Senin, 24 Juli 2017

Belajar Kehidupan dengan Mengenang Chester Bennington

[sumber gambar: independent.ie]
Karena adanya MTV Indonesia, pecinta musik Indonesia di dekade 1990an – awal 2000an mendapat referensi yang luas. Bunyi-bunyian nun jauh di pelosok Eropa dan Amrik mampu kita gapai gaungnya sampai pelosok Grobogan. Sampai-sampai saat itu saya merasa akrab banget sama Anthony Kiedis, Thom Yorke, personel Phantom Planet, Di-rect, Coldplay, KoRn, Limp Bizkit, Audioslave, dan Linkin Park. Mereka sudah saya anggap kakak-kakak saya sendiri, tanpa pernah peduli mereka menganggap saya sebagai apa..
Saat itu, saya yang duduk di bangku SMP mengidolakan Red Hot Chili Peppers, Limp Bizkit, Audioslave, dan Linkin Park. Soal dimana bagusnya musik yang mereka bawakan, itu urusan lain. Yang penting mereka terlihat keren saja, lalu saya idolakan. Sesederhana itu.
Musisi-musisi itu memiliki kehidupan yang mengasyikkan. Sudah nggantheng, jago musik, kaya raya, keliling dunia, diuber cewek, kostum panggungnya kece-kece, gear-nya keluaran terbaru hhhhh. Remaja alay tanggung mana coba yang tidak keimpi-impi..
Lha kok Chris Cornell (vokalis Soundgarden & Audioslave) tega-teganya tinggalkan kami yang idolakannya sejak awal akil baligh. Suara Cornell yang bindeng mirip orang dalam masa inkubasi pilek itu, menghiasi akhir-akhir SMP saya. Saya membeli kaset album pertama Audioslave karena kesengsem suara machonya, ditambah uniknya teknik bermain dan sound gitar Tom Morello.
Selain karena suaranya, Cornell ini juga ‘kan orangnya laki banget. Mana jago bikin lirik puitik bak Eros Djarot pula. Rambutnya gondrong berombak rewo-rewo. Struktur wajahnya tegas, ditambah tatapan mata yang tajam. Rasanya pingin punya tampilan seperti dia waktu itu. Apa daya diri ini lebih mirip Ben Affleck..
Kalau Audioslave hanya diidolai oleh remaja-remaja tertentu dengan kuping berkelas seperti saya saja (uhuk!), musik Linkin Park (LP) saat itu masuk ke semua telinga anak muda. Saat itu, LP bisa dibilang grup paling terkenal. Semua teman-teman saya yang saat itu lebih biasa nyanyikan Sewu Kutha-nya Didi Kempot, tiba-tiba sok-sokan nyanyiin Crawling. Padahal tiap Pak Petrus (guru bahasa Inggris) masuk, kelas seketika hening seperti dimasuki penunggu sekolahan paling seram.
Linkin Park menggebrak melalui album pertama (Hybrid Theory) yang berisi lagu-lagu bagus dan bergaya baru. LP membawakan genre yang cukup anyar saat itu, nu metal. Sebuah genre baru yang menggabungkan rap, rock, dan turn table dengan tokoh-tokoh utama Mike Shinoda, Chester Bennington, dan DJ Hahn. Sebenarnya ngga baru-baru amat sih genre itu, karena sebelumnya ada juga Limp Bizkit. Namun, LP lebih mereguk kesuksesan di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan karena saking yakinnya bakal datangkan duit gede, promotor akhirnya nanggap LP ke sini.
Belum rampung euforia kesuksesan Hybrid Theory, LP merilis Meteora yang kemudian telurkan hits seperti Somewhere I Belong, Numb, From The Inside, dan Faint. Saya yang tak mau ketinggalan, tentu punya kasetnya untuk melengkapi Hybrid Theory yang telah tersimpan rapi di lemari jati. Setelah itu, saya masuk SMA dan tiba-tiba MTV pergi dari Indonesia.
Karena MTV yang telah lama menjadi kitab suci referensi musik dunia pergi, maka sejak itu publik musik Indonesia kesepian. Sampai kemudian muncul Dahsyat, Inbox, dan format MP3 yang mendominasi. Lalu, musik-musik mendayu dengan produksi yang seperti seadanya menyerbu tanpa ampun. Tak ada lagi musik-musik bergizi dari MTV. Anak nongkrong berduka, karena LP dan kawan-kawan semakin jauh dari jangkauan.
Waktu itu, sejak kuliah saya masih memantau perkembangan musik melalui majalah Rolling Stone, walau belinya kalau ada berita dari musisi tertentu yang menarik. Layar musik dunia bagi saya masih tetap semarak, walau terlihat lamat-lamat. Kemudian waktu meloncat sampai di 2017 dan terdengar kabar LP keluarkan album lagi, One More Light.
Sebetulnya, setelah Meteora masih sesekali terdengar kiprah LP melalui album Minutes to Midnight dengan single What I’ve Done. Namun, LP bagi saya semakin membosankan. Musiknya menurut saya mengalami stagnasi, begitu-begitu saja, rap Shinoda ditingkahi teriakan Chester, dan gesekan vinyl DJ Hahn. Begitu terus sampai album-album berikutnya yang sama sekali saya tak tertarik. Ternyata, di tahun 2017 One More Light melalui Heavy dan Battle Symphony mampu kembali membuat saya menoleh ke LP. Chester di sini tampak lebih semeleh, ia tak lagi teriak-teriak seperti dulu sampai urat lehernya pathing pecothot. Lagu-lagu di One More Light terdengar lebih ngepop dan kental nuansa elektroniknya. LP seperti lahir kembali dan siap menghiasi hari-hari pendengarnya. Mereka pun kembali mendominasi puncak tangga lagu dunia.
Sampai di tengah malam Kamis kemarin, saya membaca selarik tweet dari media asing yang mengabarkan Chester tewas bunuh diri dengan nggantung di rumahnya. Sebuah kabar yang sangat mengejutkan di tengah kiprah LP yang akhir-akhir ini sedang moncer-moncernya. Apalagi, belum lama Cornell memilih cara yang sama untuk mengakhiri hidup.
Belakangan diketahui, Cornell dan Chester memiliki hubungan sangat dekat. Bahkan karena demikian dekatnya, Cornell memilih Chester menjadi ayah baptis salah satu anaknya. Usai kematian Cornell, Chester menuliskan ungkapan hatinya yang sungguh kehilangan seorang sahabat sekaligus sosok yang ia kagumi. Ia pun menyanyikan lagu perpisahan di pemakaman Cornell.
Hipotesis-hipotesis pun muncul bahwa kematian Chester berhubungan erat dengan kematian Cornell. Disebutkan dalam sebuah laporan, tekanan hidup yang dirasakan Chester usai Cornell meninggal semakin mendalam. Ia tak kuasa menghadapi lalu memilih untuk menyerah.
***
Apabila kita melihat kehidupan Cornell, Chester, dan musisi-musisi lain yang memilih bunuh diri, maka kita tak habis pikir. Mereka terkenal, dikagumi banyak orang, kaya raya, pokoknya semua apa yang diimpikan orang telah mereka miliki. Nyatanya, mereka memilih akhiri hidup dan meninggalkan semuanya. Tentu, semua ada alasannya.
Kurt Cobain bunuh diri diduga karena telah mengalami kehampaan dalam hidup di tengah popularitasnya yang mendunia, hingga bertekuk lutut pada obat-obatan penenang yang adiktif. Ada pula yang mengabarkan ia lelah dengan penyakit bronkhitis dan laryngitis sebelum putuskan menembak kepalanya sendiri.
Cornell ternyata kecanduan obat terlarang dan sulit lepas darinya. Chester sejak kecil sudah erat dengan cobaan hidup yang berat. Ia mengaku pernah dilecehkan oleh seseorang yang lebih tua darinya, belum lagi ia tumbuh dari orang tua yang memilih berpisah. Chester juga sering dirundung karena fisiknya yang kurus ceking menyedihkan. Ketika dewasa, pernikahan Chester pun berantakan. Karena itu semua, Chester memilih alkohol dan obat terlarang untuk menjadi pelarian dari berbagai masalah hingga menjadi ketergantungan. Kematian Cornell rasanya menjadi klimaks dari seluruh kepahitan hidupnya.
Cara yang dipilih Cornell, Chester, dan kawan-kawannya untuk mati memang salah, namun kita tak pernah tahu seberapa berat tekanan hidup yang mereka alami. Kasus bunuh diri para musisi dan pesohor setidaknya menjadi bukti bahwa hidup mereka mempunyai permasalahan juga, seperti kita-kita ini.
Jika kita mau sedikit berpikir jernih, para musisi dunia dan para pesohor itu sejatinya memiliki kehidupan yang berat sekaligus sunyi. Berat karena para penggemar selalu menuntut untuk tampil prima dan menampilkan karya sesuai harapan. Padahal musisi juga manusia yang memiliki rasa jenuh dan sering pula mengalami stuck saat berkarya. Belum pula adanya rasa ingin membahagiakan seluruh penggemar, padahal kehancuran lebih dekat ketika kita ingin membahagiakan semua orang.
Hidup musisi dunia dan pesohor sebenarnya sunyi. Karena penggemar hanya ada ketika mereka sedang di atas dan terkenal, lalu melupakan kemudian berpindah menggemari orang lain. Kecintaan yang mereka dapatkan semu, kasih sayang yang mereka rasakan sangat mudah luntur ketika masa jaya telah hilang.
Selain itu, musisi atau seniman tentu memiliki standar yang mereka tentukan sendiri terkait karya yang mereka lahirkan. Karena memiliki standar sendiri, secara otomatis mereka sosok-sosok yang perfeksionis. Sifat selalu ingin sempurna memang melelahkan, dan pada tataran tertentu akan menyebabkan pemiliknya tertekan.
***
Cerita di atas meyakinkan kita bahwa hidup ini sawang-sinawang, hidup ini tidak seperti yang terlihat. Kita di sini ingin menjadi Cornell dan Chester yang namanya dipanggil-panggil oleh ratusan ribu orang saat konser. Kita ingin menjadi Cornell yang cool tapi tetap mengundang hysteria penonton. Kita ingin menjadi Chester yang terlihat sangar saat berteriak sambil menggenggam microphone dengan kedua tangannya sambil majukan satu kaki ke sound system di tepi panggung. Kita ingin menjadi mereka karena bisa dapatkan semua yang diinginkan. Tapi nyatanya, mungkin Cornell dan Chester ingin menjadi kita. Mereka mungkin akan sangat iri dengan kita yang bisa bebas kemana-mana tanpa dimintai foto. Mereka akan sangat iri jika melihat kita bisa nongkrong di burjo sambil jegang dan ngrasani tetangga kanan kiri. Mereka akan sangat iri melihat kita makan di  gudeg pinggir jalan sambil udud kedhal-kedhul~

Masalah hidup muncul ketika kita mulai membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Maka, sekarang jalani saja hidup ini seperti apa yang ada. Percayalah, Tuhan beserta birokrasinya tidak akan pernah tertukar dalam membagi-bagi..

5 komentar:

  1. Asyik banget yan bacanya...lanjutkeun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwun, Mbak Heny. Keep blogging.. :)

      Hapus
  2. Keren mas ryan..."wang sinawang" hehe
    Si chester and cornel klo kenal jengan pasti pingin jd seperti mas ryan,soalnya bisa makan gorengan mak jan sepuasnya hehe...oya tp soundgardennya juga dengerinkan mas "black hole sun" lebih garang dari audio slave mas hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah Mas Kris, bener Mas di Soundgarden sound-nya lebih Seattle hehe. Lebih macho dan klasik.
      Hahaha diceritain Mbak Heny soal gorengan Bu Djan yang tak tergantikan itu ya Mas.
      Matur nuwun komennya.. :)

      Hapus
  3. What a stuff of un-ambiguity and preserveness of precious experience regarding unpredicted feelings. google mail sign in

    BalasHapus