Monday, February 26, 2018

Tips Hidup Bahagia Versi Cak Nun

(sumber: nytimes.com)


Di tengah zaman yang menggunakan materi sebagai standar utama ukuran kemuliaan, tidak heran rasanya apabila semua orang berlomba-lomba mencari dan menumpuknya. Perlombaan itu berjalan brutal tanpa aturan. Marka-marka ditabrak, rambu-rambu digasak.
Karena materi digunakan sebagai ukuran, maka yang dianut adalah yang terlihat, yang digugu hanya yang tampak. Firman Tuhan dan sabda nabi hanya sepintas lalu menghiasi pandangan dan pendengaran. Gairah yang menghegemoni saat ini adalah harta yang dimaknai sebagai sarana utama menuju kebahagiaan.
Jika memang harta merupakan satu-satunya sumber daya menuju kebahagiaan, seharusnya para hartawan akan hidup tanpa masalah. Tapi nyatanya, masih saja ada orang yang menurut prasangka umum seharusnya tidak memiliki masalah, justru wajahnya nyureng, justru nir-senyum, malah bunuh diri, justru korupsi, dan sederet pertanda lain yang memvalidasi bahwa mereka bukanlah orang bahagia.
***
Sebenarnya, bukanlah hal yang keliru bila posisikan harta sebagai sumber kebahagiaan. Yang salah, harta digunakan sebagai satu-satunya sumber. Apabila diposisikan sebagai lantaran tunggal, siap-siap saja kita akan diperhambanya. Sadar akan fenomena ini, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menyinggungnya dalam beberapa forum di berbagai tempat yang selalu dihadiri oleh ribuan – puluhan ribu pemirsa.  
Cak Nun berkata, apa yang terjadi sekarang ini sebetulnya adalah hilangnya parameter manusia untuk memaknai dan menjalani kehidupan. Karena telah kehilangan alat ukur, maka apa-apa yang terjadi berikutnya adalah ketidaktepatan koordinat pengambilan keputusan. Cak Nun secara sederhana ingin bantu menyicil meluruskan hal-hal yang berbelok dari fitrah kesejatiannya.
Menurut Cak Nun, hal pertama yang harus dilakukan agar kita bisa menyicip kebahagiaan ialah menerima dengan senang hati apa yang ada di depan mata. Cak Nun mengumpamakan, kalau yang ada tempe goreng, dinikmati saja tempe itu dengan sebaik-baiknya. Bukan mengangankan dan menginginkan sop buntut. Jika yang terpikir hanya sop buntut, maka kita sedang mendapat kerugian dua kali. Pertama, tempe menjadi tidak enak, dan kedua, sop buntut tetap tidak kita dapatkan. Nelangsa ‘kan?
Hal sederhana seperti yang diungkapkan Cak Nun seringkali kita lupakan atau bahkan sama sekali belum kita pahami. Cak Nun sedang mengajarkan bahwa segala hal yang terbaik ialah yang saat ini kita miliki. Sebab, hanya Tuhan yang paling tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Percaya saja, jangan-jangan sop buntut yang kita impi-impi itu mengandung anthrax, membuat keloloden, atau terselip di gigi sampai tusuk gigi model apapun tak mampu mencungkilnya..
Kedua, Cak Nun menyatakan bahwa hal yang harus diubah dari sebagian besar manusia jaman ini ialah tujuan hidupnya. Mayoritas, sekarang ini menjadikan uang sebagai tujuan utama. Padahal, setelah uang dijadikan tujuan utama, maka apapun dan cara apapun akan dipilih. Setelah itu yang terjadi hanya kedekatan dengan malapetaka.
Cak Nun menyarankan agar kita mengubah tujuan hidup. Tujuan hidup yang seharusnya adalah mencapai kebahagiaan. Setelah paham bahwa tujuan hidup adalah bahagia, maka segala pikiran, ucapan, tindakan, dan kebiasaan akan diarahkan menuju ke sana.
Kebahagiaan sebenarnya searah dengan apapun yang baik-baik dan sesuai tuntunan. Perilaku baik dan lurus akan membuat jiwa menjadi tenang. Berlawanan dengan itu, tindak tanduk yang salah akan tercatat dosa, kemudian dosa akan membuat jiwa menjadi resah, dan hidup tidak jenak. Secara akumulasi, dosa-dosa membuat nurani ternoda dan akan membuatnya lemah sebagai mekanisme kontrol kejernihan lahir batin.
Apa yang dikatakan Cak Nun memang benar dan saya telah membuktikan, setidaknya dari apa yang saya tahu dari seorang teman. Begini, sebut saja ada orang bernama Darno. Darno ini terkenal sebagai orang yang seenaknya sendiri dan relatif banyak konsekuensi yang lahir dari sikapnya itu.
Darno ini jenis orang yang menjadikan uang sebagai tujuan utama. Suatu saat, ia disuruh  memasang spanduk yang mengumumkan akan diselenggarakan sebuah acara. Darno pun berangkat memasang spanduk. Usai spanduk terpasang, Darno pun mendapat upah. Tahu apa yang diucapkan setelah menerima upah? Ia mengomel: “Upah kok mung semene. Dienggo pijet wae ra sedeng.” (Upah kok cuma segini, dibuat bayar pijet saja tidak cukup). Apes baginya, ternyata perkataan itu sampai ke telinga pemberi upah. Mulai saat itu, rekam jejak Darno tersebar ke seantero tempat Darno berada. Darno pun di-blacklist dan tidak ada lagi yang berminat menggunakan jasanya.
Di seberangnya, terdapat rekan Darno bernama Ratman. Ratman adalah tipe pekerja yang prigel, tipe yang apa saja mau mengerjakan, dan tidak peduli berapa yang akan didapatkannya. Ia pernah mengatakan kepada saya: “Saya yang terpenting menjalani apa saja yang halal, Mas. Nanti rejeki ‘kan ada.”
Dan lihat apa yang terjadi sekarang. Ratman terus saja terpakai jasanya. Lalu Darno? Darno sama sekali tak ada yang melirik dan terus saja nyinyir terhadap rejeki yang didapat Ratman. Ini nyata. Kisah Darno dan Ratman menuliskan fakta tentang perbedaan tujuan akan berbeda pula pada hasil dan produk turunannya.
Pada scope yang lebih general, Cak Nun pernah berpesan: “Tuhan tidak menuntut kita untuk sukses, Tuhan hanya menyuruh kita berjuang tanpa henti”.  Perkataan Cak Nun tersebut memantapkan kita untuk melakukan apapun secara sungguh-sungguh sampai batas maksimal, karena memang hanya sampai di situlah privilege yang kita miliki. Lalu, setelah itu yang kita lakukan tinggal tawakal dan berdoa, menunggu realisasi prerogatif Tuhan terhadap apa yang telah kita usahakan.
Perkataan Cak Nun di atas dapat kita gunakan sebagai pegangan bahwa kita harus terus berupaya, namun jangan dulu memikirkan hasil. Karena hasil telah ada di ranah kuasa Tuhan. Tidak dapat dimungkiri, seringkali kita berusaha sambil terus memikirkan bagaimana hasilnya kelak. Lha padahal itu mubadzir, membebani pikiran, dan menjauhkan dari kebahagiaan.
***
Memang, memang bergelimang harta sungguhlah manis sekali. Segala keinginan terpenuhi tanpa perlu menahan-nahan. Tetapi yang perlu diingat, default setting manusia adalah makhluk yang tiada pernah merasa puas. Bila terus memperturutkan, yang kita dapatkan hanya kelelahan jiwa raga yang terus-menerus mendera. Walhasil, bahagia semakin jauh dari jangkauan.
Kita seringkali melupakan apa yang telah dimiliki karena yang ada di pikiran hanyalah keinginan yang belum tercapai. Terus saja, sampai hal-hal di depan mata terlewati tanpa ternikmati, dan tahu-tahu kita sudah tua, lalu tersadar sebentar lagi harta sudah tiada berguna.
Belum ternikmati Avanza, tiba-tiba Rush tipe terbaru meluncur, terus panik, terus menyesal. Belum merasakan sensasi adrenaline menggeber Toyota 86, sudah kepingin Ferrari 458, terus lupa enaknya 86. Belum memaksimalkan kekecean Lamborghini Aventador, sudah kepincut Pagani Huayra. Kesengsem Bentley Continental sebentar, lalu baper saat Rolls-Royce rilis seri Phantom terbaru, padahal praktiknya itu odometer Bentley baru jalan berapa kilo. Begitu terus sampai Dilan berkeluarga.
Ada variabel lain yang terkadang terlupa dan pada batasan tertentu sama sekali tidak dapat kita lawan, selain nrima ing pandum dan mensyukuri karuniaNya. Variabel itu tiada lain jatah rejeki yang sudah tertulis. Maka, jangan heran kalau ada yang bisanya cuma beli Porsche Carrera dalam bentuk Hot Wheels dan menyetirnya di Need For Speed. Tapi ada pula yang beli Huracan cuma buat nongki-nongki di Kopi Joni.
Horas, Bang Hotman!

No comments:

Post a Comment