Wednesday, July 3, 2013

Pensiun

(sumber: telegraph.co.uk) 

Tanggal 28 Juni 2013 sebenarnya merupakan hari-hari seperti sewajarnya hari yang lain. Semua berjalan sebagaimana biasa. Rutinitas kegiatan berlangsung persis waktu-waktu sebelumnya. Namun, bagi Bapak Supardi, hari itu pasti bukanlah menjadi hari yang biasa. Hari Jumat itu adalah hari terakhir Pak Pardi mengabdi di instansi yang selama tiga dasawarsa menjadi tempatnya mengabdi dan mencurahkan segala perhatian serta energi.
Pak Pardi sampai pula pada tahap paripurna dalam melaksanakan tugas. Selama puluhan tahun beliau bertugas, semua berjalan baik tanpa gangguan yang berarti. Itu dibuktikan dengan tibanya masa selesai pengabdian dan mencapai pangkat tertinggi sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang beliau miliki. Beliau ini sejak awal saya bekerja selalu menjadi kawan berbincang terutama tentang sepakbola. Pak Pardi adalah sosok yang cukup pendiam dan santun, namun gemar bergurau. Sosok yang taat beribadah dan tak segan berbagi ilmu kepada saya yang masih hijau dalam menjalankan tugas.
Tulisan ini lahir sebenarnya dipicu oleh munculnya sisi sentimentil Pak Pardi di hari terakhir beliau berkantor. Saat itu, kami dan kawan-kawan lain sudah berkumpul di serambi masjid untuk melaksanakan Sholat Jumat. Tiba-tiba Pak Toro menghampiri Pak Pardi dan berbincang sedikit sambil bercanda. Pak Toro bercanda dengan menyinggung bahwa mulai Senin, Pak Pardi sudah tidak lagi memakai seragam kantor. Seketika itu saya melihat air muka Pak Pardi berubah. Mulai muncul selaput bening di mata beliau. Mata Pak Pardi berkaca-kaca.. :’|
Dari ekspresi Pak Pardi itu bisa dilihat bahwa pensiun bukan merupakan titik yang mudah untuk dilalui. Pekerjaan yang bertahun-tahun menjadi kegiatan dan rutinitas akhirnya mau tidak mau harus berhenti. Pekerjaan di samping menjadi rutinitas dan sumber penghasilan, di sana tersimpan pula harga diri sebagai manusia, terutama kaum lelaki. Lumrah rasanya siapapun akan berat “dipaksa” melucuti segala kebanggaan itu.
***
Pensiun dianggap sebagai masa-masa penuh kekosongan yang membosankan. Wewenang dan kekuasaan yang selama bertahun-tahun menyertai pangkat dan jabatan akhirnya harus diambil. Tidak sedikit yang mengalami post power syndrome. Banyak sekali yang setelah pensiun justru terkena stress dan penyakit lainnya.
Ada kisah menarik terkait mereka yang telah memasuki masa pensiun. Seorang Lurah di Klaten, pada hari-hari pertama pensiun, masih belum merasa dan belum percaya bahwa ia telah sepuh dan memang sudah seharusnya pensiun. Pak Lurah itu di hari pertama pensiun, masih saja mandi di pagi buta, memakai pakaian kebesaran dinas dan bergegas menuju Kelurahan. Sang istri dengan santun mengingatkan tentang hal sensitif itu, bahwa tugas Pak Lurah sekarang sudah rampung dan berganti dengan tugas mengantar istrinya ke pasar tiap harinya. Satu lagi, kawan Ayah saya, setelah memasuki pensiun, beliau membeli kendaraan yang sama persis dengan kendaraan dinas semasa masih bertugas. Semata agar suasana dan materi yang menemani masa tugas masih ada di tiap hari-harinya.. :’)
Post power syndrome atau sindroma hilangnya kekuasaan yang menyertai selesainya masa bertugas, diidap oleh mereka yang kurang bisa berdamai dengan keadaan. Mereka tak bisa men-setting pikiran bahwa pensiun merupakan suatu fase yang sangat wajar dan pasti akan tiba masanya. Mereka lebih mengedepankan sisi melankolis. Pensiun berarti sudah tidak lagi mempunyai tempat bekerja dan tidak lagi memakai seragam kebesaran. Tidak lagi memiliki ruangan dan tidak ada lagi pagi yang diisi dengan bersisir rapi dan memasukkan kemeja seragam. Semua sudah menjadi masa lalu.
Di samping sosok yang takut dengan datangnya pensiun, ada juga yang justru menyambut pensiun dengan suka cita. Mereka menganggap bahwa pensiun adalah gerbang dimana kemerdekaan sebagai manusia sudah benar-benar tiba. Rutinitas yang sehari-hari membelenggu sudah usai. Yang ada tinggal waktu yang penuh untuk membina kebahagiaan bersama keluarga. Lubang-lubang waktu yang selama puluhan tahun tak bisa tertutup, saat pensiunlah waktu yang tepat untuk menutup dan menebusnya.
Bagi mereka, pensiun justru momen-momen untuk menikmati hasil jerih payah selama berpuluh tahun waktu perjuangan mengabdi di institusi tempat berkarya. Pensiun adalah waktu menikmati hidup yang sebenar-benarnya. Waktu sepenuhnya bisa dicurahkan untuk kepentingan diri pribadi dan keluarga. Ibadah saat masih bekerja masih banyak kekurangan, di masa pensiunlah saat yang tepat untuk  menyempurnakannya. Tak ada lagi pagi-pagi penuh keburu-buruan demi mengejar laju waktu di mesin absensi sidik jari. Tak ada lagi telepon dari pimpinan yang menanyakan perkembangan tugas. Tak ada lagi tagihan-tagihan dari pihak berwenang yang menuntut agar laporan harus selesai tepat waktu.
Pensiun bagi mereka yang bisa menikmatinya, justru menjadi waktu yang menggugah semangat. Waktu tersedia demikian banyak untuk bermesraan bersama Sang Pencipta. Suami, istri dan anak-anak yang dulu hanya mendapat sisa waktu sekadarnya, saat purna tugas mereka sepenuhnya menjadi pemilik waktu dan perhatian. Sosialisasi bersama handai taulan dan tetangga sekitar menjadi bebas dapat dilakukan kapan saja. Belum lagi jika sudah bercucu, hari tua akan menjadi waktu yang sangat membahagiakan.
***
Semua hal yang terjadi di hidup kita, tak terkecuali pensiun, sebenarnya tergantung dengan cara penyikapan kita. Pensiun sebenarnya hal netral, dijadikan hal yang mencekam dan menakutkan atau justru membahagiakan dan menggairahkan, sepenuhnya tergantung pada diri kita. Pensiun adalah sebuah keniscayaan. Pada suatu saat pasti akan terjadi. Rumus dunia jelas sekali tertulis, bahwa yang telah dimulai, pasti akan ada masa selesai berakhirnya. Begitu pula dengan masa bakti bekerja, akan ada masa purna tugasnya.
Banyak sekali variabel yang menyebabkan timbulnya ketakutan akan tibanya masa pensiun. Mulai dari hilangnya rutinitas, berkurangnya lingkup pergaulan, hilangnya wibawa dan kebanggaan yang menempel pada pekerjaan. Ada juga ketakutan dengan berkurangnya rezeki, ditambah dengan putra-putri yang belum mapan secara ekonomi. Baiklah, sangat bisa dimengerti kecemasan itu akan timbul. Manusiawi, sangat manusiawi.
Namun dengan cara penyikapan yang benar, pensiun justru sangat bisa dijadikan masa rekreasi yang menyenangkan. Contohlah mereka yang memilih untuk menjadikan pensiun sebagai saat-saat yang membebaskan. Ada orang di sekitar saya yang justru sangat menantikan masa pensiun. Beliau sudah merencanakan dan menyusun beraneka kegiatan ketika pensiun tiba. Beliau dengan berapi-api menyampaikan kepada saya bahwa sudah sangat ingin menyambutnya.
Cara yang sedari sekarang bisa dirintis oleh mereka yang jauh dari masa pensiun adalah dengan merencanakan dengan sebaik-baiknya apa yang nanti akan dilakukan ketika masa pensiun tiba. Pensiun identik dengan diam dan jauh berkurangnya aktivitas sehari-hari. Maka dari itu, siapkanlah segala sesuatu yang akan dikerjakan ketika nanti pensiun tiba. Dengan adanya stok kegiatan yang sudah diskenariokan mulai dari sekarang, maka pensiun bukan lagi masa-masa yang mencekam.
Menurut mereka yang tak lama lagi akan memasuki masa pensiun, bahwa masa pensiun itu seolah tiba-tiba saja datang. Tanpa terasa masa puluhan tahun mengabdi tiba-tiba saja usai. Jika terus saja menunda untuk mempersiapkan masa itu, penyesalan dan ketakutan siap menerjang jika datang masanya.  
Sangat sadar bahwa tidak semudah itu untuk memraktikkannya secara nyata. Apalagi bagi saya yang masih sangat jauh untuk sampai ke masa itu. Tulisan ini sebenarnya secara pribadi saya tujukan untuk diri saya sendiri. Tulisan ini saya jadikan monumen dan prasasti bahwa saya di masa awal bekerja ini pernah membuat tulisan yang bernada seolah saya sudah mengalami dan mampu melewati pensiun dengan baik. Tinggal nanti di masa pensiun, saya akan membacanya kembali dan mencoba untuk mengaplikasikan apa yang pernah saya goreskan.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan selarik kalimat yang disusun secara apik oleh Ariel. Kalimat tersebut rasanya sangat bisa menyadarkan kita bahwa segala sesuatu pasti ada muara tempat berhentinya. Ariel dengan sangat manis menggambarkan sunnatullah kehidupan dunia. Lirik lagu tersebut berbunyi: “Jiwa yang lama segera pergi, bersiaplah para pengganti..~





No comments:

Post a Comment