Wednesday, July 31, 2013

Twitter Memang Tak Berguna!



Twitter-an hanya buang-buang waktu. Kayak ga ada kerjaan lain saja. Gak ada faedah. Minim sekali manfaat. Membuat orang menjadi tak acuh terhadap sekelilingnya. Membuat seseorang menjadi gak fokus pas diajak berbincang. Orang yang twitter-an pokoknya menyebalkan.”
Lagi pula, apa ada fungsinya secara sosial maupun intelektual. Lha wong cuma menuliskan yang tak boleh lebih dari 140 karakter. Enakan Facebook-an dong. Lebih eksklusif Path ah. Twitter serba terbatas dan mustahil untuk membawa sesuatu yang positif bagi diri dan orang lain. Jangankan bermanfaat, efek menyenangkan pun tak didapat. Intinya, TWITTER MEMANG TAK BERGUNA!
***
Dua paragraf di atas tak mustahil pernah diucap oleh beberapa diantara kita. Kalimat yang sebenarnya sah-sah saja dilontarkan oleh siapapun. Suatu hal tentu akan memancing dua kubu dengan pendapat yang berseberangan. Wajar. Wajar sekali.
Tentang twitter, ada sosok yang sangat menyenangi, namun tak sedikit pula yang tidak menemukan manfaat serta kesenangan darinya. Terkait senang dan tidak, tentu itu subyektivitas yang sukar untuk dipaksakan oleh siapapun. Banyak alasan dan variabel seseorang menjadi suka atau tidak suka terhadap sesuatu.
Namun, jika beranjak dari suka-tidak suka ke tahu-tidak tahu fungsinya, maka sama sekali kita akan membahas dua hal yang berbeda. Suka atau tidak suka terhadap twitter sangat berbeda dengan tahu atau tidak tahu fungsinya. Tulisan ini bermaksud untuk bermain di ranah tahu-tidak tahu. Ijinkan saya untuk sok ngerti dan mencoba menyimpulkan apa sebenarnya fungsi twitter, setidaknya dari yang telah saya dapat sejak aktif twitter-an dari 11 Februari 2010. Jadi, saya akan mencoba memberi tahu MENGAPA HARUS TWITTER-AN, MENGAPA PENTING TWITTER-AN dan MENGAPA SAYA SUKA TWITTER-AN. Berikut ini beberapa point yang menjelaskannya:
1.    Twitter adalah buku harian digital
Ketika twitter mengumumkan akan merilis fitur arsip tweet, saya merupakan salah satu orang yang sangat antusias menyambutnya. Akhirnya momen itu tiba pula di awal tahun ini. Dengan adanya fitur arsip tweet, itu berarti saya bisa menyimpan untuk selamanya apa yang telah saya tweet-kan selama ini.
Saya sumringah sekali ketika saya akhirnya bisa mengunduh tweet yang telah saya tulis sejak tiga tahun lalu. Saat saya membacanya kembali, saya jadi tahu gaya bahasa saya dan proses perubahannya. Saya jadi tahu saya pernah gelisah, pernah sedih, pernah bersuka cita beserta rincian tanggal dan jamnya.  Saya jadi tahu dan ingat jaman berjuang di masa kuliah dan jaman saya akhirnya bekerja. Jadi ingat pula bahwa saya pernah lucu, sering garing, jadi ingat jaman suka berpuisi, jadi ingat mention-mention-an dengan beberapa penggemar (tsaaah), jadi ingat pernah men-tweet anu, itu dan lain sebagainya. Tweets bagi saya layaknya lagu yang dengan mudahnya memanggil ingatan-ingatan lama yang sempat teralihkan. Suatu tweets akan mengingatkan momen dimana dan kapan tweet itu ditulis. Indah, bukan?
Semua terangkum lengkap dan persis seperti apa yang pernah kita ukir. Laksana diary atau prasasti. Fitur arsip tweet ini sungguh menggairahkan.
2.  Twitter menjaga saya untuk selalu berpikir
Saya pernah menuliskan di tulisan lama saya, bahwa twitter keeps me thinking. Twitter menjaga saya untuk selalu berpikir. Twitter media yang pas bagi saya pribadi untuk menuangkan percikan-percikan kecil pikiran yang kerap terlintas ketika saya sedang mengerjakan apapun. Percikan tersebut harus segera saya tuangkan di suatu media agar tidak hilang dan terlupa. Pikiran yang semu dan abstrak menjadi konkrit dan terbaca serta terbagi menjadi tulisan.
Nah, saat menuangkannya menjadi tulisan itulah, saya menemukan kesenangan tersendiri. Pikiran yang tak teraba, harus saya coba konversikan menjadi susunan huruf, kata, kemudian kalimat yang menurut saya nyaman untuk dibaca. Jadi, twitter memaksa saya untuk berpikir dua kali. Pertama, untuk menentukan tema (walau seringkali spontan jugatweet dan kedua ketika harus menuliskannya. Saat menuliskannya tersebut, mau tidak mau saya memilih kata yang ringkas, pantas, sesuai konteks kalimat dan menarik. Itu asyik sekali menurut saya. Perihal kemudian tweet tersebut menjadi hal yang biasa saja bahkan tidak berguna bagi orang lain, saya tidak ambil pusing. Toh saya sudah senang dengan hanya menuliskannya. Karena saya berpikir untuk memproduksinya. Twitter cocok untuk saya sebagai orang yang pikirannya liar dan sulit dihentikan. Halah..
3.   Twitter menjaga saya untuk selalu terdedah informasi terbaru
Dewasa ini, koran dan media cetak lain menjadi so yesterday bagi makhluk-makhluk digital. Koran membutuhkan waktu “hari” untuk meng-update berita terbaru. Sedangkan, informasi bukan lagi tentang hari, namun sudah menjadi ranah kuasa dari menit bahkan detik.
Kita ingat, di tahun 2008, Presiden Amerika Serikat ketika itu, George Walker Bush pernah berkunjung ke Istana Bogor. Waktu itu sisi menarik yang menjadi banyak perhatian khalayak adalah saat ia turun dengan cara melompat dari SUV Premiumnya. Momentum lompatan Bush dan waktu tersebarnya berita tersebut ke masyarakat luas hanya membutuhkan waktu ± 10 menit, ketika akhirnya detik.com mengunggahnya ke lamannya. Bukan main.
Dengan contoh kasus di atas, akhirnya kita mafhum bahwa majalah mingguan tersohor Newsweek yang telah beredar selama 80 tahun tutup dan menyerah kalah pada masifnya pertumbuhan media online. Di twitter, kita dengan sangat mudah mengakses kabar terbaru dengan mem-follow akun twitter portal-portal berita. Mudah dan gratis. Akun-akun berita seperti detikcomtempodotcoberitasatujawapos dan lain-lain tersedia bagi kita yang haus berita terbaru dan selalu terbarukan dalam hitungan menit bahkan detik. Jadi ketika ada orang yang membaca koran dengan khusyuk, dengan congkaknya, dalam hati saya bergumam: “Berita yang mbok baca itu sudah kemarin kubaca. Basik!!” (ya gak gitu juga sih)
4.  Twitter adalah tempat berbagi
Twitter telah menjadi mesin yang susah dihentikan lajunya. Pun terjadi di ranah dibagi dan membagi. Twitter memiliki kekuatan luar biasa dalam membagikan sesuatu. Berbagi dalam konteks ini bisa berbagi dengan jenis yang jamak bentuknya.
Contoh yang sering terjadi, twitter dijadikan sebagai media penggalangan bantuan ketika terjadi bencana dan kejadian tidak mengenakkan lainnya. Antara lain, sering terbaca di timeline, seseorang yang sedang membutuhkan darah dan tercantum pula teknis bagaimana calon donor dapat mendermakan darahnya. Masih lekat di ingatan, twitter dijadikan penggalangan dana untuk membantu Prita, korban kasus dunia maya, dengan adanya hashtag (tanda pagar) #Koin4Prita.  
Belum lama ini dan masih berjalan, ada proyek kreatif dari seorang penulis dan blogger, Alitt Susanto (@shitlicious). Ia menginisiasi suatu program amal yang bertajuk Creative Charity. Ia meng-announce lewat tulisan di blog dan di twitter, bahwa ia akan mengadakan pelatihan menulis dan para peserta hanya diwajibkan membayar sukarela, dan hasilnya akan sepenuhnya disumbangkan. Ia hanya membutuhkan ruangan sederhana, alat tulis dan multimedia untuk mengajarkan metode penulisan. Ongkos perjalanan dan akomodasi sepenuhnya ia sendiri yang menanggung. Luar biasa.
Sebenarnya terminologi berbagi ini tidak melulu berkenaan dengan hal yang bersifat materi dan suatu produk yang bisa diraba. Kita yang lebih berdaya dalam suatu bidang keilmuan tertentu, sangat bisa untuk membagikan apa yang kita kuasai dan miliki kepada khalayak twitter. Sederhana, berguna dan berpahala.
Twitter menjadi alat berbagi yang susah dicari ditandingannya dalam kecepatan menyebarkan. Itu ditunjang dengan adanya fitur retweet. Misal saja Sarmidi dengan 1000 follower, membuat suatu tweet tentang kebutuhan donor darah. Setengah saja dari follower Sarmidi me-retweet, kemudian follower dari follower Sarmidi me-retweetnya kembali. Maka tinggal bayangkan saja berapa kali tweet tersebut disebarluaskan. Twitter merupakan media yang sangat representatif untuk kebutuhan berbagi.
5.   Twitter menjadi tempat berjumpa dengan ahli di bidangnya
Twitter dimanfaatkan berbagai jenis sosok dari latar belakang yang bermacam-macam. Tak terkecuali expert atau ahli di bidangnya. Di twitter kita tinggal memilih sesuai dengan minat dan keahlian kita.
Di twitter banyak sekali dijumpai sosok-sosok mumpuni di ranah yang ditekuninya. Menariknya, mereka tidak segan membagikan hal yang mereka kuasai. Dari mulai dokter bedah syaraf (@ryuhasan), budayawan nyentrik (@sudjiwotedjo), praktisi sosial media (@nukman), ahli gizi (hardin_IPB), agamawan (@gusmusgusmu, @ifalatas, @awyyyyy), sastrawan (@gm_gm, @1srengenge), komedian (@dennycagur), praktisi periklanan (@subiakto), musisi (@ahmaddhaniprast, @piyu_logy, @abdeenegara, @anjiii_), politikus (@pramonoanung, @ganjarpranowo), motivator kocak (prie_gs), orang ganteng (@ruaien) dan masih banyak lagi.
Silakan sesuaikan dengan minat, follow mereka dan nikmati ilmu-ilmu baru yang tersedia secara gratis. Tak jarang tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas membuat kultwit atau kuliah twitter melalui tweet berseri. Bahkan sampai ratusan nomor. Acapkali mereka juga menulis tweet menarik di luar bidang mereka. Nikmati atmosfer ilmiah, budaya, musik, politik, agama dan hiburan dari barisan tweet yang sangat mudah untuk diakses bahkan dari sudut kamar sepi. Sayang sekali fasilitas yang menggugah ini tidak dimanfaatkan.
6.  Twitter adalah tempat rekreasi dan hiburan
Di kala penat, saat menunggu, baik menunggu kepastian maupun harapan yang tak kunjung datang, twitter merupakan media relaksasi dan rekreasi untuk sejenak melepaskan dari penat, pahit, dan getir kehidupan. Di twitter banyak sekali akun-akun humor yang bisa dengan mudah membuat kita tergelak. Jengkel di hati karena gebetan yang tak paham-paham kode, sekilas dapat terlupakan (walau habis itu jengkelnya muncul lagi. apalah ini).
Akun seperti @liputan9 dan banyak lagi lainnya, gemar sekali melemparkan tweet yang kocak dan menyebalkan. Banyak pula tersedia akun-akun yang mengunggah gambar-gambar keindahan alam, gambar binatang kiyut, gambar kendaraan anti-mainstream dan lain sebagainya. Hak prerogatif sepenuhnya ada pada twitter user untuk menentukan, apa itu definisi rekreasi dan hiburan, lalu tinggal jatuhkan pilihan pada akun untuk kita ikuti.
***
Twitter adalah fenomena baru. Media sosial dengan format micro blog ini disebut sebagai media yang sangat berpengaruh dengan beragam fungsi yang dimilikinya. Walau demikian, twitter hanyalah sebuah alat. Alat merupakan benda multidimensi dan multifungsi. Ia akan berguna atau berbahaya tergantung pada penggunanya.
Idealnya, para tweeps sebisa mungkin untuk menggunakannya dengan penuh tanggung jawab dan bijak. Sesuaikan waktu dan tempat pemakaiannya. Jangan sampai ia mengganggu hal-hal yang lebih membutuhkan perhatian. Begitulah kira-kira..



1 comment:

  1. Waaaahhhhh!
    Aku sih termasuk yang penggemar Twitter Yan. Dan iya, selain poin nomor satu, alasanku sama denganmu :D

    ReplyDelete