Kamis, 05 Februari 2015

Tentang Pembicara yang Memohon Pemakluman



sumber gambar: kaskus.co.id


Belum lama ini, saya menghadiri forum yang diisi oleh pembicara yang -jika ditilik dari latar belakang studinya- dapat dikatakan sangat berkompeten. Beliau seorang pria paruh baya lulusan program magister sebuah universitas di Amerika Serikat. Dengan profil seperti itu, sudah sewajarnya tidak ada keraguan yang muncul atas kapasitas kemampuan beliau dalam mengisi acara sore itu.
Beliau seorang pembicara yang memiliki jam terbang tinggi. Sudah sejak awal dekade 90-an sering membagikan ilmunya di berbagai tempat. Setidaknya itulah impresi yang saya dapatkan dari bapak pembicara, sebut saja Pak Falcao. Sebuah kesan awal nan positif dan meyakinkan.
Setelah introduksi, Pak Falcao membuka pembicaraan dengan membahas hal-hal umum sebagai ice breaking. Semua berjalan baik dan lancar-lancar saja. Sampai pada terkuaknya rahasia bahwa apa yang akan disampaikan Pak Falcao merupakan pokok bahasan yang sama sekali baru bagi beliau. Mulai dari sanalah cerita berawal..
***
Pak Falcao setelah itu terlihat tak nyaman. Beliau seperti mengalami kegelisahan dan tampak ekspresi kegamangan. Tidak pede, itulah pesan non-verbal yang tertangkap dari gestur Pak Falcao. Kemudian beliau berkata, penguasaan tentang pokok bahasan itu belumlah matang. Yang terjadi berikutnya, beliau gamblang mengakui sempat mengalami stress sebelum tampil di depan kami.
Pak Falcao lalu mengambil langkah yang apabila kita tinjau dari segi etika norma Jawa (lokasi peristiwa di Yogya) sangat bisa diterima. Dengan rendah hati dan ksatria beliau berterus terang memohon pemakluman kepada kami, bahwa beliau memang belum cukup cakap memberikan konten materi. Namun, jika memohon pemakluman kita pandang dari sudut lain, yaitu profesionalisme komunikator, maka apa yang dilakukan Pak Falcao sebenarnya suatu hal yang sebaiknya dihindari.
Memohon pemakluman seperti yang Pak Falcao praktikkan sangat disarankan untuk tidak pernah dilakukan saat kita menjadi pembicara. Karena itu sama saja sedang menelanjangi kekurangan dan kelemahan kita sendiri. Padahal, pendengar datang untuk mendengar dan menyaksikan kita berbicara, yang berarti pendengar melakukan upaya tertentu untuk mencapai tempat dimana kita berbicara dan pembicara telah dipersepsikan sebagai sosok yang capable untuk diserap ilmu dan pengalamannya. Maka, yang harus kita lakukan sebagai pembicara adalah memantaskan diri semaksimal mungkin demi memenuhi harapan pendengar. Jika tidak, maka yang pertama terjadi ialah pembicara akan kehilangan perhatian dari pendengar. Pendengar pun akan dengan senang hati membuat forum di dalam forum, entah arisan atau menghelat sesi curhat terselubung.
***
Bagaimanapun, pendengar sebaiknya diperlakukan sebagai konsumen yang harus dipenuhi keinginannya. Maka pembicara seharusnya sedapat mungkin memposisikan diri sebagai penjual yang baik. Kebanyakan pendengar tidak akan mau tahu tentang kondisi pembicara, apakah dia siap atau tidak, sehat atau tidak, sedang bermasalah atau tidak, kangen atau tidak, cintanya tersampaikan atau dipendam. Di benak pendengar pastilah terdapat tuntutan untuk dipuaskan oleh pembicara. Karena sekali lagi, pendengar telah melakukan upaya tertentu demi mendengarkan apa yang disampaikan oleh pembicara.
Pendengar hanya peduli tentang ia akan mendapatkan pelayanan yang prima dari pembicara. Maka pendengar akan tak acuh dengan segala kondisi yang sedang terjadi pada pembicara. Pembicara sebaiknya tahu betul akan hal ini, karena jika tidak, pendengar akan meragukan kualitasnya. Yang di kemudian hari tentu akan membawa konsekuensi pada menurunnya tingkat kepercayaan pendengar. Efek lain yang tak dapat dipungkiri bisa muncul yakni menurunnya kredibilitas pembicara. Pendengar yang pernah menjadi “korban” pembicara itu tidak segan-segan bercerita kepada sanak keluarga dan handai taulan, dan tinggal tunggu saja The Power of Gethok Tular (word of mouth).

2 komentar: