Senin, 06 Agustus 2018

Hikayat Masuk Angin dan Malam Terburuk dalam Hidupku

(sumber: symmetrymagazine.org)

Jumat minggu lalu, semua berjalan baik, lancar, dan sesuai rencana. Pekerjaan berlangsung sebagaimana biasa. Sore hari, kami lalui dengan futsal sampai menjelang matahari pulang.
Hingga usai Isya’ hari seperti akan berakhir dengan sempurna, sebelum esok akan semakin indah karena disambut akhir pekan. Sekitar pukul 21.00, Bu Ryan menyajikan bakso yang ia racik dengan menambahkan mie sendiri. Mulai dari sana, Jumat membawa kisahnya..
***
Karena beberapa hari angin dingin Australi berembus sampai sini, bakso menjadi jodoh yang membuat malam dan hangat menjadi semakin sakinah. Sambil bersantai usai berbakso, saya tiduran karena lelah hasil futsal masih bersisa. Tak berapa lama, kenyang menjelma mual.
Sendawa pun tak kunjung terbit. Yang ada hanya mual dan ilham bahwa ini akan berakhir dengan keluarnya isi perut. Benar saja, tak lama setelahnya isi perut menyundul-nyundul minta dimuntahkan. Kecepatan yang tersisa dari futsal masih ada dan membuat saya sampai kamar mandi tepat waktu.
Karena saya tidak akrab dengan muntah, bahkan lupa kapan terakhir mengalaminya, saya baru tersadar betapa tidak enaknya muntah. Peristiwa yang diawali dengan mual itu disusul dengan rasa seperti ditinju di dada, dan berakhir dengan mengucurnya makanan yang berubah wujud menjadi nggilani.
Siksaan belum berhenti. Usai muntah yang pertama, muntah kedua meminta giliran. Iri mungkin. Asem tenan pakai ngiri segala.
Mual memang hilang. Tapi keluar dari kamar mandi, tulang-belulang terasa tak lagi di tempatnya. Sebab butuh upaya dan tenaga untuh muntah, keringat pun bercucuran. Tak berapa lama, sumuk berubah dingin. Badan lunglai sekaligus disemati fitur semi-menggigil. Sungguh, saat itu aku merasa ketampananku telah terenggut.
Perlahan badan mulai nyaman, walau masih jauh dari bugar. Kantuk mulai datang dan usaha merem dilakukan. Sedikit demi sedikit semua hilang bersama tidur~
***
Memang betul kata orang, tidur mampu menepikan masalah walau sejenak. Muntah dengan segala masalah yang dibawanya luruh bersama lelap. Tapi ingat, itu hanya sejenak.
Tak berapa lama setelah merem, serangan datang mewujud beda. Mual hilang, kruwes-kruwes datang.
Usus rasanya seperti dipuntir. Jika pernah mencuci piring dengan spons dan untuk melepas buih dari spons harus dengan meremasnya, maka begitulah mungkin wujud usus saya di dalam sana.
Kruwes-kruwes itu datang dan pergi. Setelah mak-kruwes, masih bisa merem sebentar. Nanti kruwes lagi. Begitu berulang kali. Iseng betul.
Rasa itu hilang setelah ada inisiatif Bu Ryan untuk meminumkan air putih hangat. Kantuk muncul dan baru terbangun setelah pagi.
***
Saat pagi tiba, mual dan kruwes-kruwes betul-betul hilang. Tetapi mereka tak mau pergi begitu saja. Mereka meninggalkan pesan melalui evolusinya menjadi diare.
Hasilnya, jika setiap Sabtu Minggu saya selalu merindukan sarapan di luar untuk menikmati hari, pagi itu tak ada yang namanya selera makan. Blas!
Menjelang Dzuhur, saya paksakan makan dan berhasil tandaskan satu piring. Tapi tetap belum ada keinginan untuk makan apa. Padahal, akhir pekan adalah hari jajan nasional bagi kami.
***
Yang terjadi setelahnya hanyalah usaha menganalisis mengapa semua keadaan menyedihkan itu menimpa. Keadaan itu seingat saya belum pernah sekalipun saya alami.
Hipotesis pertama, jangan-jangan saya keracunan kerang. Sore itu, Bu Ryan memasak kerang. Enak. Enak sekali. Kerang segar, tak ada bau khas menjelang busuk. Diputuskan, kerang bukan penyebab.
Kedua, masuk angin. Dan, dengan yakin inilah penyebabnya. Penyebab sistematisnya pun sudah kami susun alurnya secara manis.
Begini, saya bersama teman-teman rutin futsal seminggu dua kali di kantor. Oh ya, kantor kami memiliki fasilitas lapangan futsal. Mohon maklum kantor keren.
Jumat biasanya, kami sudah selesai tak lama setelah Asar. Jumat kemarin pengecualian. Futsal masih berlangsung sampai satu jam lebih lama dari biasanya.
Usai futsal, kami selalu mengobrol sekitar setengah jam sambil menunggu keringnya keringat. Jumat kemarin, karena sudah terlalu sore, saya tak sempat keringkan keringat, langsung ganti baju tapi terlupa melepas singlet, dan kembali ke ruang kerja berpendingin udara.
Pori-pori yang terbuka usai olahraga, singlet basah tak dilepas, dan ruang ber-AC adalah tiga kata kunci. Mereka bersenyawa bersekutu menjadi penyebab ilmiah malam terburuk dalam hidupku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar