya industri ritel di AS tengah menular ke negeri kita?
***
Sejak membaca artikel di tirto.id tentang banyak mal di AS yang tutup, kunjungan saya ke mal tidak lagi sama seperti sebelumnya. Apabila dulu ke mal hanya berkonsentrasi membeli dan memakan sesuatu, pasca artikel, ke mal kami tambah dengan agenda mengamati pengunjung mal lainnya.
Hasil amatan kami sejauh ini, semakin banyak orang yang keluar dari mal tidak dengan membawa tentengan tas hasil belanja. Secara sederhana, dapat disimpulkan, orang ke mal saat ini bukan semata dalam rangka membeli barang. Pengunjung, akhir-akhir ini, lebih tertarik menempatkan mal sebagai tempat untuk hang-out, kongkow, meeting, atau sekadar tempat untuk melepas penat.
Mal mulai tidak diposisikan sebagai kumpulan gerai yang menjual beragam barang kebutuhan. Mal bergeser menjadi tempat rekreasi dan berkumpul.
Saya pribadi, sampai sekarang masih terkategori sebagai pengunjung konservatif. Saya tetap memandang mal sebagai toko, dimana saya bisa membeli barang kebutuhan. Sampai setua ini, saya belum pernah berkunjung ke mal dalam rangka hanya untuk makan, minum, atau membuang waktu luang.
Sampai berkunjung ke mal, artinya di tempat lain saya tidak bisa menemukan barang yang saya cari. Maka, saya tidak cukup sering ke sana. Walau tidak jauh untuk menjangkaunya karena di tiap sisi Yogya ada, jika bukan karena butuh, mal bukanlah tempat jujugan.
***
Berdasar data di AS, banyak mal tutup disebabkan oleh bergesernya pola konsumsi masyarakat. Jika dahulu orang mengumpulkan uang untuk membeli barang, saat ini lebih memilih untuk berbelanja pengalaman. Dewasa ini, orang lebih gemar mengoleksi kenangan dengan bepergian ke beragam tempat, daripada menumpuk barang yang jika dituruti tidak akan ada habisnya.
Nampaknya, di Indonesia nuansa seperti itu sudah terasa. Orang-orang di sekitar kita, bahkan kita sendiri, semakin sering menampilkan foto hasil berkunjung ke suatu tempat. Bahkan mal pun telah diletakkan sebagai tempat untuk dikunjungi, bukan tempat untuk membeli sesuatu.
Orang semakin gemar berpelesir. Apalagi sekarang ditunjang dengan media sosial yang dengan senang hati akan tampilkan apa yang akan, sedang, dan telah kita alami sehari-hari. Selain untuk menambah pengalaman dan kenangan, pelesir belakangan ini juga diadakan dalam rangka memenuhi kebutuhan demonstratif.
Data lain berbicara, mal semakin sepi bahkan tutup, diduga disebabkan mulai besarnya adopsi teknik berbelanja melalui toko dalam jaringan (daring). Masyarakat mulai nyaman dengan transaksi daring karena semakin banyaknya fitur, fasilitas, dan penawaran yang makin variatif dan intensif.
Tidak perlu keluar rumah, hanya bermodal telepon seluler, barang pesanan dengan sekejap akan sampai. Ditambah beragam keuntungan jika kita mau teliti dalam memanfaatkan peluang yang ditawarkan online market place. Mulai dari undian, cashback, atau rabat siap kita gapai.
***
Merespons perubahan pola konsumsi masyarakat terkait fungsi mal yang bergeser, para pengelola berlomba untuk berbenah. Sadar akan tergerus jika tidak adaptif, mereka mengambil beberapa langkah untuk memperpanjang nyawa usahanya.
Pengelola mulai bergerak dengan memperbaiki fisik bangunan dan fasilitas. Mereka melakukan pengecatan ulang, mengganti lantai, dan memperbaiki fasilitas yang tidak lagi berfungsi optimal.
Selain merombak aspek fisik, pengelola memperhatikan pula aspek non-fisik. Hal tersebut dilakukan dengan mengubah image mal yang pada awalnya menyasar konsumen menengah ke bawah menjadi konsumen menengah ke atas.
Perubahan image harus dibayar dengan harga tertentu. Gerai-gerai yang tidak membawa citra yang kuat dipindah ke lantai atau titik yang kurang strategis, demi memberikan tempat untuk gerai yang dirasa akan memperkuat image yang sedang dibangun. Contohnya, sebuah mal di Jakarta melakukan itu untuk warung kopi terkenal asal Seattle.
Sekarang, di mal semakin jamak kita jumpai warung makan, fitness centre, tempat permainan anak, salon, tempat karaoke, dan bioskop. Ditambah pula venue untuk konser musik, pameran, dan perhelatan lain. Tempat-tempat tersebut semakin mendapat perhatian untuk dimaksimalkan pengelola, karena konsumen era ini sedang butuh lagi gandrung.
Disrupsi yang dibawa oleh era digital menikung dan berbelok sampai kemana-mana. Tanpa terkecuali ke arah bisnis ritel di mal. Klise, tapi memang apapun akan berubah, dan yang tak berubah hanya mereka yang rela untuk mati.

Sunday, January 20, 2019

Orang Tua Kita dan Lagu-Lagu Favoritnya

(sumber: medicaldaily)

Musik ialah perkara yang tidak akan pernah dapat dijauhkan dari hidup kita. Lagu-lagu selalu menghiasi setiap aktivitas sehari-hari, baik yang sengaja dimainkan atau terdengar sepintas dari segenap sudut sekitar.
Bahkan, jika definisi musik diperluas sampai ke wilayah apapun bunyi-bunyian, maka derap kaki, desau angin, dan ketukan di pintu akan termasuk di dalamnya. Semakin susahlah kita menghindar.
Musik memang tidak untuk dihindari. Musik ada untuk dinikmati, dihayati, dan dikaji. Baru-baru ini terdapat artikel di tirto.id yang mengkaji hasil survei yang dilakukan oleh penyedia layanan streaming musik, Deezer. Survei tersebut mendapatkan kesimpulan bahwa pendengar musik berhenti mencari musik baru rata-rata di usia 30 tahun.
Berhentinya pencarian terhadap musik baru disebut sebagai paralisis musikal, atau dalam istilah awam disebut kelumpuhan musikal. Fenomena itu disebabkan oleh beberapa hal.
***
Saya penikmat musik yang sudah sampai pada taraf “can’t live without”. Saya bekerja harus diiringi musik. Tulisan ini pun saya ketik dengan latar lagu Rendy Pandugo, Bryan Adams, dan Voodoo.
Seperti terbahas di tulisan sebelumnya (Perjalanan Karierku sebagai Gitaris), saya dibesarkan oleh orang tua penikmat musik. Maka saya pun tumbuh sebagai sosok yang sangat tertarik pada musik dan terus berusaha mengikuti kebaruan musik yang beredar.
Balita bernama ryan akan langsung bangun makjenggirat saat menangkap lagu Untukmu milik Tito Sumarsono di telinganya. Pun, Cintamu T’lah Berlalu-nya Koes Plus yang di-recycle Chrisye sampai sekarang masih terkenang sebagai penanda kenangan saat Bapak lari-lari menuju mobil pertamanya yang terparkir di pusat perbelanjaan di Semarang yang terbakar pada awal 90-an.
Yang ingin saya katakan, sejak kecil, selain diberi bubur Promina dan Sun, saya juga dijejali beragam jenis musik. Alhasil, tingkat kepentingan musik bagi saya sudah setingkat di bawah udara, air, dan mendoan.
Mulai SMP sampai awal kuliah, saya rutin membeli kaset, baik dengan menabung atau mengharap belas kasihan Bapak. Setelah era mp3 mulai merajalela di sekitar 2007, kegiatan memperbarui referensi musik berubah menjadi beli mp3 bajakan, meng-copy dari teman, dan mengunduh dari internet secara ilegal.
Saat era internet semakin menelusup ke tiap titik terkecil hidup kita, musik dapat terus terbarukan melalui aplikasi streaming seperti Joox, Spotify, Deezer, dan sebagainya. Di ponsel pintar saya terpasang Joox dan Spotify.
Selain itu, YouTube telah menjadi kanal tanpa batas untuk terus mencari musik baru yang kita sukai. Ia saat ini termasuk dalam tiga besar aplikasi yang menghabiskan kuota internet saya di setiap harinya.  
***
Dengan profil era internet yang tanpa batas seperti saat ini, sebenarnya mencari musik-musik terbaru bukanlah menjadi pekerjaan yang sukar. Genre apapun, dari manapun, solo, duo atau grup dapat kita cari dengan satu ketukan jari. Tetapi rupanya, paralisis musikal tetap melanda sebagian manusia.
Hasil survei Deezer tidak benar-benar salah tetapi juga tidak 100% benar bagi saya. Sampai hari ini, saya masih penasaran jenis musik apa yang sedang tren dan siapa saja artis yang sedang hype. Tetapi, jika dibandingkan dengan saat masih SMP, SMA, dan kuliah, saya sudah tidak sebergairah jaman itu dalam mencari musik baru.
Saya masih tahu nama-nama seperti Brisia Jodi, HiVi, Marion Jola, Rendy Pandugo, Barasuara, Silampukau, Pusakata, FourTwnty, pun lagu-lagunya juga masih masuk ke telinga. Artinya, saya belum terlampau usang untuk mencerna musik-musik dari musisi yang terhitung gres itu.
Untuk musisi asing, saya masih kenal Ed Sheeran, Anne Marie, Dua Lipa, Khalid, dan Calum Scott. Lagu-lagunya pun tak jarang masuk ke dalam daftar putar di aplikasi streaming.
Meskipun saya seolah paham lalu pamer soal nama dan lagu musisi-musisi baru, tetap saja mereka tidak dapat membuat saya menggilai dan lalu mengerahkan serangkaian usaha untuk “mendekat” ke mereka. Misal, semacam mencari profil kehidupannya, mendatangi konsernya, lalu membeli karya-karya mereka.
Mereka tetap belum bisa mengalahkan kelas Sheila on 7, PadI, Slank, Dewa 19, Gigi, Red Hot Chili Peppers, Coldplay, Santana, Queen, dan sebangsanya di hati saya. Mungkin saya telah memasuki masa-masa awal kelumpuhan musikal.
Saya terkategori dalam tetap mencari musik-musik baru. Tapi, setelah ketemu dan didengarkan, ya sudah begitu saja. Belum bisa menancap erat seperti musik di masa-masa dulu saat masih sekolah, kuliah, dan mengecap indahnya kasmaran.
Saya sudah di tahap cukup dengan musik-musik yang telah lama saya kenal. Justru, saat ini saya tertarik pada musik-musik lawas era 50an-70an. Jadi susah ini pengkategoriannya, karena saya mencari musik baru tetapi lawas. Saya tetap mencari musik-musik yang belum pernah saya dengarkan, tapi bukan dari musisi yang muncul baru-baru ini. Mungkin begitu deskripsi gamblangnya.
***
Deezer, dalam surveinya, sebenarnya ingin menyatakan bahwa orang-orang berhenti mencari musik baru bukan disebabkan sudah tak lagi menggemari musik, tapi karena sudah kehabisan waktu. Habisnya waktu ini muara dari beragam alasan. Mulai dari kesibukan kerja, merawat anak, sampai kewalahan mengikuti banyaknya pilihan musik sekarang ini.
Artikel juga menuliskan, hasil riset menunjukkan lagu-lagu favorit di masa remaja mampu merangsang respons kesenangan di otak. Dari sana, otak melepaskan dopamine, serotonin, oksitosin, dan unsur kimia lain yang dapat membuat kita bahagia. Maka, lagu-lagu yang kita sukai akan lebih lama melekat dalam diri kita.
Itulah jawaban mengapa orang tua kita berhenti di lagu-lagu jaman mudanya. Lagu-lagu Koes Plus, Panbers, D’Lloyd, dan Rinto Harahap selalu dibawakan di forum-forum reuni. Lagu-lagu Obbie Messakh yang melankolis masih sering dibawakan pakdhe dan budhe dalam karaoke dengan penuh penghayatan sambil terbayang masa lalu. Lagu Ratih Purwasih dan Endang S. Taurina pun selalu mendapat tempat dalam bus pariwisata yang membawa bapak ibu kita ke tempat dimana mereka pernah merenda janji..
Yang~ hujan~ tuuurun~ lhaagiii~ 

Wednesday, December 19, 2018

Perjalanan Karierku sebagai Gitaris

(sumber: bbc.co.uk)

Entah mengapa sejak kecil saya sangat tertarik pada gitar. Padahal, di rumah tidak ada yang punya dan tidak ada yang bisa memainkannya. Gitar pertama saya adalah gitar plastik mainan yang saya pasangi tali agar bisa dimainkan sambil berdiri. Foto saya bergitar, berkaca mata, dan bertopi sampai sekarang masih tersimpan di album foto keluarga. Di situ saya sangat mirip Eric Clapton cilik usia empat tahun.
Bapak saya, satu-satunya lelaki di rumah, bukanlah pemusik. Tapi, beliau penikmat musik lintas genre dengan koleksi kaset bertumpuk-tumpuk.
Koleksi beliau mulai Queen, Beatles, Deep Purple, The Who, Cream, Led Zeppelin, Scorpions, dan Michael Jackson. Ada pula kaset lawak Basiyo dan Warkop. Untuk pop dalam negeri, Bapak punya edisi lengkap kaset Koes Plus seri Nusantara, Chrisye, LCLR Prambors, Ebiet G. Ade dengan Seri Camelia, Iwan Fals, Hari Mukti, The Rollies, OST. Badai Pasti Berlalu dan lainnya.
Dari sudut dangdut ada Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, Iis Dahlia, Meggy Z. Muchsin Alatas, Leo Waldy, dan Mansyur S. Ada pula murottal Muammar ZA, Maria Ulfa, kaset ceramah Zainuddin MZ, dan KH Qosim Nurseha. Tentu masih banyak kaset lain dan saya lupa apa saja.
Pokoknya, sebatas pengetahuan selama ini, Bapak saya ini paling luas referensi musiknya dibanding bapak-bapak lain yang saya kenal dan tahu. Maka, jangan heran jika kemudian beliau ini merangkap juga sebagai idola saya.
Suatu ketika, saat saya pulang ke rumah di masa liburan kuliah, daftar putar memainkan lagu Cintaku Tertinggal di Malaysia yang dinyanyikan Dewa 19. Bapak mendengar lalu berkata: “Lho iki ‘kan lagu Barat lawas, Bapak ana kuwi kasete!” Beliau pun bergegas ke lemari dan mengambil sebuah kaset dan lalu menyetelnya.
Terdengarlah lagu Ruthless Queen milik Kayak. “Piye, Le? Bener to lagune kuwi?” begitu sahut Bapak. Benar saja, belakangan diketahui Ahmad Dhani membeli lagu tersebut dan diganti liriknya.
Kembali ke gitar. Saya pertama bisa berhasil memegangnya secara langsung saat bertandang ke rumah kakak sepupu di Semarang. Saya langsung terpikat, memegang, dan menggenjreng senarnya. Tentu tanpa chord.
***
SD saya memiliki inventaris sebuah gitar akustik yang jika sedang tidak digunakan Pak Nur Ahsan (guru paling lucu, sekaligus galak, dan pandai bermain musik), ia digantung di dinding kantor guru. Saat saya memasuki kantor karena diperintah mengambil sesuatu, hampir dipastikan tangan saya menggapai gitar untuk sekadar merasakan sensasi menggenjreng. Sekali lagi, tanpa chord.
Hidup terus berlanjut dan musik senantiasa menghiasi. Kaset-kaset Bapak terus disetel dan menambah khazanah perbendaharaan musik saya. Sekadar info, saat TK, saya sudah pandai menyetel sendiri album Dangerous milik Michael Jackson. Jika saja kaset itu mampu berbicara, pasti ia akan protes karena lagu Black or White saya ulang tiada lelah.
Meski muncul dan hilang, impian untuk bisa bergitar terus terbangun. Hanya saja saya bingung, bagaimana cara dan dari mana saya bisa. Paman saya yang tinggal di sebelah rumah konon bisa, tapi gitarnya tak ada. Terus piye ‘kan.
Impian bisa bergitar seringkali redup bahkan sirna menghadapi realita yang tidak mendukung. Namun rupanya Tuhan mendengar ada setitik hambaNya yang mempunyai hajat estetis itu. Selain mendengar, Tuhan ternyata tidak tega.
Di belakang rumah, terdapat rumah mungil yang telah sekian lama kosong. Tak dinyana, entah darimana datangnya, tiba-tiba tiga lelaki bersaudara mengontraknya. Mereka tak terdeteksi asal muasalnya dan tidak diketahui nasab atau garis keturunannya. Sekonyong-konyong muncul menjadi tetangga.
Karena rumah kontrakan tidak memiliki sumber air yang layak, mereka menggantungkan kebutuhan pada sumur milik Mbah Kakung saya, yang sebenarnya menyumberkan air berwarna kuning dan agak berbau. Konon, ini karena tanah tempat rumah Mbah Kakung dan rumah kami yang bersebelahan, pada jaman dahulu adalah sebidang rawa. Oleh karena itu, sejak PDAM lahir, sumur kami pensiunkan.
Lokasi sumur persis di sudut belakang rumah kami. Karena Mas Wignyo, Mas Malik, dan Mas Joko sering melewati halaman belakang saat menimba, otomatis perkenalan dan lalu keakraban terjalin.
Rumah kontrakan, tiga lelaki bersaudara, dan sumur adalah mozaik yang menuju pada lengkapnya gambar yang disusun Tuhan. Mozaik itu membentuk gambar utuh yang menampilkan kabar bahwa Mas Wignyo punya gitar!
***
Tahun itu tahun 2001, saya duduk di kelas 2 SMP. Jaman itu jaman dimana musik Indonesia sedang ganteng-gantengnya. Dewa 19 baru saja bangkit dari mati suri dan merilis album Bintang Lima. Once dengan timbre suara dari antah berantah mengantar Dewa 19 meraih puncak kesuksesan. Seketika Ari Lasso terlupakan. Tio Nugros yang tampan itu paten pula sebagai penjaga tempo lagu-lagu dahsyat Ahmad Dhani --yang saat itu belum kenal politik dan Mulan Jameela.
Sheila on 7 baru selesai merilis album Kisah Klasik untuk Masa Depan, album kedua yang juga laku di atas satu juta keping. Padi juga sedang di kulminasi popularitas dan musikalitas. Album Sesuatu yang Tertunda membuat mereka semakin diperhitungkan dalam skena musik Indonesia.
Single hits Mahadewi (album Lain Dunia) yang meledak disusul tanpa ampun dengan dirilisnya Sesuatu yang Indah dan Semua Tak Sama (album Sesuatu yang Tertunda). Padi kontan mereguk kesuksesan besar dan masuk dalam jajaran band elite Indonesia, sejajar dengan Dewa 19, Slank, GIGI, Sheila on 7, dan jangan lupakan Jamrud yang setahun sebelumnya menggila lewat album Ningrat.
Indonesia saat itu masih punya MTV sebagai barometer musik berkualitas. Publik otomatis mendapat asupan musik-musik nutrisi tinggi hingga telinga menjadi sehat dan berkelas. Publik sebagai penikmat pun bergairah menyambut atmosfer musikalitas yang meletup-letup. Atmosfer itu pula yang terhirup oleh kami remaja-remaja tanggung yang hanya bermodalkan gaya.
Saya yang di awal SMP sudah memiliki selera musik sendiri, mulai merengek untuk dibelikan kaset. Berangkat dari pergumulan dengan kaset-kaset itu, juga MTV yang terus menampilkan musik bagus, gairah bisa bergitar semakin bergelora. Apalagi, gitar Mas Wignyo tersedia kapan saja untuk dijadikan sarana.
Meski si empu gitar adalah Mas Wignyo, sosok yang kemudian tampil mengajar saya gitar adalah Mas Agus Bogel, tetangga sebelah kontrakan Mas Wignyo. Mas Agus ini diketahui lama bergaul dengan kawan-kawannya yang anak band, hingga ia pun bisa bermain musik.
***
Setiap pulang sekolah, saya bertandang ke kontrakan Mas Wignyo, yang biasanya telah diisi juga oleh Mas Ganang dan Mas Agus. Mas Ganang ini saudara jauh kami asal Bekasi yang dipindahkan sekolah ke Purwodadi karena tiap minggu ada saja temannya yang tewas karena tawuran antar STM.
Mas Ganang juga pintar bergitar dan saat saya mulai belajar gitar, ia sedang gandrung memainkan Minority-nya Green Day dan Ketaman Asmara-nya Didi Kempot. Masih teringat bagaimana ia menyanyikan lagu Jawa itu dengan logat anak gaul Jakarte yang kental.
Awal belajar gitar, Mas Agus dengan telaten menuliskan chord-chord dasar di secarik kertas. Kemudian, jari saya dituntun untuk memencet titik-titik senar hingga sebuah chord terbangun dan menghasilkan bunyi.  
Karena saya senang, maka tiap hari saya ke Mas Wignyo untuk meminjam gitarnya. Tak berapa lama, penguasaan bergitar saya sudah lumayan. Lagu pertama yang bisa dengan lancar saya mainkan adalah Mahadewi (Padi).
(Bersambung...)