Sabtu, 15 Juni 2013

Pernikahanku: Behind The Scenes

Pada tanggal 18 Mei 2013 yang lalu, telah terukir kisah terbesar dalam perjalanan hidup saya. Ya, pada Hari Sabtu Pahing itu saya dan wanita yang telah lama saya cintai akhirnya menikah. Hari yang dinantikan oleh semua pasangan itu tiba juga.
Saya dan Dewi Kumalasari, yang telah merajut kisah kasih selama 7 (tujuh) tahun berkomitmen untuk sehidup semati dalam ikatan suci tali pernikahan. Sabtu itu doa dari segenap keluarga, hadirin, sahabat dan malaikat-Nya terlantun demi kelancaran hajat agung tersebut. Nuansa haru dan bahagia bercampur padu menjadi satu.
Saya dan Dewi telah berpacaran selama tujuh tahun. Artinya, kami yang saat ini berusia 25 tahun, telah bersama sejak usia 18 tahun. Kami mulai berkenalan dan akhirnya melanjutkannya ke pacaran pada  Maret 2006, saat kami duduk di kelas 3 SMA. 
Vino G. Bastian & Marsha Timothy KW. 7

Jika mendengar bahwa saya menyatakan kami berpacaran selama tujuh tahun dan akhirnya menikah, sepertinya perjalanan cinta kami seolah lancar tanpa cela. Sempurna tanpa dinamika. Jelas itu sama sekali salah. Perjalanan cinta kami penuh liku.
Saat awal pendekatan dan kemudian pacaran, semua terasa indah, apalagi Bapak dan Ibu sangat mendukung hubungan kami. Bahkan Ibu saya pernah mengambilkan rapot hasil belajar Dewi ketika kedua orang tuanya berhalangan. Sontak, ketika itu teman sekelas ramai-ramai menyoraki kami. Memang waktu itu kami belum resmi pacaran dan menggelar konferensi pers untuk menyatakan bahwa kami pacaran.
Kisah berlanjut ketika kami berdua menunggu bus di halte, sekonyong wali kelas kami Ibu Suli melintas bersama suaminya dan memergoki kami. Beliau tersenyum menggoda dan pasti ketika itu sambil menyusun rencana untuk diumumkan keesokan harinya. Benar saja, ketika beliau mengisi jam pelajaran Kimia, beliau menceritakan kepada seluruh kawan sekelas bahwa beliau menyaksikan kami sedang asyik berdua di halte. Habislah kami jadi bahan olok-olok.
Ketika saya ulang tahun di Mei 2006, tiba-tiba Bapak menghampiri dan memberikan sejumlah uang kepada saya dan kemudian berkata: “Ini uang buat traktir Dewi ya”, walaupun saat itu Bapak belum sekalipun pernah bertemu dengan Dewi. Bayangkan bagaimana rasanya. Oh ya, sebelumnya Bapak juga pernah meminta untuk melihat foto Dewi. Beliau lalu berkata: “Ini cantik beneran atau cuma cantik di foto, yan?” Semua terasa lancar tanpa aral.
Pertengahan Mei 2006, kami siswa kelas 3 SMA harus mengalami hari kelulusan. Saat itu orang tua murid diharuskan menghadiri untuk sekaligus mengambil hasil ujian akhir kami. Waktu itu Bapak saya yang menghadirinya. Setelah perhelatan itu usai, saya pun dihampiri Bapak: “Mana to yang namanya Dewi?”, sambil menunjuk ke arah Dewi yang berdiri tak jauh dari kami, saya menjawab: “Itu lho Pa”, Bapak mengamati sebentar dan kemudian disusul dengan kalimat: “Ya udah yuk ajak dia makan siang..”
Walau Bapak mengajak Dewi untuk makan siang, Dewi bersikeras untuk menolaknya. Ia malu setengah mati sampai pipinya bersemu merah dan justru mencak-mencak  kepada saya. Alhasil ajakan itu tak berbuah hasil. Akhirnya Bapak kembali ke kantor dan kami berdua menuju halte untuk menunggu bus karena kebetulan arah pulang kami searah. Jadi ketika jomblo-jomblo mencorat-coret seragam setelah kelulusan, kami justru merenda asmara. Tsaaah..
Saat itu kami berdua pulang dengan membawa surat panggilan dari IPB terkait diterimanya kami berdua dalam seleksi Undangan Seleksi Masuk IPB atau dulu sempat tenar disebut dengan PMDK. Kami pulang dengan ringan. Malamnya, saya sekeluarga makan bersama di luar. Semua terasa menyenangkan.
Rupanya, sepulang dari makan bersama, kebahagiaan yang seharian seolah tak henti menaungi kami, tiba-tiba harus tercerabut lantaran isi surat panggilan dari IPB. Bagai petir di malam bolong, MAKJELEGER!!! di surat tersebut tertulis bahwa kami berdua dua minggu ke depan harus sudah berangkat ke Bogor untuk mulai mengikuti perkuliahan di sana. Inti keterkejutan bukanlah di tenggat waktu itu, namun, Dewi sampai detik itu belum mendapatkan izin dari Ibundanya untuk kuliah di Bogor yang notabene berjarak ± 500 KM dari Purwodadi. Dewi yang berlatar belakang sebagai anak bungsu, rasanya memang wajar untuk tak diizinkan kuliah sejauh itu. Apalagi hanya bertemankan lelaki macam saya di Bogor nun jauh di ujung sana. Hihihihi..
Artinya, maksimal kami hanya memiliki waktu sekitar dua minggu untuk berjumpa. Bayangkan, kisah kasih yang baru berumur dua bulan, harus mendapat cobaan seberat itu. Rasa sayang yang sedang di puncak-puncaknya tiba-tiba harus mendapat ujian maha dahsyat seperti itu. BAYANGKAN, MBLO BAYANGKAN!!
 Namun menjelang injury time keberangkatan ke Bogor, akhirnya Ibunda Dewi mengijinkan Dewi untuk berangkat bersama saya menuntut ilmu sekaligus pacaran di IPB sana. Kami menyambut gembira keputusan penting itu. Resmi batal predikat kami sebagai pelaku LDR. Bayang-bayang perpisahan sirna.
Mulai awal Juni 2006, kami memulai hidup baru di Bogor. Kami berdua harus menyesuaikan ritme perjumpaan kami. Tatkala dulu di SMA, kami setiap hari dapat berjumpa karena duduk bersama di Kelas III IPA 2,  sewaktu berkuliah di Bogor kami harus mencuri-curi waktu untuk sekadar berjumpa. Apalagi setahun pertama di IPB, mahasiswa-mahasiswi diwajibkan untuk tinggal di asrama. Ada sebuah kejadian unik ketika awal tinggal di asrama, pernah suatu kali setelah bertemu dengan Dewi, setibanya di asrama, ada teman yang sepertinya baru saja memergoki pertemuan kami.
Ia  heran dan berkata kepada teman-teman: “Gila si ryan, baru berapa hari di sini udah dapet cewek aja dia..” Dia tak mengira kalau saya memang bawa pacar dari rumah..
 Setelah satu tahun di asrama, akhirnya kami dapat menghirup udara bebas, dan bisa mencari kosan sekehendak hati. Kami pun memilih kosan yang berjarak tidak begitu jauh. Kami pun akhirnya larut di dalam kesibukan perkuliahan masing-masing. Kami duduk di jurusan yang berbeda. Namun cinta kami tetap menggelora. Aye..~
Selama di Bogor, sebenarnya ada saja ujian terhadap jalinan kasih kita. Mulai dari banyaknya gadis-gadis yang menggoda saya (huwow!) sampai ada beberapa perjaka-perjaka tak begitu ganteng yang ingin merebut Dewi dari pelukanku. Bahkan pernah ada teman saya yang berkata: “Untung tadi gue ngeliat lo berdua jalan ama cewek lo, bro. Tadinya tuh cewek mau gue gebet..”. Dinamika dalam hubungan kami tetap saja ada dalam perjalanan empat tahun di Bogor. Pertengkaran kecil, sedang dan besar tak jarang terjadi.
Di September 2010, kami menutup kisah kami di Bogor dengan diwisuda secara bersama sebagai Sarjana S1. Kembali bayangan perpisahan menyeruak di depan mata. Orang tua Dewi menghendaki ia untuk pulang ke Purwodadi. Karena memang rumah sudah sepi, kakak-kakak Dewi semua sudah berkeluarga. Bapak Ibu Dewi menghendaki agar Dewi pulang dan bekerja di Purwodadi saja. Sementara saya masih berjuang mencari kerja di Jakarta. 
Wisuda tahun 2010
Dan saat saya masih berjuang dan menyisakan panggilan kerja yang masih saja datang melalui telepon, Bapak saya entah karena pertimbangan apa memerintahkan agar saya pulang saja ke Purwodadi. Walau dengan sedikit penyesalan karena harus melewatkan beberapa panggilan kerja di Jakarta dari beberapa perusahaan, akhirnya saya pulang ke Purwodadi. Singkat cerita, saya diterima bekerja di Yogyakarta. Dewi pun bekerja di kota lain. Kami pun akhirnya menjalani hubungan jarak jauh juga.. *mimbik-mimbik*
Tetapi hubungan jarak jauh saya dan Dewi tak demikian jauh jika dibandingkan jarak Jakarta – Purwodadi, jika memang dahulu saya akhirnya bekerja di Jakarta. Itu hal yang tetap saya syukuri. Saya menganggapnya sebagai jalan yang tetap mendekatkan kami..
Walau kami selama lima tahun berdekatan dan sudah tahu banyak masing-masing karakter, ketika menjalani hubungan jarak jauh, kami tetap seperti belajar dari awal dalam menjalin hubungan. Kami dengan tertatih menjalaninya. Landasan kami untuk tetap melanjutkan hubungan hanya karena rasa cinta dan komitmen bahwa sebisa mungkin hubungan ini harus bermuara di pernikahan. Tanpa dapat dikesampingkan, hubungan kami tetap terjaga juga karena komunikasi terus berjalan. Tanpa pondasi yang kuat seperti itu, hubungan kami sudah kandas dari jauh-jauh hari.
Selama dua tahun menjalani hubungan jarak jauh, banyak sekali lika-liku dalam hubungan kami. Bermacam pertikaian terjadi dan mayoritas itu dikarenakan intensitas dan frekuensi pertemuan yang sangat minim. Banyak masalah yang dulu dapat dicari solusi dengan bertemu muka, ketika LDR, masalah sederhana terkadang menjadi demikian pelik. Masalah menjadi berlarut-larut dalam hitungan hari bahkan minggu. Akumulasi permasalahan seringkali ada dan kemudian meledak menjadi pertengkaran yang mengganggu hari-hari kami. Belum lagi kalau kangen, kami harus dalam-dalam menyimpannya di hati. Yaa Salaam itu tak enak sekali. Long Distance Relationship sebenarnya semacam secara de jure memiliki pacar, tapi secara de facto lebih mirip jomblo. Tiap melihat pasangan muda bercengkerama di tempat keramaian, saya hanya bisa gigit jari sambil sesekali melemparkan pandangan sirik dan dengki kepada mereka pasangan yang tak memiliki toleransi antar umat berasmara itu. Miris banget miris.
Kami rata-rata bertemu hanya empat kali dalam satu bulan selama dua tahun berjauhan. Dari sana saya menyimpulkan, LDR itu pedih. Tapi saya memiliki semboyan yang secara optimis saya pegang erat, semboyan itu adalah: LDR adalah pernikahan yang tertunda.. (--,)9
Lalu, sedikit demi sedikit, puing cita-cita lama kami perlahan mulai  tersusun kembali. Banyak yang harus kami tata dengan cinta jarak jauh ini. Keropos di sana-sini lambat laun mulai berkurang. Pada suatu titik, akhirnya disepakati, dengan persetujuan orang tua, kami ingin segera menikah. Dengan dinamika dan fluktuasi situasi kondisi hubungan, akhirnya sekitar setahun lalu, rencana teknis pernikahan kami mulai disusun. Karena rencana pernikahan dalam artian cita-cita sudah kami bangun dari bertahun lalu.
Akhirnya, pada 18 Mei 2013 lalu (di usia pacaran tujuh tahun dua bulan kurang seminggu), keinginan agung kami alhamdulillah dapat terealisasi. Kami sampai sekarang masih tak percaya bahwa telah tiba di tahap ini. Kami bersyukur, sangat bersyukur bisa menjalankan ibadah yang merupakan setengah agama ini. Kami berdua mohon didoakan agar kami berdua bisa selalu bahagia selamanya dan hanya dipisahkan oleh maut. Doakan kami pula agar segera dikaruniai momongan ya... Kami doakan pula kawan-kawan yang bercita-cita ingin menikah dengan sosok idamannya agar dapat segera menunaikannya sesegera mungkin. Aamiin...



           
           
           
             
             

           
           
             
           
           
             

                        

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. selamat bung, semoga sakinah mawaddah wa rahmah, semoga segera dikaruniai momongan sehingga genap kebahagiaan orang tua. semoga dijaga ketenangan hatinya, karena lamanya berpacaran tidak menjamin kelanggengan rumah tangga. Semoga ada perubahan pribadi dari masing-masing untuk bisa saling melengkapi dan menjadi bijak. (feriawan.wordpress.com)

    BalasHapus
  3. selamat yan,semoga menjadi keluarga sakinah,mawadah,warohmah.pie kbre saiki???

    BalasHapus