Thursday, January 11, 2018

Makna Lagu "Andaikan Kau Datang" Menurut Tonny Koeswoyo

(sumber gambar: gazebo.id)
Indonesia patut bersedih. Koesyono Koeswoyo, legenda besar musik Indonesia, wafat (05/01). Koesyono, yang lebih dikenal sebagai Yon, menghembuskan nafas terakhir setelah cukup lama menderita komplikasi diabetes. Indonesia kehilangan maestro yang tiada bakal terganti.
Yon adalah gitaris merangkap vokalis band legendaris Koes Plus. Bagi anak-anak zaman saiki, Koes Plus adalah perkara asing yang tidak menarik. Tapi tanyakan kepada Simbah, Pakdhe, dan Bapak kita siapa Koes Plus, maka beliau-beliau akan antusias bercerita betapa banyak lagu Koes Plus tandas menjadi kenangan abadi.
Terlalu banyak yang harus diceritakan perihal Koes Plus. Maka jalan tengah terbaik yang paling realistis adalah mencari sepenggal kisah yang bisa diuraikan dalam satu kesempatan. Kali ini, kisah saya pilih dari salah satu lagu Koes Plus yang paling masyhur, “Andaikan Kau Datang.”
***
Sebagaimana hal-hal lain di kehidupan yang seringkali disalahpahami, demikian pula sebetulnya yang terjadi pada lagu “Andaikan Kau Datang”. Kesalahpahaman itu sejatinya tidak dapat dipersalahkan, karena memang ruang penafsiran seluas-luasnya dimiliki penikmat. Suka-suka saja mau dikira tentang apa itu lagu.
Selama ini, “Andaikan Kau Datang” dipercaya sebagai lagu yang menuturkan tentang cinta antara dua insan manusia. Kepercayaan itu sah-sah saja, karena liriknya memang nampaknya bercerita tentang itu. Tapi, kepercayaan itu harus segera dihapuskan.
Pada 29 November 2015, Yok dan Nomo Koeswoyo ikut serta dalam acara Maiyahan di Tuban bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Malam itu, Yok menyinggung proses penciptaan “Andaikan Kau Datang”. Yok bercerita, sebenarnya lagu “Andaikan Kau Datang” bukanlah lagu yang diniatkan oleh Tonny Koeswoyo (kakak dari Nomo, Yon, dan Yok) untuk menyanyikan kisah kasih lelaki dan perempuan. Sebagai informasi, Tonny telah dipanggil Sang Khalik pada tahun 1987 karena menderita kanker usus.
Sebelum memasuki penjelasan tentang maksud lagu “Andaikan Kau Datang”, perlu rasanya dipanggil kembali ingatan tentang bagaimana sebenarnya bunyi lirik yang memainkan peran penting di lagu ini. Dalam refrain, lagu asli berbunyi “andaikan kau datang kemari”. Namun belakangan ini, kalimat tersebut mengalami pengubahan bunyi menjadi “andaikan kau datang kembali”. Kata “kemari” berubah menjadi “kembali”.
Dalam acara-acara seperti reunian, halal bi halal, pernikahan, dan lain sebagainya, para biduan dan dermawan penyumbang lagu jamak terdengar menggunakan “kembali”. Saya tak tahu persis, mulai kapan “kemari” berubah menjadi “kembali”. Mungkin, mungkin ya, perubahan itu dimulai saat muncul album Salute to Koes Plus tahun 2004 yang diprakarsai Erwin Gutawa.
Pada album dimana saya juga sempat membeli kasetnya itu, lagu “Andaikan Kau Datang” dinyanyikan oleh penyanyi wanita bersuara dahsyat, Ruth Sahanaya. Nah, ia menggunakan “kembali”. Kemudian, Noah dalam album Sings Legends (2016) ikut menyanyikan “Andaikan Kau Datang” dan juga memilih gunakan “kembali.
Baiklah, kembali ke makna lagu. Yok meneruskan, saat Tonny sakit, ia membuka tabir rahasia niat awal penciptaan “Andaikan Kau Datang”. Tonny berkata, lagu itu berisi pengandaian bagaimana keadaan saat nanti ia telah meninggal dunia. Saat dimana apapun sudah tidak dapat diputar kembali.
Potongan lirik “setelah aku jauh berjalan, dan kau ku tinggalkan” menarasikan saat roh berpisah dengan jasad. Kata “kau” dalam refrainandaikan kau datang kemari” dimaksud sebagai kata ganti malaikat yang menghampiri untuk bertanya kepada kita di alam kubur. “Jawaban apa yang ‘kan kuberi” merujuk kepada ketakutan tentang jawaban apa yang tepat untuk merespons pertanyaan malaikat. Yok merinci, lagu ini tercipta pasca Tonny belajar mengaji dan diterangkan tentang kehidupan setelah mati oleh Pak Kiai.
Yok melanjutkan, Tonny sengaja menggubah suatu lagu yang bermakna mendalam seperti itu dengan nuansa percintaan anak remaja. Itu semata agar lagu dapat menjangkau khalayak yang luas, agar pesan tersebar merata. Sekarang, rasakan apakah perubahan “kemari” menjadi “kembali” berpengaruh dalam bangunan lagu..
***
Setelah Yon berpulang, praktis Koes Plus secara de facto tidak lagi berkiprah. Karena dalam beberapa tahun ke belakang, hanya Yon yang tersisa sebagai personel asli. Setelah Yok memilih rehat dan Murry tutup usia, Yon satu-satunya yang masih bertahan tampil dari panggung ke panggung ditemani musisi muda sebagai additional player.
Sekarang, sudah tiada lagi musisi-musisi yang tampil, bermusik, dan bergaya hidup murni sederhana. Koes Plus bukan sekumpulan virtuoso, mereka hanyalah musisi dengan skill selumrahnya dan bersenjatakan chord dasar untuk melagukan kehidupan. Lagu-lagu mereka bukan lagu dengan progresi rumit dan sulit untuk dibawakan. Lagu-lagu mereka adalah nyanyian hati.
Dari balik kesederhanaan, mereka menawarkan 1000-an lagu yang mewarnai hidup jutaan manusia. Lagu-lagunya tidak akan ikut hilang bersama pendendangnya. Koes Plus abadi bersama kenangan yang telah ditinggalkannya.

Cak Nun menulis: “Koes, Bersaudara maupun Plus, tidak mempertandingkan diri, tetapi mereka ‘pilih tanding’. Mereka tidak membandingkan diri dengan siapapun lainnya, tetapi mereka tak terbandingkan. Karya mereka, terutama Mas Tony, bukan hanya ratusan, melainkan ribuan. Semuanya enak, semuanya sedap, semuanya nyamleng, karena semua karya mereka adalah jiwa orisinal semua pendengarnya. Setiap orang yang baru mendengar lagu Koes Plus, merasa sudah pernah mengenal bahkan menghafalnya.

Saturday, January 6, 2018

Suatu Malam Bersama Empat Bos



(sumber gambar digitalbrandinginstitute.com)

Saya punya teman bernama Kasemiro yang berprofesi sebagai pengusaha. Sekitar Mei 2017, tiba-tiba ia menghampiri dan mengeluh perihal Waldi, rekanannya yang ingkar janji. Begini alurnya..
Kasemiro jengkel bukan buatan. Waldi berjanji membayar utang namun saat jatuh tempo justru menghilang. Ditelepon tidak diangkat, di-WA cuma dibaca tanpa balasan. Dan itu terjadi berkali-kali, berbulan-bulan lamanya.
Saking jengkelnya, Kasemiro menyusun strategi untuk melakukan penagihan dengan sedikit ekstrim. Ringkasnya, eksekusi mendatangkan hasil, walau hanya setengah utang yang dibayar. Lumayan daripada blas, begitu kata Kasemiro.
Seingat saya, sejak bertahun lamanya menekuni usaha, baru sekali ini Kasemiro jengkel sampai gethem-gethem. Ia bercerita, Waldi dan istri saat bertemu selalu berpenampilan sopan. Tutur kata halus tertata, pun tingkahnya mundhuk-mundhuk. Tapi saat utang harus dibayar, mereka tega menjelma dua tokoh antagonis yang memancing emosi.
***
Berbulan setelahnya, pada suatu malam saya berkesempatan berbincang dengan Muslih, seorang peternak ribuan ayam, pemilik berhektar-hektar kebun sawit, dan baru-baru ini melebarkan sayap ke bidang property. Secara penampilan, Muslih tidak nampak sebagai pengusaha dengan aset bermilyar-milyar. Ia seorang sederhana dalam arti sebenarnya.
Kemana-mana Muslih bersepeda motor bebek, yang dari penampakannya jelas jarang dicium buih sabun. Mobil hanya satu, itu pun dari segmen low MPV yang dimiliki jutaan orang lainnya. Rumahnya biasa saja. Tidak terletak di cluster mewah, tapi di sudut kampung.
Muslih bertutur, beragam usaha yang dimilikinya diawali dari usaha bengkel motor. Ia memang mempunyai keterampilan montir motor. Tapi karena suatu hal, bengkel harus ia suntik mati. Bergeserlah ia ke peternakan.
Peternakan ayam tidak berawal dari modal besar. Muslih memulai dari puluhan ekor saja. Sampai kemudian ayam-ayam itu saling cinta, memutuskan berkeluarga, dan beranak-pinak mencapai ribuan ekor karena tidak ikut KB. Yang patut diingat, gerombolan ayam itu tidak sekadar berkeluarga, namun ikut pula memakmurkan Muslih.
Saat asyik-asyiknya beternak, seorang teman menghampiri dan menawarkan bisnis yang saat itu masih sangat jarang ditekuni orang. Ditambah, usaha itu benar-benar baru bagi Muslih. Ia bimbang. Lalu entah ilham apa yang mendatangi, dengan sedikit nekat ia memutuskan join dengan usaha yang ditawarkan temannya. Mulai saat itu, Muslih terjun dalam usaha perkebunan sawit.
Usaha kebun sawit cukup lama dirintis. Untuk diketahui, Muslih harus lillahi ta’ala dalam menjalankannya. Karena ia hanya bisa memantau secara rutin melalui telepon. Muslih di Yogya, usaha kebun sawit dipercayakan kepada teman yang bermukim di Sumatra. Usaha kebun sawit Muslih jalankan murni berlandaskan asas kepercayaan.
Untung saja, sepanjang perjalanan merintis kebun, teman yang dipercaya sangatlah amanah. Catatan sejak awal mula dulu sampai tahun sekarang, tertulis rapi dalam lembaran laporan-laporan yang akuntabel. Empat-lima tahun lalu, Muslih mulai mengecap kesuksesan kebunnya. Tiap bulan ia menerima transfer dengan jumlah yang cukup untuk menebalkan rasa percaya diri.
Dari hasil kebun sawitnya, Muslih sudah berhaji dengan sang istri. Pun, ia sisihkan hasilnya untuk terjun ke bidang property. Saat ini ia sudah memiliki beberapa ruko yang ia sewakan. Uang bukan lagi masalah untuknya. Setidaknya begitulah yang dapat terlihat dan terkalkulasi.
Saat saya singgung bahwa hidupnya tinggal menikmati dan bepergian berfoto-foto like there’s no tomorrow, Muslih mensyukuri sambil sedikit membantah. Ia berkata, apa yang terlihat tidak selalu demikian pula yang ia rasa. Ia berkata, saat rejeki datang seperti digerojokkan, di sisi lain selalu saja ada kebutuhan yang harus dicukupi. Bahasa mudahnya, yang masuk banyak, yang keluar juga.
***
Di malam yang sama, saya bertemu dengan pengusaha muda, sebut saja Heri. Ia menekuni usaha persewaan kamera DSLR. Sebuah usaha yang akhir-akhir ini mulai banyak bermunculan.
Tiap bertemu pengusaha, selalu saya tanyakan bagaimana awal mula mereka berusaha dan mengapa memilih usaha itu untuk ditekuni. Kepada Heri, saya juga bertanya demikian. Saya penasaran, karena walau sudah banyak yang terjun ke sana, bagi saya menyewakan kamera tetap saja jenis usaha yang unik. Heri bercerita, awal ia usaha sebenarnya bukanlah menyewakan kamera tapi modem internet. Saya pun ternganga. Dari mana pula tercetus ide menyewakan modem.
Saya telisik terus. Rupanya, di tahun 2009 persewaan modem adalah hal biasa di kalangan mahasiswa. Tolong maklumi keheranan saya, di tahun itu saya tidak pernah menyewa modem, karena sudah dibeliin sama papah.. #horangkayah
Usaha persewaan modem Heri didasari keinginan membantu orang tua. Saat itu, ia mengalami kecelakaan yang menghabiskan banyak biaya. Ia tak sampai hati melihat orang tuanya susah payah membiayai kuliah sambil mengusahakan kesembuhannya. Berinisiatiflah ia menyewakan satu-satunya modem yang ia miliki, dan ternyata sangat laris. Modem tidak pernah pulang, ia terus digilir pelanggan.
Di saat usahanya lancar berjalan, datanglah seseorang yang menanyakan, selain menyewakan modem, apakah ia juga menyewakan kamera DSLR. Dari situlah awal bisnis persewaan kameranya. Sekarang, Heri sudah memiliki lima orang karyawan dengan jumlah kamera yang tidak terhitung.
***
Saat sedang berbincang panjang lebar dengan Heri, datanglah seorang pengusaha yang sebelumnya tidak saya kenal. Ia mengaku bernama Darno. Langsung saja saya hampiri dan saya tanya-tanyai. Sesuai SOP yang saya anut di atas, saya tanyai mengapa menekuni usaha itu dan bagaimana awalnya.
Darno bercerita, sebenarnya ia dulu seorang karyawan. Lalu setelah bekerja sekian tahun, ia merasakan bukan di situlah passion-nya. Ia keluar dan membuka usaha yang sekarang ia tekuni. Dengan modal keberanian, ia mulai usahanya tanpa banyak berpikir. Yang penting dijalani sambil terus menjaga spirit. Ia juga berkata, untuk menjadi pengusaha harus selalu menunaikan apa yang dituntun agama. Oleh karena itu, ia selalu menjalin relasi dengan banyak orang, sebagai manifestasi silaturahim yang dijanjikan akan menambah rejeki dan memanjangkan usia.
Karena saya tahu Darno bergerak di bidang usaha yang sama dengan Kasemiro, maka saya tanyai apakah ia mengenalnya. Darno mengaku tidak mengenal namanya dan bertanya apa nama usaha Kasemiro. Setelah saya sebut nama usaha Kasemiro, ia manggut-manggut saja. Di saat itulah, makbedunduk Kasemiro muncul di belakang saya. Lalu saya bilang, “Lha ini Kasemiro, Mas!
Setelah menyalami saya, Kasemiro mendekati Darno untuk berbincang berdua saja. Karena saya merasa mereka terlibat pembicaraan penting yang tidak ingin saya dengar, saya pun menjauh.
***
Saya menyimpan keinginan suatu saat bisa memulai usaha sendiri. Tetapi sampai sekarang belum tentukan sektor usaha apa yang akan saya pilih. Saya masih berpikir dan menimbang-nimbang segala risikonya.
Sementara, dari sekian banyak pengusaha yang saya temui, selalu saja usaha mereka awali dari bergerak dan tidak banyak berpikir. Yang saya simpulkan, mereka langsung saja memulai usaha sambil terus lakukan proses perbaikan. Bukan menunggu apa-apa telah baik baru memulai.
Pengusaha sukses selalu mengawali usahanya dengan satu usaha kecil. Dari satu usaha itu, lambat laun akan terbaca peluang untuk dimasuki. Lalu dari sanalah usahanya menggurita menyentuh beragam sektor, yang bahkan sebelumnya terpikir saja tidak.
***
Usai berbincang cukup lama dengan Darno, Kasemiro mendekati saya.
Saya tanya, “Sudah selesai bicara sama Darno?”
Kasemiro bingung, “Darno siapa?
Saya tak kalah bingung, “Lho, itu sing mbok ajak ngobrol tadi ‘kan Darno to?”
Kasemiro menjelaskan, “Bukan Darno, tapi Waldi!”

Wednesday, December 20, 2017

Mas Don, Mengapa Kau Tinggalkan Kami..

(sumber gambar: leftleave.org)
Tanggal 17 November 2017, akun resmi Instagram Ada Band mengumumkan Donnie Sibarani tidak lagi berposisi sebagai vokalis. Tidak seperti band lain yang menutupi keluarnya personel dengan bersembunyi di balik alasan ketidakcocokan, Ada Band menulis keluarnya Donnie karena yang bersangkutan ingin fokus beribadah. Satu lagi musisi yang menemani hari-hari, memilih jalannya sendiri..
Ada Band pertama kali saya kenal melalui lagu “Ough” di tahun 1999. Saat itu, Ada Band masih diperkuat Ibrahim Imran (Baim) sebagai vokalis merangkap lead guitar. Selain itu, ada Dika (bass), Iso (keyboard, suami Fla Tofu), E’el (drum, mantan suami Dea Mirella), dan Krishna Balagita (keyboard). Ketika itu, lagu-lagu Ada Band bernuansa rock dengan unsur elektronik yang disisipi lengkingan suara tinggi Baim. Lagu “Ough”, “Tiara”, dan “1000 Bayang” adalah beberapa hits yang sempat mereka lempar.
Tak berapa lama, formasi tersebut kocar-kacir. E’el dan Iso keluar, menyusul kemudian Baim. Tidak tanggung-tanggung, yang hengkang termasuk seorang vokalis, sosok yang sering dianggap representasi identitas band. Kontan saja, Ada Band terancam berubah nama menjadi Ngga Ada Band.
***
Ada Band rupanya masih eksis. Mereka tetap ada dan menawarkan vokalis yang sama sekali baru bernama Donnie Sibarani. Donnie berasal dari Surabaya dan belum tercium kiprahnya dalam dunia musik Indonesia. Ia benar-benar kinyis-kinyis.
Tapi jangan salah, Donnie langsung mampu memikat penggemar baru. Album-album Ada Band di era Donnie laris manis. Donnie hembuskan nafas baru bagi Ada Band. Mereka seperti terlahir kembali dengan konsep musik yang segar. Donnie membawa pengaruh besar.
Saat vokalis pergi, bayangan kehancuran band muncul di depan mata. Namun itu tidak terjadi pada Ada Band. Mereka mampu bertahan dan relatif lebih sukses daripada saat masih berjalan dengan formasi awal. Bahkan, kedatangan Donnie dapat dikatakan mengubah cetak biru musik mereka.
Era Baim dicirikan dengan sound-aransemen yang bernuansa rock, dan ini saya rasa demi mengimbangi karakter vokal Baim yang mudah menjangkau nada-nada tinggi. Sedangkan, Donnie dengan range suara antara bariton dan bass, dituruti personel lain melalui lagu-lagu pop manis melodius yang easy listening.
Lagu-lagu hits di era Donnie banyak dicetak oleh Krishna Balagita. Krishna pula yang bertanggung jawab dalam munculnya denting piano yang elegan dalam lagu-lagu mereka. Tanpa bermaksud menafikan peran personel lain, Krishnalah yang pantas disebut sebagai peletak dasar musik Ada Band era itu.
Langkah awal era Donnie ditandai dengan lagu “Masih (Sahabatku Kekasihku)”, sebuah pop anggun nan elite. Komposisi vokal Donnie yang lembut diiringi perpaduan rapi ritme gitar Marshal, bass Dika, melodi piano Krishna, dan tempo yang dijaga secara dewasa oleh Rama Moektio. Tak heran, lagu ini langsung menarik minat pendengar yang didominasi para gadis, mamah muda, dan lelaki berhati merah jambu.
Mulai dari sana, Ada Band seperti tak terbendung. Lagu-lagu maut dengan lirik yang dipikirkan masak dan musik yang santun terus saja diproduksi. Angka penjualan album stabil di angka tinggi.
***
Semua orang tahu, lagu mempunyai daya ungkit yang kuat hingga kenangan tiba-tiba menguar begitu saja. Begitu pula lagu-lagu Ada Band bagi saya. Di jejak-jejak kehidupan, lagu Ada Band hadir menghiasi dan di masa depan terpanggil kembali saat lagu diperdengarkan.
Lagu “Ough” tenar saat saya masih SD kelas 5. Lagu itu mengingatkan saat bersama paman dan kakak sepupu menuju sisi utara kecamatan kami. Perjalanan-perjalanan selama sekitar 30 menit itu rutin kami lalui seraya bercengkerama tertawa-tawa. Kami menuju ke sentra industri sale pisang dimana saat itu menjadi bisnis paman kami.
Lagu “Masih (Sahabatku Kekasihku)” mengingatkan situasi akhir-akhir SMP kelas 3 dan awal masa SMA. Lagu itu mengingatkan episode kegundahan buah konsekuensi problematika khas remaja tanggung. Video klip “Manja”, single kedua di album Metamorphosis dirilis saat saya memasuki usia kelas 2 SMA.
Saat memasuki pertengahan kelas 2 SMA, Ada Band merilis album Heaven of Love dengan hits single “Manusia Bodoh”. Lagu ini hiasi perjalanan kami menuju Bali dalam rangka study tour di Januari 2005. Kami gitaran, nyanyi, dan guyon tiada henti.
Lagu itu pula ingatkan masa lirik-lirikan dengan seorang gadis semampai. Maaf tak saya sebutkan ciri lain gadis itu, karena rahasia yang sekian tahun saya simpan di kalangan terbatas bisa-bisa bocor. Halah.
Begini, sebut saja gadis itu Marni. Yang saya yakini, Marni mencintai saya. Bagaimana tidak, lha dia ngirim salam duluan je. Bahasa tubuhnya jelas terlihat ungkapkan rasanya. Tenin!
Beribu petualangan kehidupan terlalui, lalu sampailah di jenjang akhir SMA. Di kelas 3 inilah saya temukan gadis yang kelak menjadi Bu Ryan. Di masa ini, terjawab pula keyakinan bahwa Marni memang menaruh rasa pada saya. Uhuk. Marni rupanya teman dekat Bu Ryan, lalu saat ia tahu Bu Ryan dan saya menjalin kasih, sontak ia tak sudi bertegur sapa dengan Bu Ryan. Ealah doi mutung, gaes..
Di masa awal dekat dengan Bu Ryan, lagu yang menemani adalah “Kau Auraku” dan “Setengah Hati”. Dua lagu yang sering kunyanyikan dengan genjrengan sambil membayangkan gingsul yang menyembul saat ia tersenyum. Uwuwuwu..
Sudah ya, kok malah tsurhat ngga penting ehe. Kembali ke Ada Band~
Di masa pertengahan menjelang akhir kelas 3, Ada Band merilis album Romantic Rhapsody. Album inilah yang telurkan lagu-lagu yang banyak munculkan kenangan bagi saya. Single pertama lagu ini adalah “Karena Wanita (Ingin Dimengerti)”.
Ada Band semakin berkesan bagi saya, karena rupanya Bu Ryan penggemar berat Ada Band. Dia ngefans banget sama Mz Donnie. Kata bijak bestari, apa yang disukai orang yang disayangi akan membuat kita turut menyukai. Begitulah kira-kira yang terjadi pada saya. Sebelum dengan Bu Ryan, musik cadas dan macholah yang menjadi kegemaran saya. Sejak dengannya, Ada Band ikut menambah khasanah musik saya.
***
Ringkas cerita, kami berdua sama-sama diterima kuliah di Bogor sana. Masa registrasi awal, mahasiswa dikumpulkan di Ghra Widya Wisuda. Di sini, mahasiswa ditanyai segala thethek bengek tentang biaya pendaftaran, mekanisme tes urine, dan lain-lain apa saja saya lupa. Di sela-sela itu, mahasiswa yang berani dipersilahkan menunjukkan bakatnya di atas panggung. Entah iblis apa yang merasuki Bu Ryan, ia yang pemalu tiba-tiba menuju panggung dan nyanyikan “Senandung Lagu Cinta” disaksikan ribuan pasang mata mahasiswa baru dan bapak ibunya. Turun dari panggung, seorang petugas keamanan berlari ke arahnya dan bertanya: “Mbak, itu lagu Ada Band yang baru ya?”
Setelah tunai urusan administrasi, kisah sejati masa kuliah dimulai. Kampus kami tak seperti kampus lain yang membebaskan mahasiswa akan tinggal dimana. Setahun pertama, kami diwajibkan menghuni asrama.
Saya mendapat jatah kamar paling ujung bernomor 270 asrama C3. Asrama putra mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama IPB ini terletak di tengah-tengah suasana yang jauh dari permukiman. Asrama kami dikelilingi pohon-pohon tinggi dan kicauan kutilang. Sejuk sekaligus ngelangut. Untuk ke pusat keramaian di Jalan Babakan Raya, tak kurang sekitar 1,5km harus kami tempuh berjalan kaki. Itulah pertama kali dalam hidup, tumit saya perlu diolesi Vaseline Intensive Care karena pecyah-pecyah.
Karena kami termasuk mahasiswa yang masuk lewat jalur tanpa tes, kedatangan kami mendahului mahasiswa jalur SPMB. Kami datang lebih dulu sekitar dua bulan sebelum mereka. Walhasil, suasana asrama yang terdiri dari lorong-lorong, tak jauh beda dengan suasana kuburan yang jarang diziarahi.
Di tengah kondisi seperti itulah Ada Band hadir melalui lagu “Surga Cinta” dari Nokia flip seri 6131 milik Giri, teman senasib asal Cianjur. Ia penghuni kamar 271, percis di depan kamar saya. Kamar itulah saksi masa-masa awal di Bogor dimana jadwal kuliah masih jarang, sebab kami hanya mendapat satu mata kuliah yaitu Kimia atau Matematika. Di sela-sela kuliah, saya sering ke 271 untuk bertukar cerita sebagai sesama anak rantau dan mengalunlah “Surga Cinta” disusul “Haruskah Ku Mati”. Giri, anjeun dimana ayeuna?
Beberapa hari lalu, “Surga Cinta” mampir di telinga karena jadi playlist teman seruangan. Seketika, ruang kerja menjelma menjadi kamar asrama. Meja komputer, buku-buku kerja, dan kursi berubah menjadi dipan tingkat, meja belajar, dan lemari-lemari yang kehilangan handle pintunya. Sehebat itu memang kekuatan lagu.
Saya mendapat kesempatan untuk secara langsung menonton konser Ada Band di Desember 2012 ketika mereka ditanggap di acara kantor kami. Saat saya tahu Ada Band menjadi pengisi acara, hal pertama yang saya perbuat adalah menghubungi Bu Ryan untuk pamer. Dia yang penggemar sejati justru kalah duluan bisa nonton Ada Band langsung dengan saya yang cuma nunut menggemari.
Kesempatan baginya tiba saat Ada Band konser bersama Sheila on 7 di Yogyakarta pada 20 Februari 2016. Konser itu saya rasa memang khusus dibuat untuk kami berdua. Lha gimana to, saya fans So7, dia fans Ada Band, kok ya mereka bisa konser bareng ‘kan. Kami girang sekali.
***
Ada Band yang sedang mapan-mapannya, tiba-tiba ditinggal Krishna. Kurang paham apakah ia keluar saat pembuatan album Harmonious (2008) atau sesudah album selesai. Yang pasti, di video klip “Baiknya” Krishna sudah tidak tampak.
Kehilangan Krishna adalah kehilangan besar. Menurut saya, kehilangan itu seperti O.M. Monata kehilangan Cak Slamet. Sebuah kehilangan fundamental.
Benar saja, pasca Krishna keluar, Ada Band terengah berjuang mencari-cari arah. Krishna terlanjur menancapkan kukunya terlalu dalam. Sepeninggalnya, Ada Band memilih untuk berjalan dengan tiga personel (Donnie, Dika, dan Marshal) tanpa ada pengganti Krishna, karena memang tidak terganti.
Dengan tertatih, Ada Band tetap berjalan dan pada 2011 memilih untuk merekrut secara tetap mantan drummer Tipe-X, Aditya Pratama. Mereka terus berkarya dengan musik yang lebih didominasi sound gitar Marshal. Sempat pula membawa konsep electronic dance music di album kompilasi Masa Demi Masa (2013). Saya masih sesekali mendengar kiprah mereka melalui “Pemujamu”, “Intim Berdua”, “Takkan Bisa”, dan “Kucuri Lagi Hatimu.”
Sekarang tanpa Donnie, Ada Band tetap bertahan. Terpantau, mereka sempat memakai additional vocalist wajah baru yang tidak terdeteksi identitasnya. Baru-baru ini, mereka beberapa kali memakai jasa Dudi (ex-vokalis Yovie & Nuno) dan saya setuju apabila Dudi direkrut menjadi vokalis tetap. Secara karakter, suara Dudi tidak jauh berbeda dengan Donnie. Misal fixed dengan Dudi, Ada Band bisa tancap gas tanpa perlu banyak penyesuaian. Lagipula, Dudi bukan orang baru di musik dan cukup berpengalaman. Kecuali, mereka ingin mengulang masa lalu dengan mengubah warna musik melalui vokalis yang sama sekali berbeda karakter.