Sabtu, 03 Oktober 2015

Kisah Di Balik Lagu ‘Sebelum Cahaya’ Menurut Penciptanya

Moment di Path yang Kutulis 21 April 2015
Jika sudah berbicara tentang lagu, maka akan terdapat beragam tema. Mulai cinta, kemanusiaan, ketuhanan, lingkungan dan sebagainya. Sesuka-sesukanya penggubah. Akan disusun seperti apa notasinya, bagaimana liriknya, seindah apa aransemennya, terserah dia.
Namun, saat lagu sudah dilempar ke pasaran, prerogatif sudah ada pada pendengar. Mau didengar atau tidak, sekedar didengarkan atau dimaknai secara mendalam, silakan saja. Tentang pemaknaan terhadap lagu, antar pendengar satu dengan yang lain sangat bisa terjadi perbedaan. Meminjam istilah musisi: “Biarkan ruang penafsiran kita serahkan kepada pendengar.”
Salah satu lagu yang sempat dijadikan bahan diskusi penggiat sebuah forum internet adalah lagu milik Letto berjudul Sebelum Cahaya. Lagu yang liriknya ditulis sang vokalis, Sabrang Mawa Damar Panuluh (Noe), menurut saya merupakan lagu yang sulit dicari arah tema bahasannya. Disimpulkan bertema cinta antara lelaki perempuan, namun sepertinya lebih mendalam dari itu. Dikira tentang ungkapan cinta kepada Tuhan tapi belum yakin juga.
Oleh netizen, lagu Sebelum Cahaya ditafsirkan membicarakan tema yang beraneka macam. Tetapi banyak yang menyimpulkan, lagu itu sedang berbicara tentang kisah hamba yang mendekatkan diri kepada Tuhannya melalui doa di sepertiga malam terakhir atau tahajud. Mungkin penyimpulan itu berdasar dari judul lagu, karena Tahajud memiliki waktu pelaksanaan saat mayoritas umat sedang terlelap. Maka jelas waktu dimana Shubuh belum menyingsing, apalagi cahaya matahari.
***
Penafsiran saya pribadi tentang lagu Sebelum Cahaya terkait dengan ikatan biologis sang penyusun lirik lagu dengan budayawan tersohor yang sangat saya kagumi, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Ya, Noe adalah putra kandung Cak Nun. Penafsiran saya dasarkan atas kausalitas hubungan mereka sebagai ayah-putra dan perjuangan yang berpuluh tahun dilakukan Cak Nun.
Cak Nun sejak awal dekade 70-an sudah terjun langsung ke masyarakat untuk berjuang menyelesaikan berbagai permasalahan. Perjuangan diawali dari Jalan Malioboro tempat beliau menggelandang dan berkesenian. Cak Nun mulai terjun langsung ke masyarakat akar rumput di Kampung Jogoyudan, tepi Kali Code Yogyakarta.
Beliau berjuang dari panggung ke panggung sebagai sastrawan, menulis puluhan buku dan artikel di media massa. Cak Nun adalah  inisiator pementasan fenomenal di tahun 1988 berjudul “Lautan Jilbab” bersama Jamaah Sholahuddin UGM yang dihadiri ribuan massa di beberapa kota. Bahkan saat di Madiun, penonton mencapai angka 30.000 orang. Pementasan tersebut ialah tonggak “kemudahan” muslimah Indonesia untuk mengenakan jilbab, dimana sebelumnya terdapat larangan terhadap muslimah untuk berjilbab, mulai dari sekolah, kampus sampai tempat kerja. Cak Nun juga menemani para korban pelarangan berjilbab dalam melakukan advokasi di banyak tempat. Lihat bagaimana sekarang, dimana-mana terlihat wanita berjilbab. Lautan jilbab benar-benar terwujud.
Cak Nun bersama Romo Sindhu dan Toto Raharjo adalah aktivis yang mendampingi korban proyek raksasa Kedung Ombo. Pada 1998 Cak Nun bersama Cak Nurcholish Madjid dan beberapa tokoh nasional lain membujuk Pak Harto untuk turun dari kursi presiden, yang di kemudian hari perjuangan tersebut tidak diketahui banyak orang.
Cak Nun bersama Kelompok Gamelan Kiai Kanjeng terjun langsung mendamaikan konflik besar Kalimantan antara etnis Dayak dan Madura. Beliau juga berkunjung beberapa kali ke pedalaman Lampung untuk memediasi konflik petani tambak udang dengan perusahaan besar yang menaunginya. Cak Nun sering diundang ke beberapa negara untuk menjumpai komunitas warga Indonesia di sana. Baru berapa hari lalu, Cak Nun usai bertandang ke Amerika Serikat untuk memenuhi undangan perantau asal tanah air.
Cak Nun sampai sekarang juga terus memenuhi undangan dari segenap komponen bangsa mulai dari KPK sampai remaja masjid untuk memberikan input dan silaturahmi. Sampai hari ini, menurut hitungan kasar, pementasan Cak Nun dan Kiai Kanjeng di berbagai forum sudah menyentuh angka 3000-an kali.
Cak Nun pun memiliki forum Maiyah yang rutin berjalan setiap bulan di berbagai tempat. Sebut saja Mocopat Syafaat di Yogya, Gambang Syafaat di Semarang, Padhang Mbulan di Jombang dan Bang Bang Wetan di Surabaya. Selain itu masih ada Juguran Syafaat di Banyumas, Kenduri Cinta di Jakarta dan banyak lagi rintisan forum di kota-kota lain yang perlahan tumbuh satu per satu.
Masih banyak kegiatan Cak Nun yang tidak cukup dituangkan dalam tulisan ini. Namun, satu hal yang perlu diketahui, Cak Nun dalam melakukan segala kegiatan lebih memilih sembunyi, jauh dari publikasi. Pasca reformasi 1998 --yang menurut Cak Nun sudah jauh melenceng dari niat seharusnya--, beliau menjauhkan diri dari segala hingar bingar publikasi media massa mainstream. Beliau juga tidak satu pun memiliki account media sosial. Jika di banyak tempat terlihat banyak penampilan beliau, itu karena pengagum dan orang di sekeliling beliaulah yang ingin menampilkan kepada khalayak luas.
Jika dahulu di jaman Orde Baru Cak Nun sering sekali terlihat di televisi dan surat kabar, di era reformasi sampai sekarang, Cak Nun hanya dapat kita jumpai di forum-forum tertentu. Cak Nun menolak tampil di televisi nasional. Tulisan beliau yang dulu hampir setiap minggu dengan mudah kita akses, sekarang sungguh sangat jarang muncul.
Penampilan Cak Nun di televisi praktis hanya dapat kita saksikan di stasiun TV lokal seperti ADiTV Yogya dan TV lokal di Jawa Timur. Berbahagialah saya yang tinggal di Yogya, tiap Kamis malam selalu bisa menyaksikan rekaman acara Cak Nun.
Tentang rekaman acara Cak Nun yang rutin ditayangkan di televisi lokal, itu bukanlah hasil suatu transaksi ekonomi dari pengisi acara kepada perusahaan televisi. Tampilnya Cak Nun di televisi murni karena kesediaan tanpa kesepakatan jual beli. Cak Nun dan Kiai Kanjeng tidak sepeser pun menerima bayaran dari televisi atau pun sponsor. Murni sedekah. Padahal ditayangkan di slot waktu prime time.
Dari uraian di atas, frasa yang paling pas untuk melukiskan cara tempuh Cak Nun adalah jalan sunyi. “Segala hal duniawi sudah kutalak tiga” demikian kata beliau. Berangkat dari bagaimana Cak Nun berjuang itulah lahir penafsiran saya tentang maksud lirik lagu Sebelum Cahaya.
Perjalanan sunyi..
Yang kau tempuh sendiri..
Kuatkanlah hati cinta..
Noe seperti sedang membesarkan hati ayahnya, yang tentu ada waktu dimana naik turunnya gairah juang. Noe ingin menguatkan ayahnya. Noe ingin ayahnya baik-baik saja.
Ingatkah engkau kepada..
Angin yang berhembus mesra..
Yang ‘kan membelaimu cinta..
Noe ingin menggembirakan ayahnya, bahwa perjuangan akan menghasilkan suatu saat nanti. Ada yang harus dibayar lewat upaya usaha, namun di belakang hari ada keindahan menanti. Akan ada kesejukan angin yang meniup lelah peluh. Ada Tuhan yang Maha Menghitung.
Begitulah penafsiran saya terhadap Sebelum Cahaya yang tentu tidak terkonfirmasi kebenarannya..
***
Semua pertanyaan dan penafsiran saya sejak lama tentang lagu itu akhirnya mendapat jawaban resmi. Cak Nun pada awal September lalu saat mengisi acara bersama Gus Mustofa Bisri di Bantul menyinggung tentang latar belakang Noe menulis Sebelum Cahaya. Cak Nun membuka tabir yang sungguh membuat saya terkejut dan tak terpikirkan.
Menurut Cak Nun, lagu Sebelum Cahaya, Noe angankan sebagai penghiburan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Isi lirik Sebelum Cahaya, Noe khayalkan sebagai upaya Tuhan untuk menghibur kekasihNya yang berjuang demikian berat dan penuh aral.
Sebuah niat pembuatan lagu yang bahkan terlintas di benak saja tidak pernah, bukan?





Tidak ada komentar:

Posting Komentar