Tuesday, July 24, 2018

Empat Hal yang Akan Terjadi Andai Jokowi dan Prabowo Berpasangan di Pilpres 2019

[Tweet saya tanggal 10 Juli 2018]

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Kamis (19/7) merilis hasil survei yang menyatakan Prabowo memimpin persentase calon wakil presiden yang paling tepat mendampingi Jokowi. Prabowo mendapat 12,7%, paling tinggi di antara tokoh lain seperti Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, AHY, dan Jusuf Kalla.
Hasil survei LIPI bisa dikatakan sangat mengejutkan, mengingat Jokowi dan Prabowo adalah dua tokoh yang berseberangan dan bersaing sejak pilpres 2014. Di pilpres 2019, sampai detik ini, mereka diproyeksikan tetap akan memperebutkan posisi RI 1.
Mengingat dinamisnya dunia politik, hal yang seolah tampak mustahil bisa saja tiba-tiba terjadi dan menjadi kenyataan. Demikian juga bersatunya Jokowi – Prabowo. Tema ini akan sangat menarik kita tunggu perkembangannya.
***
Walau mempunyai pilihan, saya pribadi tak pernah ikut dalam kubu Jokowi maupun Prabowo. Oleh karenanya, saya tidak berkepentingan untuk mendukung salah satu dari keduanya. Maka sejak jauh hari, sebelum LIPI merilis hasil survei, saya telah berandai-andai Jokowi dan Prabowo akan berpasangan di pilpres. Jika memang benar mereka dapat bersatu, maka akan melahirkan posibilitas yang patut dikaji bersama.
Kemungkinan pertama jika mereka bersatu, akan melahirkan pemandangan yang sangat elok bagi Indonesia secara keseluruhan. Nuansa perpecahan yang muncul sejak pilpres 2014 niscaya akan luruh, berganti dengan harmonisnya kita sebagai bangsa.
Tidak terbantahkan, pilpres 2014 yang hanya hadirkan dua pasang kontestan memunculkan polarisasi yang belum sembuh hingga kini. Kubu-kubuan masih terasa dan terbaca di perdebatan antar akun media sosial. Netizen mati-matian membela masing-masing idolanya. Bermedia sosial menjadi hal yang tidak lagi sama sejak saat itu.
Di media sosial, dimana sebelumnya kita bisa bergaul secara virtual, saling berbagi informasi, dan bertegur sapa, mulai 2014 menjadi bentuk yang benar-benar berbeda. Di sana yang ada di tiap harinya selalu kebencian dan saling serang. Saling caci dan fitnah tak terelakkan.
Di dunia nyata pun setali tiga uang. Di antara saudara sekandung bermusuhan dan tak bertegur sapa hanya karena berbeda pilihan. Bahkan terberitakan, sepasang suami istri memilih berpisah.
Sungguh mengerikan apa yang ditimbulkan kontestasi politik empat tahun lalu itu. Akal sehat dan logika tidak mendapat tempat. Yang menjadi dasar hanya suka dan tidak suka. Akhirnya yang timbul hanyalah permusuhan membabi buta.
Kedua, yang mungkin terjadi ialah munculnya keterperangahan massal. Hal itu terutama akan muncul dari pendukung kedua kubu. Mereka akan keki dan kaget setengah mati. Merasa sudah demikian banyak yang dikorbankan demi masing-masing idola, lha kok ternyata justru mak bedunduk sang idola berangkulan mesra sambil tertawa wqwqwq~
Sebenarnya, para pendukung fanatik merupakan kumpulan yang tidak dilandasi pemahaman yang matang dalam melihat dunia politik. Mereka terlalu lugu dengan menduga politik sebagai hal yang dapat ditinjau secara hitam putih. Padahal, politik adalah seni kemungkinan dimana apapun dapat terjadi dalam hitungan detik.
Dunia politik menyediakan dinamika yang seringkali di luar perhitungan. Yang sebelumnya tampak saling berseberangan, bisa saja kemudian berada dalam satu naungan. Yang terlihat hangat tak terpisahkan, tahu-tahu pecah kongsi dan tak mau berjumpa lagi. Tidak ada yang pasti dalam politik kecuali ketidakpastian itu sendiri, begitu kata para bijak bestari.
Ketiga, akan timbul kasak-kusuk terkait pembagian kekuasaan. Andai Prabowo berjodoh dengan Jokowi, wacana tentang siapa menduduki apa akan memakan cukup banyak energi dan waktu. Karena perjodohan berjalan dalam tempo yang tidak terlalu lama, maka akan cukup menimbulkan kegaduhan perihal potongan roti yang akan diberikan.
Jika memang terjadi, semoga saja perhelatan antrean mencari bagian tidak terlalu lama menyita perhatian. Semua demi agar roda pemerintahan segera berjalan. Diharap kepentingan bangsa dan negara masih berada di atas segala-galanya.
Keempat, yang patut ditunggu ialah siapa yang rela berbesar hati berada di luar lingkar kekuasaan dan memposisikan diri sebagai oposisi jika Jokowi – Prabowo menang. Dengan berpadunya Jokowi dan Prabowo, maka koalisi akan sangat gemuk sekaligus kuat. Minimal, Gerindra akan bersatu bersama PDIP, Golkar, PKB, PAN, Nasdem, Hanura, PPP, PSI, dan Perindo.
Tinggal ditunggu saja manuver PKS dan Demokrat. Tetapi, menilik arah angin, nampaknya PKS akan meninggalkan Gerindra dan memilih untuk membangun oposisi bersama Demokrat. Kenapa Demokrat memilih menjadi oposisi?
Perkembangan terakhir, SBY dan Prabowo telah bertemu. Pertemuan itu disinyalir membahas peluang bersatunya Prabowo dan AHY. Nah, jika Prabowo berbelok ke Jokowi, Demokrat tentu tak mau jatuh harga diri. Meski dengan berat hati, mereka akan memilih tetap di luar kekuasaan dan bersatu bersama PKS serta beberapa partai lain.
Lalu, kenapa PKS diyakini akan meninggalkan Gerindra dan tidak ikut di dalam kekuasaan yang sangat manis itu? Ah ya mosok tidak tahu xixixi~
***
Apapun yang akan terjadi, yang pasti, apa yang tertampil melalui survei LIPI dapat ditafsirkan sebagai adanya keinginan agar polarisasi yang selama ini terjadi di kedua kubu dapat mencair. Dengan bersatunya Jokowi dan Prabowo akan membuat nuansa perpecahan berubah menjadi atmosfer kebangsaan yang guyub.
Masyarakat sudah lelah dengan segala keributan. Kita semua ingin agar semua berdiri berdampingan dan berjalan beriringan, menatap masa depan Indonesia untuk menjadi bangsa yang disegani di pergaulan internasional.
Jika terus-terusan geger dan ribut urusan dalam negeri, lalu kapan kita berbarengan membangun dan menggasak musuh-musuh dari luar. Kita hanya bisa berucap, semoga bapak ibu yang terhormat di atas sana selalu meletakkan Indonesia di sudut hati terdalamnya.

No comments:

Post a Comment