Jumat, 13 September 2019

Keluh Seorang Penjahit Sepuh

(sumber gambar: bbc.com)

Sewindu lalu saat pertama kali pindah ke Yogyakarta, saya tidak memasukkan tukang jahit sebagai sosok yang harus segera dicari. Namun rupanya, ia belakangan menjadi sosok yang memiliki urgensi tinggi.
Suatu ketika, tiba-tiba seseorang memberi saya sepotong kain batik. Saya menerima dengan suka cita. Selain karena kain itu sebuah kain yang bagus, seseorang sampai membelikan sesuatu pasti karena ia mengingat kita. Diingat itulah yang lebih memiliki nilai sentimental dibanding barang itu sendiri.
Keesokan harinya, tanpa informasi yang paripurna saya memutuskan membawa kain ke penjahit, yang kebetulan tempat operasinya sering terlewati. Ya, hanya karena sering saya lewati saya pasrahkan kain batik itu untuk digarap. Sungguh sebuah pengambilan keputusan yang tidak mengedepankan kaidah-kaidah ilmiah.
Sepuluh hari kemudian, baju batik telah siap dikenakan. Sebelum mencoba, saya menelisik baju ke segenap detailnya. Dari situ saya berkesimpulan, penjahit yang sering terlihat oleh mata belum tentu pas di hati dan badan.
***
Berawal dari pengalaman pahit kegagalan penjahitan batik hasil pemberian, saya merasa tukang jahit bukanlah sosok yang bisa dengan serampangan dipilih. Penjahit memiliki kelas setara jodoh yang harus dicari dengan sepenuh jiwa, pertimbangan yang matang, dan informasi yang memadai.
Tidak jarang, jodoh didapat dari teman atau kenalannya kenalan. Berangkat dari sana, saya putuskan mencari referensi penjahit yang oke dari sejawat yang selalu berpenampilan necis dan rapi jali. Ia merekomendasikan penjahit di dekat pusat kota Yogya.
Saat memiliki kain bahan, dengan keyakinan penuh saya menjahitkan di sana. Dalam tempo seminggu, kain menjelma kemeja yang menggemaskan. Sampai saat ini, penjahit itu tiada terganti.
***
Sekitar dua bulan lalu saya kembali sowan ke penjahit langganan. Yang mengejutkan, bapak pendiam dan irit senyum yang biasanya bertugas sebagai frontliner, telah digantikan pria sepuh ramah yang memiliki gurat sisa ketampanan di masa lalu.
Setelah sekian menit kami berbincang, rupanya tersimpan kisah mengharukan yang tersembunyi di balik etalase kemeja dan jas yang menunggu diambil. Terkuak, pria ramah (PR) tampil untuk sebuah tugas yang dilatarbelakangi permintaan seluruh penjahit yang bekerja di situ.
Jadi, pemilik tempat jahit sebenarnya telah putuskan untuk menutup usaha yang ia mulai per medio 1970-an itu. Saat ini, pemilik berdomisili di luar Jawa dan ingin berfokus pada usaha yang sedang ditekuni di sana.
Saat rencana penutupan terdengar, para penjahit beramai-ramai melobi PR untuk menyelamatkan nasib mereka. Saat PR turun tangan, pemilik bersedia membatalkan penutupan. Tapi pembatalan tidak gratis.
Pemilik bersedia meneruskan usaha jahit hanya jika PR mau menjadi pengelola. Sementara, PR telah memiliki usaha jahit yang mapan. Sebuah syarat yang sangat berat untuk PR. Di satu sisi ia ingin menolong teman-teman, karena ini terkait hajat hidup yang tentu bukan urusan receh. Sisi lain hatinya memikirkan nasib usaha yang ia rintis sejak awal dekade 90-an.
Mundur ke 1991. Saat itu PR telah satu dasawarsa mengabdi di tempat yang kelak menjadi jujugan saya. Suatu hari ia undur diri untuk berwirausaha. Dengan bekal pesangon yang menurutnya besar untuk ukuran saat itu, ia membuka usaha. Hingga di akhir 2018 ia turuti nurani kembali ke tempat dimana ia mengawali karier, untuk selamatkan kelangsungan usaha sekaligus hidup teman-temannya.
***
Saat ini, usaha masih berlangsung dan pelanggan setia senantiasa mempercayakan kain-kain terbaiknya. Meski tampak baik-baik saja, sejatinya mereka sedang memeram persoalan.
Usaha jahit masih ingin terus bernafas. Perihal pesanan pun tidak menjadi soal. Potensi masalah yang menjadi ancaman hanya penjahit, semua penjahit yang telah berusia kepala enam. Secara matematis, mereka tak akan lama lagi tergerus waktu. Agar bisnis berjalan dan terus imbangi volume jahitan, diinisiasilah perekrutan penjahit baru yang hanya bersyarat pengalaman.
Sabtu kemarin, saya berkunjung ke sana untuk kembali menjahitkan batik. Semua masih sama. PR masih siap sedia menerima tamu dengan senyum tersungging di bawah kumisnya. Ia pun tetap mengenakan polo shirt yang dimasukkan ke blue jeans. Sticker merah berbunyi: “Dicari Penjahit Berpengalaman” juga masih terpampang di muka.
Bermodal sticker dan ingatan tentang jawaban PR dua bulan lalu, saya bertanya apakah telah ada penjahit baru yang diterima. Dengan wajah pasrah, PR menjawab belum. Sebenarnya beberapa hari sebelum saya datang muncul pelamar dan bisa langsung bekerja. Hanya saja, si pelamar justru memohon jika diterima ia minta diberi kelonggaran waktu bekerja sesuai keinginan. Kontan saja permintaan itu ditolak PR. Sekadar info, si pelamar berusia 63 tahun. Jelas, ia masuk grup bocah tua nakal.
Di sela mengukur kemeja yang saya bawa sebagai contoh, ia mengulangi cerita dua bulan lalu. Ia masih bertutur, saat ini adalah hal yang sangat sulit mencari penjahit. Jika pun ditemui, seringkali sudah lanjut usia. Sekalinya ada, eh menjengkelkan.
Ia melanjutkan, penjahit muda zaman sekarang lebih memilih bekerja di pabrik garmen. Mereka malas menjahit full dari bahan sampai jadi seratus persen, karena memang lebih praktis dan tidak ribet menjahit per bagian seperti kerah, itik-itik, dan saku. Toh hanya dengan menjahit per bagian tetap saja dapatkan penghasilan.
Nampaknya kecenderungan seperti itu sedang terjadi di industri jahit. Penjahit kesukaan Bu Ryan juga menceritakan hal yang sama. Saat ditanya mengapa sampai sekarang memilih one man show, ia mengaku pernah mempekerjakan satu asisten. Tapi tak sampai hitungan bulan memilih hengkang ke pabrik tak jauh dari kampungnya.
***
Penjahit sebenarnya seniman. Mereka bekerja untuk hasilkan karya kriya. Selembar kain mampu diubah menjadi busana yang diharapkan mencerminkan jati diri pemakainya.
Penjahit adalah pelaku kustomisasi yang andal. Mereka mampu membuat sandang sesuai lekuk tubuh masing-masing pelanggan. Satu karya akan berbeda dengan karya lainnya. Mereka bekerja untuk sebuah wujud yang spesifik dan unik.
Saat era berubah, orientasi apapun bisa ikut berubah. Salah satunya yang tampak terkonfirmasi, setidaknya dari kasus yang secara empirik saya alami, ialah para penjahit muda yang berubah haluan ke industri yang mereka anggap lebih menjanjikan secara finansial. Karya busana utuh bukan menjadi orientasi utama mereka.
Ada yang berkata generasi milenial merupakan generasi yang menggemari apapun yang gegas dan instan. Proses merepotkan dan hal melelahkan lainnya bukanlah urusan yang harus dipusingkan. Untuk perkara penjahit muda, rasanya itu tidak keliru.

2 komentar: