Saturday, January 10, 2015

Saat Tawa Itu Hadir Kembali


sumber gambar: popsugar.com

Pada suatu siang, masuk sebuah pesan pendek ke ponsel kesayangan. Saat itu, saya sedang di luar kantor untuk suatu keperluan. Pesan itu mengabarkan, beberapa teman kantor usai menjenguk putri salah seorang sejawat yang juga bertugas di ruangan yang sama dengan kami. Saya penasaran, sakit apakah ia sampai dirawat di rumah sakit provinsi.
Setelah bertanya ke teman yang mengirim pesan, saya pun mendapat jawaban “Itu Mas, dirawat gara-gara darah putihnya kenapa gitu.” Walau belum mendapatkan kepastian, dari kata kunci “darah putih” saya menduga bahwa telah terjadi suatu penyakit yang serius padanya. Hipotesis awal saya mengacu ke penyakit berbahaya bernama Leukimia atau kanker darah. Tapi saya berharap keawaman saya salah.
Beberapa waktu kemudian setelah di kantor, segera saya bertanya untuk mendapat kejelasan. Pendek kata, apa yang saya takutkan terjadi, putri teman kami benar menderita Leukimia stadium awal. Betapa sedih dan ngganjel-nya hati pikiran teman kami..
Beberapa hari kemudian, sang ayah sudah kembali bertugas setelah disibukkan dengan masalah kesehatan putrinya dan mengurus administrasi ini itu di rumah sakit demi mendapat pelayanan terbaik. Saya melihat beliau tidak seperti biasanya. Terlihat jelas kerutan di dahinya yang menyiratkan beratnya ujian yang sedang menimpa. Tak lagi ada keceriaan dan canda seperti biasanya. Senyum tersungging, namun dalam keterpaksaan untuk keperluan keramahan dalam pergaulan.
Sebagai manusia normal berperasaan, wajar jika kemudian saya berempati dengan membayangkan jika seolah ujian itu menimpa saya. Alangkah beratnya. Masuk angin saja sudah sangat mengganggu kenyamanan badan dan membuat aktivitas terbengkalai. Bagaimana dengan kanker yang walau selalu ada kemungkinan sembuh, tapi identik dengan penyakit sangat berbahaya dengan persentase kesembuhan yang entah.
Kalau masih batuk, pilek, nggregesi atau canthengan dengan optimis sore nanti setelah tidur siang akan segera sembuh. Lha ini kanker yang membutuhkan usaha tak ringan untuk merasakan sehat seperti sedia kala. Putri teman kami sudah diprogramkan untuk mengikuti kemoterapi sebanyak seratus kali lebih. Kemoterapi dilakukan sekali seminggu. Jika dalam satu tahun 52 minggu, maka seratus kali lebih kemoterapi akan berjalan selama dua tahun. Belum lagi berbagai terapi lain dan rawat inap yang termasuk dalam program penyembuhan berkepanjangan itu. Tak terbayangkan betapa repot dan melelahkan..
Terpikirkan juga bagaimana kejiwaan anak usia sepuluh tahun yang harus menderita sakit berat seperti itu. Di usia yang seharusnya sedang riang-riangnya bermain, ia harus menghabiskan waktu wira-wiri ke rumah sakit. Harus berpaket-paket obat ia masukkan ke mulut mungilnya. Masih harus merasakan ketidaknyamanan tubuh yang tidak prima.
Menurut penuturan sang ayah, putrinya berangsur bisa menerima apa yang sedang terjadi padanya. Awal tahu ia menderita Leukimia, ia langsung berujar “sakitku kayak yang ada di sinetron itu ya, Pak”. Jika sedang dalam mood yang tidak baik, ia sering merajuk dan rewel. Tapi secara keseluruhan ia baik-baik saja, tentu baik-baik saja dalam keadaan bukan seperti anak pada umumnya. Ia tenang dan dapat mengerti, tapi tidak setrengginas biasanya. Tubuhnya mudah lelah dan lemas.
***
Apa yang sedang menimpa teman kami memang ujian yang menuntut fighting spirit dan kesabaran yang tidak sembarangan. Meski muncul lelah dan pesimis, hidup harus diteruskan. Lambat laun, setelah berjalan satu dua bulan ini, kawan kami kembali seperti semula. Mulai hadir tawa yang tergelak dan senyum yang lepas seperti sebelumnya.
Saat ujian datang pertama kali siapa pun orangnya akan terkejut dan tak rela. Lalu muncul gugatan kepada Tuhan, mengapa harus ia yang diberikan ujian. Lalu muncul pertanyaan apa salah dan dosanya, sampai Tuhan tega menghukum. Memang sudah sifat dan kodrat manusia yang tidak pernah siap menerima ujian. Sampai tiba masanya ia “dipaksa” untuk merasakan.
Tapi di dalam itu semua, jangan pernah lupa bahwa Tuhan adalah sebaik-baik penakar dan pengukur. Ia tidak akan keliru dan dzolim dalam memberikan ujian ke umatNya. Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambaNya, kalimat yang tidak akan pernah usang dan terhapus nilai kebaruannya. Kalimat yang selalu kontekstual dengan kondisi kapanpun, sepedih apapun. Walau berat, tetaplah berprasangka baik kepadaNya. Yakinlah Ia sedang membelai dengan kasih sayang dan mengurangi dosa-dosa kita.  
Semoga yang sedang sakit disembuhkan. Yang sedang diuji diberikan kesabaran. Yang doa-doanya masih tertahan segera dikabulkan. Ada aamiin?



No comments:

Post a Comment