Friday, July 13, 2018

Sebab Kekalahan Timnas Indonesia U-19 Melawan Malaysia

sumber: 123rf.com

Patah hati sekali lagi. Tim nasional (timnas) sepakbola Indonesia U-19 yang sangat saya cintai dan banggakan, harus merelakan impian yang lepas bersama kekalahan melawan Malaysia. Sungguh sedih dan menyesakkan. Harapan yang membumbung tinggi timnas akan merengkuh juara, pupus.
Jika harus meratap, maka yang patut diratapi tahun ini sebenarnya momentum yang pas untuk juara. Timnas kita hari ini diisi pemain yang tidak kurang suatu apa. Teknik individu pemain sungguh memukau. Juru taktik pun diisi Indra Sjafri, sosok berpengalaman dalam merintis pembangunan tim muda. Ditambah, saat ini kita berposisi sebagai tuan rumah. Pemain kita tak lagi sebelas, tapi plus satu, ditambah dukungan suporter yang menaikkan gairah kemenangan.
Walau memang mengecewakan, paling tidak pemain timnas telah menampilkan permainan yang indah. Mereka tidak pernah menyerah dalam menggempur pertahanan lawan. Fighting spirit istiqamah terjaga di grafik tertinggi dari awal hingga peluit akhir ditiup.
Permainan menghibur. Bola mengalir pendek dari kaki ke kaki, dan sesekali dilambungkan ke jarak di depan untuk memperbesar kemungkinan. Gaya main kita tak kalah cantik dari tiki taka ala Barcelona. Namun, apabila harus dicari kesalahan, maka sebenarnya tetap ada celah yang menyebabkan timnas kita belum berhasil lolos ke final.
***
Di awal babak kedua, Rivaldo Todd Ferre masuk menggantikan M. Rafli. Di situlah awal kecemasan saya muncul. Seharusnya, Rafli dipertahankan. Karena dia lebih cocok untuk ditempatkan sebagai target-man. Fisiknya cukup tinggi untuk menjemput umpan lambung melalui tandukan. Rafli juga lebih kuat berduel dengan bek Malaysia jika dibandingkan dengan Egy Maulana yang berfisik mungil.
Dengan masuknya Todd Ferre menggantikan Rafli, praktis Indonesia bermain dengan Egy sebagai ujung tombak. Dari sana nampak Indra Sjafri ingin memperkuat lini tengah. Todd Ferre diplot menjadi perusak pertahanan lawan berpadu dengan Saddil Ramdani. Argumentatif memang, karena Todd Ferre dan Saddil sama-sama memiliki dribbling yang mantap.
Pasca Todd Ferre masuk, memang lini tengah kita mampu menguasai permainan. Hanya saja mentok terus di depan kotak penalti lawan. Mereka hanya berkutat di tengah lapangan karena Malaysia disiplin menjaga zona mereka. Malaysia dominan menggunakan taktik zonal marking, dan karenanya kita sulit mencari celah lengahnya bek. Kelengahan akan lebih mungkin muncul jika Malaysia memainkan man-to-man marking.
Egy yang sendirian di depan sulit untuk mencari ruang tembak, sekalipun ia memiliki gocekan maut tiada dua. Egy yang berpostur mungil, seringkali mandheg ditebas bek lawan.
Egy, dengan kemampuan gocekan yang sangat baik, seharusnya lebih cocok diperankan sebagai pemain di belakang striker yang bebas bergerak kemana pun. Ia lebih pas diposisikan sebagai false nine, striker palsu. Sebagai false nine, Egy akan merusak konsentrasi lawan sekaligus membuka ruang, bahkan memberi assist untuk pemain lain, yang dalam hal ini Rafli yang terlanjur disubstitusi.
Dengan Egy sebagai penyerang tunggal, justru membuat Indonesia tumpul. Sedangkan, lini tengah yang kuat kesulitan mengacaukan lini tengah dan lini belakang Malaysia yang sangat determinatif.
Sebagai variasi, timnas berupaya melakukan tendangan spekulasi dari luar kotak penalti. Tapi beberapa kali berhasil diblok lawan. Selain itu, timnas juga beberapa kali melambungkan umpan silang melalui Firza, Saddil, maupun Witan. Karena postur Egy kalah jangkung dari bek lawan, umpan lambung terasa mubazir. Lagi-lagi, andai Rafli masih di lapangan, cerita mungkin akan berbeda.
Todd Ferre yang di partai melawan Filipina dan Vietnam tampil gemilang, di partai melawan Malaysia justru anti-klimaks. Kelincahan hilang, liukannya nir-hasil. Malaysia terlihat paham dengan tingkat bahaya yang diberikan Todd Ferre. Alhasil, ia selalu berada dalam radar perhatian lawan.
Saddil sebenarnya tetap bermain baik. Tapi karena pertahanan lawan bak gerendel, ia pun kesulitan lepas tembakan geledeknya. Giringan bolanya kerap kandas.
Egy yang menjadi tumpuan harapan, di samping memang kurang sesuai dengan taktik yang dimainkan, ia baru saja tiba dari perjalanan panjang dari Polandia. Kondisinya tentu belum prima dan pasti berpengaruh besar pada performa. Hal tersebut terbukti ketika menjelang akhir pertandingan, ia meringis kesakitan, diberikan perawatan, sebelum akhirnya digantikan Hanis Saghara. Masuknya Hanis pun tak mampu mengubah keadaan.
Pertandingan langsung dilanjutkan ke babak tendangan penalti. Tiga pemain kita gagal mengeksekusi. Malaysia menang 3 – 2. Untuk kegagalan adu penalti, tentu itu masalah mental. Ke depan, harus ada evaluasi mendasar agar pemain kita semakin kuat menghadapi tekanan sekaligus harapan besar seluruh bangsa Indonesia.
***
Timnas kita telah kalah. Kecewa, sangat kecewa. Tapi bukan berarti akan melunturkan kecintaan terhadap timnas kita. Di depan masih banyak pertandingan dan turnamen yang akan diikuti. Evaluasi-evaluasi akan terus dilakukan demi perbaikan berkelanjutan.
Kami siap selalu mendukung timnas, bahkan andai terus sedih atau dikecewakan. Karena cinta akan selalu memaafkan.

No comments:

Post a Comment