Monday, April 15, 2013

Permainan Tradisional Riwayatmu Kini

(sumber gambar: holobis.net)
Seperti beberapa tulisan saya sebelumnya, tulisan ini lahir diawali dari percakapan santai. Kala itu saat istirahat dengan kawan-kawan kantor. Beberapa diantara kawan kantor, terdapat beberapa yang sudah berusia setengah baya. Sekitar usia 40-50 tahun, walau banyak pula yang masih kinyis-kinyis, seusia saya dan bapak atau ibu muda.
Percakapan siang itu, entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba masuk ke dalam bahasan tentang permainan tradisional. Kawan-kawan kantor mengenang bagaimana masa kecilnya dulu yang selalu lekat dengan permainan (dolanan) tradisional. Mereka berkata bahwa hari-harinya selalu dihiasi dengan permainan-permainan yang menyenangkan. Rata-rata jenis permainan yang dimainkan oleh anak-anak dalam jumlah banyak dan membutuhkan ruang terbuka untuk memainkannya.
Saya akhirnya ikut nimbrung dan seketika itu juga urun rembug tentang bagaimana serunya masa kecil saya karena seringnya ikut serta dalam permainan tradisional. Uniknya, ternyata jaman kawan kantor kecil (estimasi di jaman tahun 70-80an) dan jaman kecil saya, permainan tradisional yang kami alami relatif sama. Perbedaan terjadi rata-rata hanya pada nama permainan.
Saya masih ingat, ketika saya TK dan SD, sering sekali saya bermain jethungansepak tekongsetinan (kelereng), benthikembok embredbetengancek-cek mek, muk-muk'an, lompat karet (sounds wrong ya?), kasti dan lain sebagainya. Banyak sekali. Permainan dengan nama-nama unik di atas, jelas mensyaratkan untuk dimainkan secara kolektif. Mustahil untuk dimainkan secara tunggal. Baiklah, ijinkan saya untuk menenggelamkan diri ke masa lalu..
Saya juga ingat ada jenis permainan bernama donggleng. Saya ingat saya tak pernah memainkannya. Karena itu jenis permainan “kelas berat”. Donggleng ini semacam permainan kejar-kejaran dan bersembunyi. Seringkali harus melewati sawah-sawah dan lintas kampung. Ketika itu di era pertengahan 90-an. Saya masih ingat permainan itu hanya dimainkan oleh kawan-kawan saya yang sudah besar-besar, dan berusia jauh di atas saya. Mereka rata-rata lahir di awal 80an, dan saya lahir tahun 1988. Tapi merekalah kawan sepermainan saya. Saya memang paling kecil di dalam lingkungan sepermainan. Otomatis saya menjadi yang paling cute. Diantara mereka ada Mas Agus Bogel, Wawan, Budi Kopok, Arip, Heni, Didik, Boy, Solikin dan Eko Pace. Ada juga yang relatif sepantaran, yaitu Mas Kemal, Mas Erwin, Mas Pungkas dan Ary. Mereka sekarang rata-rata sudah berkeluarga dan sebagian sudah pergi entah kemana. Saya rindu mereka dan masa-masa itu.
Di jaman itu, ada jenis permainan usuman atau musiman. Jadi ada jenis- jenis permainan yang memiliki periode tertentu untuk dimainkan. Permainan musiman itu bakal ramai ketika musim dan hampir sama sekali tak ada yang memainkan ketika memang sedang tidak memasuki musimnya. Jenis permainan musiman diantaranya ada layangan, tembak-tembakkan dari bambu yang diisi kertas bekas, kelereng dan lainnya. Yang jadi pertanyaan saya ketika itu, bahkan sampai sekarang adalah: “Kira-kira sistem apa dan siapa tokoh intelektual di balik skenario pengaturan musim untuk permainan-permainan itu?” Saya bayangkan betapa hebatnya sosok itu, karena bisa menggiring anak-anak untuk memainkan dan tidak memainkan suatu permainan. Pasti ia tokoh yang memiliki banyak sumber daya, baik dana maupun jaringan untuk mengatur hegemoni itu. Betapa hebatnya ia. Halah..
Permainan-permainan itu lestari, seingat saya sampai saya lulus SD di tahun 2000. Selepas itu saya SMP, masih ada generasi penerus yang memainkan beberapa permainan musiman seperti layangan dan kelereng. Generasi Anto, Endra, Evan dan Didit adalah tokoh-tokohnya. Rata-rata mereka kelahiran awal tahun 90. Setelah itu diisi oleh generasi Hafidz, Aksal, Fisal dan Zidan (mereka kelahiran akhir 90an – awal 2000an), nah sejauh pengamatan saya, mereka sudah tidak memainkan permainan-permainan itu. Mereka adalah generasi play station, sepeda motor dan handphone. Layangan sesekali masih terlihat dimainkan, namun sudah tidak seramai dulu.
Dulu ketika musim layangan, di langit kampung saya (tentu saja di Megapolitan Purwodadi Grobogan), waduh ramai sekali. Di jaman saya kecil, gengsi tidak didapat dari keren-kerenan handphone yang dimiliki, tapi dari pemenang tarung layangan di angkasa. Layangan di sini adalah layang-layang bentuk segitiga yang berbahan dasar bambu dan kertas. Para petarung layangan ini, mengupayakan berbagai cara untuk memenangkan pertarungan di angkasa dengan musuh yang biasanya tidak diketahui siapa sosoknya. Karena memang tarung layangan adalah momen insidental yang tidak direncanakan sebelumnya. Mereka para pemain layangan, ketika sore hari menerbangkan layangan dan ketika ada prospek untuk tarung, ya ayo. Momen tarung layangan di kampung saya disebut dengan sangkutan.
Nah, untuk memainkan sangkutan layangan itu, berbagai upaya dilakukan. Mulai dari membeli benang gilasan atau bagi mereka yang tak suka membeli jadi benang gilasan, mereka lebih memilih untuk menggilas benang sendiri dengan menyampur beberapa komponen ramuan dan mengoleskannya di benang yang digunakan untuk menerbangkan layangan. Seingat saya di dalamnya terdapat pecahan kaca yang dihaluskan, pewarna dan putih telur ayam. Benang itulah yang akan digunakan untuk sangkutan. Sangkutan layangan ini akan diakhiri putusnya layangan dengan benang yang lemah dan teknik sangkutan yang kurang mahir. Dan momen layangan putus adalah momen yang ditunggu sampai kejar-kejaran ke pelosok kampung dan sawah. Harga layangan memang tak seberapa, tapi kepuasan rebutan dan lari-larian mengejar layangan putus dan kemudian mendapatkannya adalah suatu hal yang tak terdeskripsikan.. :”
Permainan-permainan tradisional di atas, membutuhkan gerakan fisik, ruangan terbuka dan pertemuan beberapa orang. Tiga poin itulah yang sebagian besar tidak dibutuhkan oleh permainan modern seperti video game NintendoSegaPlay StationX-Box dan jenis permainan virtual atau online lainnya. Jenis permainan modern itu bisa dimainkan secara individu, di dalam ruangan dan minim gerakan fisik. Dari tiga variabel perbedaan antara permainan tradisional dan modern di atas, jelas kita dapat simpulkan, bahwa permainan tradisional menang telak dalam segi kepositivannya.
Pertama, permainan tradisional untuk memainkannya membutuhkan gerakan fisik dan ruangan terbuka . Otomatis si pemain, akan bergerak dan ini ekuivalen dengan olah raga. Para penikmat permainan tradisional rata-rata memang diisi oleh anak-anak berfisik dan bermental kuat. Ini imbas sekaligus syarat untuk memainkan permainan tradisional. Mereka rata-rata menjadi anak-anak yang jarang sakit, tidak kegemukan dan sehat. Kebalikannya, permainan modern bisa dimainkan dengan cara tiduran atau duduk di dalam ruangan. Tentu ini akan berimbas pada kesehatan si anak.
Anak produk permainan modern akan sangat berbeda jika kita bandingkan secara head to head dengan anak pemain permainan tradisional. Kesimpulan saya sebagai awam, anak permainan modern tidak secekatan dan sepemberani anak permainan tradisional. Karena anak permainan tradisional terbiasa dengan tantangan fisik. Mereka menyentuh permasalahan secara langsung. Berbeda dengan anak permainan modern, mereka menemui masalah hanya di layar komputer atau tablet PC mereka. Masalah mereka hanya masalah virtual dan maya belaka.
Kedua, permainan tradisional pun mensyaratkan agar permainan dilakukan secara kolektif atau membutuhkan keikutsertaan banyak orang. Dari situ terlihat, bahwa permainan tradisional akan berefek positif pada aspek sosialisasi si anak. Anak akan belajar bergaul dan berteman. Mereka akan selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman-teman sepermainan. Anak akan belajar memecahkan solusi secara bersama-sama. Anak akan belajar memposisikan diri dalam suatu lingkup kelompok yang otomatis memiliki latar belakang, pandangan dan pendapat yang berbeda-beda. Mereka akan banyak bertemu dengan banyak orang yang akan berperan pada perkembangan kesehatan emosional mereka.
Adalah suatu keniscayaan bahwa perubahan zaman membawa turunan yang demikian banyak dan masif. Jika sudah berbicara tentang zaman, tentu akan muncul dikotomi zaman sekarang dan zaman dahulu, zaman kuno dan zaman modern. Selalu seperti itu. Jika saja hal tersebut tidak kita bawa-bawa, maka permainan tradisional dan produk masa lalu lainnya tidak akan menjadi korban tergerusnya masa lalu oleh masa sekarang. Permainan tradisional tidak akan terpinggirkan dan hilang karena kalah bersaing dengan permainan modern zaman komputer ini.
Alangkah indahnya jika permainan tradisional bisa menjadi pilihan di samping permainan modern. Alangkah menyenangkannya jika permainan tradisional tetap terjaga eksistensinya diantara arus utama permainan modern. Permainan tradisional memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh permainan modern. Sudah sewajarnya kita berusaha bersama-sama untuk nguri-uri permainan tradisional sebagai produk kebudayaan masa lalu.
Celakanya, kebanyakan anjuran untuk merevitalisasi permainan tradisional kebanyakan hanya berhenti pada tataran wacana. Mayoritas belum ada usaha dalam tahap realisasi. Pemerintah dan masyarakat sebaiknya bersinergi untuk mewujudkannya. Karena permainan tradisional tidak hanya sekadar permainan belaka, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai moral dan filosofis yang seharusnya tetap terjaga keutuhannya.
Syukurlah, di tengah sepi dan gersangnya upaya untuk melestarikan permainan tradisional, ternyata masih terdapat oase yang diharap-harap itu. Ya, di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Dusun Pandes, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, terdapat Kampung Dolanan. Kampung Dolanan tersebut diinisiasi oleh Komunitas Pojok Budaya pada tahun 2008 (situs National Geographic Indonesia). Di Kampung Dolanan tersebut terdapat beraneka ragam jenis permainan tradisional yang dewasa ini sudah sangat jarang kita temui dan dimainkan oleh anak-anak.
Koordinator Komunitas Pojok Budaya yang bernama Wahyudi Anggoro Hadi menyatakan bahwa diperkirakan sekitar sepuluh tahun lagi berbagai jenis permainan tradisional akan benar-benar punah. Suatu hal yang jangan sampai terjadi. Semoga melalui Kampung Dolanan tersebut, tergugahlah semangat komunitas-komunitas dan tokoh-tokoh lain untuk menyelamatkan permainan tradisional. Semoga permainan tradisional tetap selalu ada dan bahkan menjadi jenis permainan yang dibanggakan oleh generasi sekarang dan masa yang akan datang..

4 comments:

  1. Ah nostalgia,, ternyata saya punya kenangan masa lalu... benar-benar kenangan, di desa saja sekarang sudah susah ditemui :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sedih karena itu hanya akan menjadi kenangan, kecuali ada perubahan sosial secara sirkuler yang akan membawa kita kembali ke sana.. semoga.. :"

      Delete
  2. Hehehe..."Mesam-mesem dewe" baca tulisan mas Ryan kali ini. Ada jg permainan yg menguras tenaga hanya dgn duduk berjejer. "Suk-suk peng, sing tengah gepeng". Jd, cara mainnya adl yg duduk di kanan dan kiri hrs sm2 saling mendorong utk menekan yg duduk di tengah. Kangen masa-masa itu hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suk-Suk peng oh iya. Mainnya dempet-dempettan, betapa indahnya kalau itu dimainkan di masa dewasa ini bersama dedek-dedek mahasiswi.. :"

      Delete