Thursday, September 19, 2013

Indonesia Bangsa Tukang Belanja

Rasanya ganjil mendengar Indonesia mengimpor kedelai untuk memenuhi kebutuhan domestik. Saya baru tahu ketika kemarin kita kehilangan tempe dari pasaran. Dinamika di dalam perdagangan kedelai saya tak tahu, namun sebagai orang awam, tetap bisa menangkap ketidakberesan yang ada di dalamnya.
Untuk mencukupi kebutuhan BBM siap pakai, Indonesia harus beli dari asing. Indonesia hanya mampu mengolah minyak mentah, untuk kemudian dijual dan dibeli kembali dalam bentuk matang. Entah karena apa.
Setiap hari di jalan-jalan kita saksikan berseliweran mobil rilisan baru, dengan jenis dan merk yang beraneka rupa. Yang tentu saja bukan hasil kreasi bangsa sendiri. Saat negara produsen mobil sana sedang giat-giatnya maksimalkan fungsi transportasi massal, kita di sini kasak-kusuk mengkredit mobil agar prestise naik di mata lingkungan. Belum lagi sekarang ramai tentang mobil murah. Aduh!
Setelah berhasil membeli mobil, otomatis kita akan ikut serta dalam menambah kemacetan. Di dalam mobil, sumpah serapah terucap tanpa merasa sedang berkontribusi menyebabkan keadaan menjengkelkan itu. Di seberang sana, negara produsen mobil bercengkerama tertawa-tawa menikmati hasil jualannya sambil menghirup udara bersih dan jalanan yang lancar lengang. Rasanya ungkapan mantan Walikota Bogota Kolombia, Enrique Penalosa, harus menjadi perenungan nasional: ”Negara maju bukan tempat orang miskin naik mobil, tapi orang kaya naik angkutan umum.”
Sekadar informasi, Bogota menjadi kota percontohan transportasi massal dunia. Pemimpin ibukota Kolombia itu sempat mencengangkan dunia ketika membuat kebijakan mega proyek transportasi massal. Penduduk diperintah untuk “buang” kendaraan pribadinya. Lalu pemerintah membuat bus-bus macam Trans Jakarta. Hasilnya, bisa dilihat sekarang.
***
Semua kebutuhan yang tidak mampu dipenuhi sendiri, lumrah saja jika harus ditutup dengan cara membeli. Namun pertanyaannya, apakah sudah ada upaya maksimal sebelum membeli. Sudah adakah ikhtiar menahan diri.
Garis bawah bahasan kali ini bukan pada kedelai, minyak dan mobil. Namun pada tingginya gairah konsumsi kita. Kita ini bangsa yang gemar belanja. Seperti ada semboyan “kalau bisa beli, kenapa harus membuat sendiri.”
Saya curiga, negara asing sudah khatam menyelami kehidupan bangsa ini. Jangan-jangan mereka telah lakukan riset tentang budaya dan kecenderungan sosiologis masyarakat Indonesia, lalu simpulkan bahwa kita adalah bangsa tukang belanja. Akhirnya, dijadikanlah negeri ini pasar besar yang menggiurkan.
Negara asing ramai-ramai gelontorkan modal untuk dirikan pusat-pusat produksi. Pabrik-pabrik besar berdiri megah sambil menggusur pusat-pusat perekonomian lokal. Pusat perbelanjaan menjadi tempat pertama yang dituju ketika bepergian dan akan segera disampaikan ke tetangga: “Iya, Jeng. Kemarin ngajak anak-anak beli baju di emol baru itu lhoh..”
Kita sibuk belanja sana-sini, langganan kartu kredit dari berbagai bank, untuk kemudian lupa “berproduksi”. Alam bawah sadar kita hanya tentang beli dan beli. Ingatan dan niat kita jarang kita belokkan untuk “berjualan.” Rasanya kok tidak berlebihan jika tersimpulkan bahwa ada skenario besar di balik semua ini.
Dari dulu, menantu yang dipilih adalah pegawai mapan. Bukan bakul. Anak diarahkan sekolah ke SMA, bukan ke SMK. Karena akan dimasukkan kuliah, kemudian disuruh melamar kesana-kemari untuk menjadi karyawan. Walhasil, Indonesia masa kini terkenal bukan sebagai bangsa entrepreneur. Konon, dari seluruh penduduk Indonesia, populasi pengusaha belum menyentuh angka 2%. Padahal, negara akan mudah mendapat predikat negara maju jika minimal 2% dari seluruh penduduknya adalah wirausaha. Kabarnya, negeri imut Singapura sudah memiliki populasi pengusaha dengan presentase yang sudah menyentuh angka dua digit.
Buku-buku pelajaran SD, susunan kata yang dipilih adalah: “Ibu pergi ke pasar untukmembeli sayur”, “Badu disuruh Ibu untuk ke warung membeli minyak goreng”. Mengapa tidak: “Ibu pergi ke pasar untuk berjualan bumbu dapur”, “Badu disuruh Ibu untuk menjajakan pisang goreng keliling kampung.” Hem?
Dari paragraf di atas, kita mafhum bahwa ternyata jika disadari, sedari kecil kita sudah dicekoki untuk menjadi bangsa yang konsumtif. Contoh kasus di paragraf atas adalah bukti riil, bahwa dari usia dini kita semua diberikan nilai-nilai yang mengarahkan untuk memiliki karakter pembeli, sehingga dengan sangat kuat terinternalisasi sampai dewasa.
Entah mengapa kalangan akademisi penyusun buku pelajaran sekolah tidak terpikirkan ke arah sana. Redaksional kalimat di buku pelajaran sekolah menurut saya cukup berpengaruh terhadap cara berpikir siswa. Kalimat di dalam buku pelajaran adalah makanan sehari-hari siswa. Terjadi repetisi berulang kali dalam penyampaiannya. Cukup rasional kiranya hal itu perlu mendapat kajian lebih mendalam.
***
Policy dari pemerintah seharusnya pula diarahkan untuk selalu berpihak kepada pihak yang kurang berdaya secara modal dan pengetahuan. Selama ini, pedagang kecil digiring untuk langsung berhadap-hadapan dengan pemodal besar. Toko kelontong kecil dan pemilik lapak sederhana harus head to head dengan blablabla-mart,blablabla-four dan blablabla-indo.
Parahnya, masyarakat kita gemar bermain simbol-simbol yang kemudian mereka sepakati menjadi konsensus. Bahwa akan lebih bergengsi jika membeli barang di toko modern, bahwa akan memalukan membeli barang di toko kecil pojok tikungan kampung. Hanya karena di toko modern barang dijejer rapi dengan lampu-lampu putih terang dan berpendingin udara. Padahal sama saja yang dibeli sabun dan odol juga.
Seperti ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat bahwa sebaiknya bareng-bareng “mendukung” pemodal besar. Rakyat kecil yang sedang tertatih membangun kebanggaan melalui cara sederhana dan semampunya, dipaksa berperang dengan raksasa. Mereka yang semangat berproduksi mau tidak mau harus mengakhiri, lalu menyerah pada keadaan dan kembali lagi menjadi pengkonsumsi.


No comments:

Post a Comment