Wednesday, December 20, 2017

Mas Don, Mengapa Kau Tinggalkan Kami..

(sumber gambar: leftleave.org)
Tanggal 17 November 2017, akun resmi Instagram Ada Band mengumumkan Donnie Sibarani tidak lagi berposisi sebagai vokalis. Tidak seperti band lain yang menutupi keluarnya personel dengan bersembunyi di balik alasan ketidakcocokan, Ada Band menulis keluarnya Donnie karena yang bersangkutan ingin fokus beribadah. Satu lagi musisi yang menemani hari-hari, memilih jalannya sendiri..
Ada Band pertama kali saya kenal melalui lagu “Ough” di tahun 1999. Saat itu, Ada Band masih diperkuat Ibrahim Imran (Baim) sebagai vokalis merangkap lead guitar. Selain itu, ada Dika (bass), Iso (keyboard, suami Fla Tofu), E’el (drum, mantan suami Dea Mirella), dan Krishna Balagita (keyboard). Ketika itu, lagu-lagu Ada Band bernuansa rock dengan unsur elektronik yang disisipi lengkingan suara tinggi Baim. Lagu “Ough”, “Tiara”, dan “1000 Bayang” adalah beberapa hits yang sempat mereka lempar.
Tak berapa lama, formasi tersebut kocar-kacir. E’el dan Iso keluar, menyusul kemudian Baim. Tidak tanggung-tanggung, yang hengkang termasuk seorang vokalis, sosok yang sering dianggap representasi identitas band. Kontan saja, Ada Band terancam berubah nama menjadi Ngga Ada Band.
***
Ada Band rupanya masih eksis. Mereka tetap ada dan menawarkan vokalis yang sama sekali baru bernama Donnie Sibarani. Donnie berasal dari Surabaya dan belum tercium kiprahnya dalam dunia musik Indonesia. Ia benar-benar kinyis-kinyis.
Tapi jangan salah, Donnie langsung mampu memikat penggemar baru. Album-album Ada Band di era Donnie laris manis. Donnie hembuskan nafas baru bagi Ada Band. Mereka seperti terlahir kembali dengan konsep musik yang segar. Donnie membawa pengaruh besar.
Saat vokalis pergi, bayangan kehancuran band muncul di depan mata. Namun itu tidak terjadi pada Ada Band. Mereka mampu bertahan dan relatif lebih sukses daripada saat masih berjalan dengan formasi awal. Bahkan, kedatangan Donnie dapat dikatakan mengubah cetak biru musik mereka.
Era Baim dicirikan dengan sound-aransemen yang bernuansa rock, dan ini saya rasa demi mengimbangi karakter vokal Baim yang mudah menjangkau nada-nada tinggi. Sedangkan, Donnie dengan range suara antara bariton dan bass, dituruti personel lain melalui lagu-lagu pop manis melodius yang easy listening.
Lagu-lagu hits di era Donnie banyak dicetak oleh Krishna Balagita. Krishna pula yang bertanggung jawab dalam munculnya denting piano yang elegan dalam lagu-lagu mereka. Tanpa bermaksud menafikan peran personel lain, Krishnalah yang pantas disebut sebagai peletak dasar musik Ada Band era itu.
Langkah awal era Donnie ditandai dengan lagu “Masih (Sahabatku Kekasihku)”, sebuah pop anggun nan elite. Komposisi vokal Donnie yang lembut diiringi perpaduan rapi ritme gitar Marshal, bass Dika, melodi piano Krishna, dan tempo yang dijaga secara dewasa oleh Rama Moektio. Tak heran, lagu ini langsung menarik minat pendengar yang didominasi para gadis, mamah muda, dan lelaki berhati merah jambu.
Mulai dari sana, Ada Band seperti tak terbendung. Lagu-lagu maut dengan lirik yang dipikirkan masak dan musik yang santun terus saja diproduksi. Angka penjualan album stabil di angka tinggi.
***
Semua orang tahu, lagu mempunyai daya ungkit yang kuat hingga kenangan tiba-tiba menguar begitu saja. Begitu pula lagu-lagu Ada Band bagi saya. Di jejak-jejak kehidupan, lagu Ada Band hadir menghiasi dan di masa depan terpanggil kembali saat lagu diperdengarkan.
Lagu “Ough” tenar saat saya masih SD kelas 5. Lagu itu mengingatkan saat bersama paman dan kakak sepupu menuju sisi utara kecamatan kami. Perjalanan-perjalanan selama sekitar 30 menit itu rutin kami lalui seraya bercengkerama tertawa-tawa. Kami menuju ke sentra industri sale pisang dimana saat itu menjadi bisnis paman kami.
Lagu “Masih (Sahabatku Kekasihku)” mengingatkan situasi akhir-akhir SMP kelas 3 dan awal masa SMA. Lagu itu mengingatkan episode kegundahan buah konsekuensi problematika khas remaja tanggung. Video klip “Manja”, single kedua di album Metamorphosis dirilis saat saya memasuki usia kelas 2 SMA.
Saat memasuki pertengahan kelas 2 SMA, Ada Band merilis album Heaven of Love dengan hits single “Manusia Bodoh”. Lagu ini hiasi perjalanan kami menuju Bali dalam rangka study tour di Januari 2005. Kami gitaran, nyanyi, dan guyon tiada henti.
Lagu itu pula ingatkan masa lirik-lirikan dengan seorang gadis semampai. Maaf tak saya sebutkan ciri lain gadis itu, karena rahasia yang sekian tahun saya simpan di kalangan terbatas bisa-bisa bocor. Halah.
Begini, sebut saja gadis itu Marni. Yang saya yakini, Marni mencintai saya. Bagaimana tidak, lha dia ngirim salam duluan je. Bahasa tubuhnya jelas terlihat ungkapkan rasanya. Tenin!
Beribu petualangan kehidupan terlalui, lalu sampailah di jenjang akhir SMA. Di kelas 3 inilah saya temukan gadis yang kelak menjadi Bu Ryan. Di masa ini, terjawab pula keyakinan bahwa Marni memang menaruh rasa pada saya. Uhuk. Marni rupanya teman dekat Bu Ryan, lalu saat ia tahu Bu Ryan dan saya menjalin kasih, sontak ia tak sudi bertegur sapa dengan Bu Ryan. Ealah doi mutung, gaes..
Di masa awal dekat dengan Bu Ryan, lagu yang menemani adalah “Kau Auraku” dan “Setengah Hati”. Dua lagu yang sering kunyanyikan dengan genjrengan sambil membayangkan gingsul yang menyembul saat ia tersenyum. Uwuwuwu..
Sudah ya, kok malah tsurhat ngga penting ehe. Kembali ke Ada Band~
Di masa pertengahan menjelang akhir kelas 3, Ada Band merilis album Romantic Rhapsody. Album inilah yang telurkan lagu-lagu yang banyak munculkan kenangan bagi saya. Single pertama lagu ini adalah “Karena Wanita (Ingin Dimengerti)”.
Ada Band semakin berkesan bagi saya, karena rupanya Bu Ryan penggemar berat Ada Band. Dia ngefans banget sama Mz Donnie. Kata bijak bestari, apa yang disukai orang yang disayangi akan membuat kita turut menyukai. Begitulah kira-kira yang terjadi pada saya. Sebelum dengan Bu Ryan, musik cadas dan macholah yang menjadi kegemaran saya. Sejak dengannya, Ada Band ikut menambah khasanah musik saya.
***
Ringkas cerita, kami berdua sama-sama diterima kuliah di Bogor sana. Masa registrasi awal, mahasiswa dikumpulkan di Ghra Widya Wisuda. Di sini, mahasiswa ditanyai segala thethek bengek tentang biaya pendaftaran, mekanisme tes urine, dan lain-lain apa saja saya lupa. Di sela-sela itu, mahasiswa yang berani dipersilahkan menunjukkan bakatnya di atas panggung. Entah iblis apa yang merasuki Bu Ryan, ia yang pemalu tiba-tiba menuju panggung dan nyanyikan “Senandung Lagu Cinta” disaksikan ribuan pasang mata mahasiswa baru dan bapak ibunya. Turun dari panggung, seorang petugas keamanan berlari ke arahnya dan bertanya: “Mbak, itu lagu Ada Band yang baru ya?”
Setelah tunai urusan administrasi, kisah sejati masa kuliah dimulai. Kampus kami tak seperti kampus lain yang membebaskan mahasiswa akan tinggal dimana. Setahun pertama, kami diwajibkan menghuni asrama.
Saya mendapat jatah kamar paling ujung bernomor 270 asrama C3. Asrama putra mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama IPB ini terletak di tengah-tengah suasana yang jauh dari permukiman. Asrama kami dikelilingi pohon-pohon tinggi dan kicauan kutilang. Sejuk sekaligus ngelangut. Untuk ke pusat keramaian di Jalan Babakan Raya, tak kurang sekitar 1,5km harus kami tempuh berjalan kaki. Itulah pertama kali dalam hidup, tumit saya perlu diolesi Vaseline Intensive Care karena pecyah-pecyah.
Karena kami termasuk mahasiswa yang masuk lewat jalur tanpa tes, kedatangan kami mendahului mahasiswa jalur SPMB. Kami datang lebih dulu sekitar dua bulan sebelum mereka. Walhasil, suasana asrama yang terdiri dari lorong-lorong, tak jauh beda dengan suasana kuburan yang jarang diziarahi.
Di tengah kondisi seperti itulah Ada Band hadir melalui lagu “Surga Cinta” dari Nokia flip seri 6131 milik Giri, teman senasib asal Cianjur. Ia penghuni kamar 271, percis di depan kamar saya. Kamar itulah saksi masa-masa awal di Bogor dimana jadwal kuliah masih jarang, sebab kami hanya mendapat satu mata kuliah yaitu Kimia atau Matematika. Di sela-sela kuliah, saya sering ke 271 untuk bertukar cerita sebagai sesama anak rantau dan mengalunlah “Surga Cinta” disusul “Haruskah Ku Mati”. Giri, anjeun dimana ayeuna?
Beberapa hari lalu, “Surga Cinta” mampir di telinga karena jadi playlist teman seruangan. Seketika, ruang kerja menjelma menjadi kamar asrama. Meja komputer, buku-buku kerja, dan kursi berubah menjadi dipan tingkat, meja belajar, dan lemari-lemari yang kehilangan handle pintunya. Sehebat itu memang kekuatan lagu.
Saya mendapat kesempatan untuk secara langsung menonton konser Ada Band di Desember 2012 ketika mereka ditanggap di acara kantor kami. Saat saya tahu Ada Band menjadi pengisi acara, hal pertama yang saya perbuat adalah menghubungi Bu Ryan untuk pamer. Dia yang penggemar sejati justru kalah duluan bisa nonton Ada Band langsung dengan saya yang cuma nunut menggemari.
Kesempatan baginya tiba saat Ada Band konser bersama Sheila on 7 di Yogyakarta pada 20 Februari 2016. Konser itu saya rasa memang khusus dibuat untuk kami berdua. Lha gimana to, saya fans So7, dia fans Ada Band, kok ya mereka bisa konser bareng ‘kan. Kami girang sekali.
***
Ada Band yang sedang mapan-mapannya, tiba-tiba ditinggal Krishna. Kurang paham apakah ia keluar saat pembuatan album Harmonious (2008) atau sesudah album selesai. Yang pasti, di video klip “Baiknya” Krishna sudah tidak tampak.
Kehilangan Krishna adalah kehilangan besar. Menurut saya, kehilangan itu seperti O.M. Monata kehilangan Cak Slamet. Sebuah kehilangan fundamental.
Benar saja, pasca Krishna keluar, Ada Band terengah berjuang mencari-cari arah. Krishna terlanjur menancapkan kukunya terlalu dalam. Sepeninggalnya, Ada Band memilih untuk berjalan dengan tiga personel (Donnie, Dika, dan Marshal) tanpa ada pengganti Krishna, karena memang tidak terganti.
Dengan tertatih, Ada Band tetap berjalan dan pada 2011 memilih untuk merekrut secara tetap mantan drummer Tipe-X, Aditya Pratama. Mereka terus berkarya dengan musik yang lebih didominasi sound gitar Marshal. Sempat pula membawa konsep electronic dance music di album kompilasi Masa Demi Masa (2013). Saya masih sesekali mendengar kiprah mereka melalui “Pemujamu”, “Intim Berdua”, “Takkan Bisa”, dan “Kucuri Lagi Hatimu.”
Sekarang tanpa Donnie, Ada Band tetap bertahan. Terpantau, mereka sempat memakai additional vocalist wajah baru yang tidak terdeteksi identitasnya. Baru-baru ini, mereka beberapa kali memakai jasa Dudi (ex-vokalis Yovie & Nuno) dan saya setuju apabila Dudi direkrut menjadi vokalis tetap. Secara karakter, suara Dudi tidak jauh berbeda dengan Donnie. Misal fixed dengan Dudi, Ada Band bisa tancap gas tanpa perlu banyak penyesuaian. Lagipula, Dudi bukan orang baru di musik dan cukup berpengalaman. Kecuali, mereka ingin mengulang masa lalu dengan mengubah warna musik melalui vokalis yang sama sekali berbeda karakter.

No comments:

Post a Comment