Monday, March 26, 2018

Perihal Ibu-Ibu dan Penyerobotan Antre

(sumber gambar: thetruthaboutguns.com)

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tak bisa terhindar dari kunjungan-kunjungan ke tempat yang mengharuskan untuk berbaris dalam antrean. Karena saking seringnya berada dalam keadaan tersebut, seharusnya kita telah fasih melaluinya. Tetapi nyatanya, masih terus terjadi perbuatan tidak menyenangkan penyerobotan antre dimana-mana. Untung saja pasal 335 ayat (1) KUHP telah dicabut oleh Mahkamah Konstitusi pada 2014 lalu huhuhu..
Contoh nyata terjadi saat saya sarapan di soto terkenal yang berlokasi di mBesi Jalan Kaliurang. Sekadar info, beberapa akhir pekan ini, saya pasrahkan kebutuhan gizi kepada warung yang soto ayamnya sungguh gurih itu. Soto itu punya sejawat berjenis tempe yang digoreng semu-semu gosong kemripik. Sebuah perpaduan maut yang mampu mengalihkan perhatian dari ramainya pemberitaan tentang pernikahan Chicco Jerikho dan Putri Marino.
Kembali ke masalah antre. Usai menyantap soto, saya menuju Bu Kasir yang sepertinya merangkap sebagai pemilik warung. Berbeda dengan beberapa kunjungan tempo hari yang tanpa antrean, sebelum menghadap Bu Kasir saya harus berada di belakang tiga orang yang berbaris dengan tertib.
Saat dua orang terdepan telah tunai membayar, dan tinggal satu orang di depan saya yang berproses membayar, sekonyong-konyong dengan keterampilan mumpuni dan kecepatan maha gegas, muncullah sesosok ibu paruh baya yang tiba-tiba sudah ada di depan kasir. Mengetahui itu, saya berekspresi biasa saja sambil tersenyum dimanis-maniskan, walau sebenarnya timbul niat untuk men-sleding tackle..
***
Budayakan antre” rasanya telah menjadi kampanye lawas yang seumuran dengan NKRI Harga Mati! dan Dua Anak Lebih, Baik!. Tetapi, tetap saja ada yang tidak mengindahkan pemeo sederhana itu. Hal sesederhana itu kok ya tidak beres.  
Tidak sekali saya mengalami penyerobotan antre, dan hampir di semua kesempatan pelakunya adalah ibu-ibu. Cerita-cerita tentang itu banyak berseliweran. Saya pernah membaca utas (thread) di twitter, perihal seseorang yang membagikan pengalamannya diserobot dalam antrean. Ia tidak sendirian, reply-an muncul bertubi-tubi dari penggiat twitter yang mengalami hal serupa. Dari sana diketahui lagi, ibu-ibu masih juara sebagai pelaku penyerobotan antre terbanyak.
Memang, belum pernah ada sensus resmi yang menyatakan ibu-ibu sebagai pelaku terbanyak serobot antre, namun pengalaman empiris berbunyi demikian. Mohon ibu-ibu jangan marah. Karena menurut saya, hal apapun pasti terjadi karena sebab-sebab yang dapat dijelaskan.
***
Korban penyerobotan adalah sosok-sosok yang tersakiti, dan tidak heran mereka mengungkapkan beragam ekspresi emosional sebagai respon spontan. Mereka mengaku dirugikan karena urusannya terganggu, lagi kepentingannya tertunda. Mereka protes kenapa penyerobot antre inginnya dimengerti dan tidak memikirkan orang lain yang sama-sama memiliki urusan.
Sebagai sama-sama korban penyerobotan, saya sungguh mengerti perasaan mereka. Saya paham tidak enaknya diserobot, lalu tak jarang ingin misuh dan men-sleding. Namun, hati nurani ini rupanya masih memiliki perspektif bening tentang mengapa sampai terjadi penyerobotan antre --yang dalam batasan kasus kali ini kebanyakan dilakukan oleh ibu-ibu.
Begini, ibu-ibu muncul sebagai pelaku penyerobot antre sebetulnya bukan tanpa alasan. Dan, karena saya dididik untuk selalu mencari sisi baik dalam segala peristiwa, maka saya mencoba berempati kepada para ibu pelaku. Karena bagaimanapun, mereka bukanlah kriminil yang melakukannya dengan niat busuk terorganisir. Saya yakin pula, ibu-ibu pelaku pasti pernah menjadi korban penyerobotan antre oleh ibu-ibu lain, ya ‘kan ya ‘kan? hayo ngakooo xixixi~
Ibu-ibu penyerobot sebenarnya mempunyai ciri khusus yang bisa dideteksi. Apabila dilihat dari bahasa tubuhnya, biasanya mereka terlihat grusa-grusu, buru-buru, dan heri --heboh sendiri. Ibu-ibu itu punya sorot mata yang tidak fokus, menyiratkan beragam problematika kehidupan. Mereka tampak memiliki sejuta rentetan urusan dalam daftar agenda di pikirannya.
Wahai para korban penyerobotan, untuk diketahui bagi yang belum tahu, dan diingat bagi yang terlupa, ibu-ibu adalah makhluk super. Mereka insan multitasking yang paripurna. Smartphone berprosesor Snapdragon 845 sih lewat. Ibu-ibu adalah menteri segala urusan.
Mereka memikirkan mulai dari fluktuasi harga ketumbar, sampai apakah sang anak bisa mengerjakan ulangan. Mereka mencemaskan apakah uang belanja nyampe tanggal satu bulan depan, sekaligus menunggu kabar keseruan rumah tangga Vicky Prasetyo dan Angel Lelga. Belum lagi mengkhawatirkan pelakor yang berkeliaran menggoda suami. Ditambah pula harus muring-muring menghadapi suami yang hobi mancing, touring, dan modif RX-King!
Urusan laki-laki tidak sekompleks itu. RAM laki-laki tidak cukup memadai untuk menyelesaikan masalah yang multivariat. Laki-laki hanya mampu berfokus pada satu urusan, baru kemudian berpindah ke urusan yang lain. Tak usah congkak menjadi laki-laki, karena mampunya cuma memikirkan bagaimana beli beras. Sedangkan ibu-ibu? Mereka memikirkan teknis menanaknya, memasak sayurnya, menggoreng lauknya, mengulek sambelnya, menyajikan semolek mungkin, belum lagi harus isah-isah, dan mengembalikan piring ke raknya. Plus, menenangkan anak rewel dan ngerokin suami masuk angin.
Jadi, kalau nanti ada ibu-ibu nyerobot antre, tolonglah anggap itu sebagai dinamika kehidupan yang biasa saja. Tak usah berlebihan menanggapinya. Sebab, jangan-jangan di saat kita ngomel karena ada ibu-ibu menyerobot antrean, kita menegurnya, dan ia memohon pemakluman, di tempat lain ibu kita juga sedang nyerobot antrean demi urusan yang menyangkut hajat hidup kita sebagai suami atau anaknya. Heheee..
Saya mengerti tidak enaknya antrean diserobot. Saya paham semua orang punya urusan dan memiliki ketergesaan masing-masing. Tapi di sudut hati yang lain, mohon ingat ada variabel-variabel yang menyebabkan penyerobotan antre oleh ibu-ibu. Sebagai penutup, mari kita renungkan kalimat yang berbunyi: “kesibukan ibu-ibu dimulai sebelum matahari terbit, sampai terbenamnya mata sang suami.”

No comments:

Post a Comment