Selasa, 01 Oktober 2013

Antara Calon Presiden, Sepakbola dan Pembangunan Nasional

(sumber: yoszuaccalytt.blogdetik.com)
Minggu lalu, tim nasional sepakbola Indonesia menjuarai Piala AFF under-19. Gelar itu menjadi oase di tengah gurun gersang keringnya prestasi sepakbola Indonesia. Rakyat Indonesia bersuka cita. Gelar pelepas dahaga itu mampu sejenak mengalihkan kejengahan publik terhadap masifnya gelombang pemberitaan politik jelang Pemilu 2014.
Tak ada satu pun media massa yang luput memberitakan berita baik ini. Hampir semua penggiat media sosial terkena euforia kemenangan timnas sepakbola yang digawangi oleh Evan Dimas dan kawan-kawan. Idiom jebret dan owowow seketika memenuhi linimasa twitter. Kata yang dipopulerkan oleh Valentino Simanjuntak itu menjadi simbol gelegak kebahagiaan rakyat Indonesia yang telah lama tertahan.
Masih teringat di benak, akhir tahun 2010, saat Piala AFF dihelat, publik sepakbola Indonesia terbius dengan semangat patriotisme yang digelorakan pasukan timnas. Di final, timnas Indonesia berjumpa dengan musuh bebuyutan, Malaysia. Dada saya bergetar melihat lalu-lalang orang di jalanan yang memakai seragam merah putih. Jersey, slayer dan jaket timnas laku keras. Inilah yang disebut atmosfer nasionalisme.
Banyak contoh yang dapat berbicara, untuk dijadikan bukti otentik bahwa sangat sah Indonesia disebut sebagai football nation. Sepakbola olahraga terfavorit di negeri ini. Sepakbola diselenggarakan mulai dari kompetisi liga utama tingkat nasional, provinsi, kabupaten, kecamatan sampai antar kampung. Setiap pertandingan sepakbola selalu dipenuhi oleh pirsawan dari aneka kalangan. Semua berbaur untuk saksikan tim jagoan.
Tak jarang, laga-laga sepakbola disisipi drama emosional dari para penikmatnya. Mulai dari teriakan kencang, taruhan kecil-kecilan sampai dengan adu jotos bertaruh nyawa. Semata demi gengsi dan kebanggaan yang dipersembahkan untuk tim idola. Tanpa pernah peduli dan ambil pusing, apakah tim dan pemain yang didukung sudah siapkan jaminan untuk ongkos pengobatan dan pemakaman. “Masa bodoh, yang penting aku senang, timku menang”, begitu kira-kira alur berpikir mereka.
Terlepas dari berbagai ekspresi tak masuk akal yang ditunjukkan para penikmat sepakbola dalam mendukung tim favoritnya, tentu dapat disimpulkan bahwa ada latar belakang yang sangat kuat di balik itu semua. Ada cinta di sana. Hanya tidak disertai dengan kedewasaan dan kesantunan dalam mengejawantahkan.
Tahun depan, Indonesia merayakan hajat demokrasi. Pemilihan presiden dan wakil presiden sudah menunggu. Mulai tahun ini, tokoh-tokoh lawas yang lama tak kelihatan batang hidungnya, tiba-tiba wira-wiri di televisi memohon untuk dipercaya. Tokoh-tokoh baru mati-matian meningkatkan popularitas dan elektabilitas.
Dengan realitas sosiologis dan kultural Indonesia sebagai bangsa penggemar sepakbola, rasanya para capres sebaiknya segera pertimbangkan untuk “meminjam” nama sepakbola untuk dijadikan dagangan politik. Ini sederhana saja, hanya tentang hubungan kausalitas, sebab-akibat. Karena rakyat senang sepakbola, maka pemimpin yang perhatian pada sepakbola akan lebih mungkin untuk dipilih. Pemimpin yang peduli dengan sepakbola akan lebih dipedulikan.
Sebenarnya, telah ada pemimpin yang sadar akan besarnya nama sepakbola. Pemimpin itu tiada lain adalah Ir. Soekarno. Beliau menyadari potensi besar sepakbola dalam hal menaikkan ketertarikan publik. Bung Karno setelah keluar dari penjara Sukamiskin meminta ijin kepada Muh. Husni Thamrin (ketika itu duduk sebagai Pembina VIJ – Voetballbond Indonesisch Jakarta, cikal bakal Persija) untuk melakukan tendangan kehormatan dalam sebuah pertandingan.
Para calon presiden harus jeli manfaatkan potensi ini. Mereka harus lakukan positioning sebagai pemimpin yang peduli sepakbola. Misal saja, mereka “menjual” nama sepakbola hanya demi kepentingan pragmatis politis, tanpa niat untuk realisasikan janji, saya rasa akan tetap menjadi pembeda yang unik jika dibanding dengan capres lain yang selalu datang dengan program monoton nan klise.
Sepakbola konteks Indonesia, bukan sekadar olahraga. Sepakbola telah mendarah daging. Sepakbola telah menjadi produk budaya. Pertandingan yang menampilkan timnas Indonesia, selalu mengundang gairah nasionalisme yang meledak-ledak. Penonton luar kota datang jauh-jauh hari. Keselamatan dan ongkos dipikir belakangan. Direwangi naik di atap kereta, direwangi bolos kerja, direwangi kucing-kucingan dengan petugas tiket. Ini ‘kan bukan main. Sepakbola telah menjadi obsesi. Bagaimana bisa celah besar ini tidak ditangkap oleh para calon pemimpin?
Ekstrimnya, andaikata perekonomian kita biasa-biasa saja, rupiah terpuruk dan bensin naik sekian kali lipat. Tapi timnas sepakbola Indonesia langganan juara di berbagai event, maka semua itu akan terlupakan. Ketika sepakbola menjadi prioritas perhatian, kemudian menghasilkan output kemenangan, maka outcome-nya, masalah ekonomi, hukum dan pelanggaran hak asasi manusia akan menjadi hal kesekian yang dipusingkan rakyat.
Sepakbola juara akan memperkokoh nasionalisme. Kokohnya nasionalisme akan memunculkan kebanggaan sebagai bangsa. Kebanggaan sebagai bangsa akan memproduksi rasa persatuan, yang pada gilirannya akan memperkuat modal sosial. Modal sosial yang kuat adalah sebaik-baik bahan bakar pembangunan nasional. Begitulah alur cita-cita besar yang tunasnya dimulai dari sepakbola. Percayalah, sepakbola akan menjadi penawar ampuh berbagai permasalahan bangsa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar