Rabu, 19 Desember 2018

Perjalanan Karierku sebagai Gitaris

(sumber: bbc.co.uk)

Entah mengapa sejak kecil saya sangat tertarik pada gitar. Padahal, di rumah tidak ada yang punya dan tidak ada yang bisa memainkannya. Gitar pertama saya adalah gitar plastik mainan yang saya pasangi tali agar bisa dimainkan sambil berdiri. Foto saya bergitar, berkaca mata, dan bertopi sampai sekarang masih tersimpan di album foto keluarga. Di situ saya sangat mirip Eric Clapton cilik usia empat tahun.

Bapak saya, satu-satunya lelaki di rumah, bukanlah pemusik. Tapi, beliau penikmat musik lintas genre dengan koleksi kaset bertumpuk-tumpuk.

Koleksi beliau mulai Queen, Beatles, Deep Purple, The Who, Cream, Led Zeppelin, Scorpions, dan Michael Jackson. Ada pula kaset lawak Basiyo dan Warkop. Untuk pop dalam negeri, Bapak punya edisi lengkap kaset Koes Plus seri Nusantara, Chrisye, LCLR Prambors, Ebiet G. Ade dengan Seri Camelia, Iwan Fals, Hari Mukti, The Rollies, OST. Badai Pasti Berlalu dan lainnya.

Dari sudut dangdut ada Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, Iis Dahlia, Meggy Z. Muchsin Alatas, Leo Waldy, dan Mansyur S. Ada pula murottal Muammar ZA, Maria Ulfa, kaset ceramah Zainuddin MZ, dan KH Qosim Nurseha. Tentu masih banyak kaset lain dan saya lupa apa saja.

Pokoknya, sebatas pengetahuan selama ini, Bapak saya ini paling luas referensi musiknya dibanding bapak-bapak lain yang saya kenal dan tahu. Maka, jangan heran jika kemudian beliau ini merangkap juga sebagai idola saya.

Suatu ketika, saat saya pulang ke rumah di masa liburan kuliah, daftar putar memainkan lagu Cintaku Tertinggal di Malaysia yang dinyanyikan Dewa 19. Bapak mendengar lalu berkata: “Lho iki ‘kan lagu Barat lawas, Bapak ana kuwi kasete!” Beliau pun bergegas ke lemari dan mengambil sebuah kaset dan lalu menyetelnya.

Terdengarlah lagu Ruthless Queen milik Kayak. “Piye, LeBener to lagune kuwi?” begitu sahut Bapak. Benar saja, belakangan diketahui Ahmad Dhani membeli lagu tersebut dan diganti liriknya.

Kembali ke gitar. Saya pertama bisa berhasil memegangnya secara langsung saat bertandang ke rumah kakak sepupu di Semarang. Saya langsung terpikat, memegang, dan menggenjreng senarnya. Tentu tanpa chord.

***

SD saya memiliki inventaris sebuah gitar akustik yang jika sedang tidak digunakan Pak Nur Ahsan (guru paling lucu, sekaligus galak, dan pandai bermain musik), ia digantung di dinding kantor guru. Saat saya memasuki kantor karena diperintah mengambil sesuatu, hampir dipastikan tangan saya menggapai gitar untuk sekadar merasakan sensasi menggenjreng. Sekali lagi, tanpa chord.

Hidup terus berlanjut dan musik senantiasa menghiasi. Kaset-kaset Bapak terus disetel dan menambah khazanah perbendaharaan musik saya. Sekadar info, saat TK, saya sudah pandai menyetel sendiri album Dangerous milik Michael Jackson. Jika saja kaset itu mampu berbicara, pasti ia akan protes karena lagu Black or White saya ulang tiada lelah.

Meski muncul dan hilang, impian untuk bisa bergitar terus terbangun. Hanya saja saya bingung, bagaimana cara dan dari mana saya bisa. Paman saya yang tinggal di sebelah rumah konon bisa, tapi gitarnya tak ada. Terus piye ‘kan.

Impian bisa bergitar seringkali redup bahkan sirna menghadapi realita yang tidak mendukung. Namun rupanya Tuhan mendengar ada setitik hambaNya yang mempunyai hajat estetis itu. Selain mendengar, Tuhan ternyata tidak tega.

Di belakang rumah, terdapat rumah mungil yang telah sekian lama kosong. Tak dinyana, entah darimana datangnya, tiba-tiba tiga lelaki bersaudara mengontraknya. Mereka tak terdeteksi asal muasalnya dan tidak diketahui nasab atau garis keturunannya. Sekonyong-konyong muncul menjadi tetangga.

Karena rumah kontrakan tidak memiliki sumber air yang layak, mereka menggantungkan kebutuhan pada sumur milik Mbah Kakung saya, yang sebenarnya menyumberkan air berwarna kuning dan agak berbau. Konon, ini karena tanah tempat rumah Mbah Kakung dan rumah kami yang bersebelahan, pada jaman dahulu adalah sebidang rawa. Oleh karena itu, sejak PDAM lahir, sumur kami pensiunkan.

Lokasi sumur persis di sudut belakang rumah kami. Karena Mas Wignyo, Mas Malik, dan Mas Joko sering melewati halaman belakang saat menimba, otomatis perkenalan dan lalu keakraban terjalin.

Rumah kontrakan, tiga lelaki bersaudara, dan sumur adalah mozaik yang menuju pada lengkapnya gambar yang disusun Tuhan. Mozaik itu membentuk gambar utuh yang menampilkan kabar bahwa Mas Wignyo punya gitar!

***

Tahun itu tahun 2001, saya duduk di kelas 2 SMP. Jaman itu jaman dimana musik Indonesia sedang ganteng-gantengnya. Dewa 19 baru saja bangkit dari mati suri dan merilis album Bintang Lima. Once dengan timbre suara dari antah berantah mengantar Dewa 19 meraih puncak kesuksesan. Seketika Ari Lasso terlupakan. Tio Nugros yang tampan itu paten pula sebagai penjaga tempo lagu-lagu dahsyat Ahmad Dhani --yang saat itu belum kenal politik dan Mulan Jameela.

Sheila on 7 baru selesai merilis album Kisah Klasik untuk Masa Depan, album kedua yang juga laku di atas satu juta keping. Padi juga sedang di kulminasi popularitas dan musikalitas. Album Sesuatu yang Tertunda membuat mereka semakin diperhitungkan dalam skena musik Indonesia.

Single hits Mahadewi (album Lain Dunia) yang meledak disusul tanpa ampun dengan dirilisnya Sesuatu yang Indah dan Semua Tak Sama (album Sesuatu yang Tertunda). Padi kontan mereguk kesuksesan besar dan masuk dalam jajaran band elite Indonesia, sejajar dengan Dewa 19, Slank, GIGI, Sheila on 7, dan jangan lupakan Jamrud yang setahun sebelumnya menggila lewat album Ningrat.

Indonesia saat itu masih punya MTV sebagai barometer musik berkualitas. Publik otomatis mendapat asupan musik-musik nutrisi tinggi hingga telinga menjadi sehat dan berkelas. Publik sebagai penikmat pun bergairah menyambut atmosfer musikalitas yang meletup-letup. Atmosfer itu pula yang terhirup oleh kami remaja-remaja tanggung yang hanya bermodalkan gaya.

Saya yang di awal SMP sudah memiliki selera musik sendiri, mulai merengek untuk dibelikan kaset. Berangkat dari pergumulan dengan kaset-kaset itu, juga MTV yang terus menampilkan musik bagus, gairah bisa bergitar semakin bergelora. Apalagi, gitar Mas Wignyo tersedia kapan saja untuk dijadikan sarana.

Meski si empu gitar adalah Mas Wignyo, sosok yang kemudian tampil mengajar saya gitar adalah Mas Agus Bogel, tetangga sebelah kontrakan Mas Wignyo. Mas Agus ini diketahui lama bergaul dengan kawan-kawannya yang anak band, hingga ia pun bisa bermain musik.

***

Setiap pulang sekolah, saya bertandang ke kontrakan Mas Wignyo, yang biasanya telah diisi juga oleh Mas Ganang dan Mas Agus. Mas Ganang ini saudara jauh kami asal Bekasi yang dipindahkan sekolah ke Purwodadi karena tiap minggu ada saja temannya yang tewas karena tawuran antar STM.

Mas Ganang juga pintar bergitar dan saat saya mulai belajar gitar, ia sedang gandrung memainkan Minority-nya Green Day dan Ketaman Asmara-nya Didi Kempot. Masih teringat bagaimana ia menyanyikan lagu Jawa itu dengan logat anak gaul Jakarte yang kental.

Awal belajar gitar, Mas Agus dengan telaten menuliskan chord-chord dasar di secarik kertas. Kemudian, jari saya dituntun untuk memencet titik-titik senar hingga sebuah chord terbangun dan menghasilkan bunyi.  

Karena saya senang, maka tiap hari saya ke Mas Wignyo untuk meminjam gitarnya. Tak berapa lama, penguasaan bergitar saya sudah lumayan. Lagu pertama yang bisa dengan lancar saya mainkan adalah Mahadewi (Padi).

(Bersambung ke tulisan kedua)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar